
Ragen yang sekilas melirik ke arah istrinya, pun mematikan laptopnya. Kemudian, ia bangkit dari posisi duduknya dan beranjak mendekatinya.
Entah ada angin apa, Ragen ikutan duduk di sebelah istrinya. Saat itu juga, Ragen langsung menyambar buku yang ada ditangannya.
Neta yang mendapati buku ditangannya telah dirampas suaminya, pun langsung menoleh.
"Kenapa, mau marah? sudah malam dan waktunya untuk istirahat. Jadi, abaikan buku ini."
Neta menghadap lurus ke depan dan menghela napasnya tanpa menatap suaminya.
"Aku belum mengantuk. Kalau kamu mau istirahat, istirahat saja." Jawab Neta menatap lurus ke depan, yakni sama sekali tidak menatap suaminya.
"Jangan bandel. Sekarang juga, cepetan cuci muka dan yang lainnya, lampu akan aku matikan." Ucap Ragen dengan datar.
Neta membuang napasnya dengan kasar, dan langsung bangkit menuju kamar mandi. Ragen yang berhasil mengusir istrinya, pun menyeringai tanpa sepengetahuan istrinya.
Neta yang terpaksa menuruti kemauan suaminya, pun hanya bisa nurut dan tidak ada penolakan apapun pada dirinya.
Ragen yang memang tidak mempunyai kerjaan, sambil duduk dirinya menunggu istrinya. Namun, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara dering ponselnya, lantaran sudah dihidupkan kembali ponselnya. Dengan cepat, Ragen langsung mengambil ponsel miliknya yang ada di atas nakas.
"Ameyara, benar-benar tidak ada kapoknya ini anak." Gumam Ragen dan langsung menerima panggilan dari mantan kekasihnya.
Karena malas bicara, akhirnya Ragen memilih untuk diam dan mendengar ucapan dari Ameyara.
"Apa! apa kamu sudah gila? kita itu sudah putus, dan juga tidak ada hubungan apapun diantara kita, paham."
Ragen langsung mematikan ponselnya dan melihat diluar pintu gerbang lewat balkon. Benar saja, rupanya Ameyara telah menunggu di depan pintu gerbang utama.
"Benar-benar bodoh itu anak, tidak ada kapok kapoknya dia." Gumamnya dengan penuh kesal saat mantan kekasihnya datang dengan berbagai rengekan.
Tanpa disadari, rupanya Neta telah mendengarnya meski sedikit samar-samar, namun ucapannya cukup jelas untuk di tangkap lewat indra pendengarannya.
"Siapa, kekasih kamu kah?" tanya Neta penasaran saat melihat suaminya yang tengah mengecek lewat balkon.
"Apa kamu itu sudah tuli, ha? minggir, aku harus memberi pelajaran padanya."
__ADS_1
Ragen langsung mendorong tubuh istrinya dan bergegas keluar dari kamarnya untuk menemui Ameyara yang sudah dijadikannya mantan kekasih.
Neta yang penasaran dan takut suaminya kenapa kenapa, dirinya langsung menyusul suaminya yang tengah terburu-buru menuruni anak tangga.
Ragen yang merasa kesal dan juga dongkol, segera melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
"Maaf, Tuan. Bahwa perempuan itu dari tadi meminta saya untuk membukakan pintu gerbang ini. Bahkan, dia juga sudah mengancam kami berdua, Tuan." Ucapnya dengan berani.
"Buka pintunya, Pak." Jawab Ragen dengan sorot mata yang terlihat seperti tengah dikuasai emosinya.
"Baik, Tuan."
Pintu pun terbuka, kosong tidak terlihat kalau ada siapanya. Seketika, Ameyara yang melihat pintu telah dibuka lebar, langsung masuk dan memeluk Ragen begitu kuat. Tiba-tiba Ameyara langsung menangis sesenggukan.
"Sayang, aku datang kesini mau menyampaikan pesan bahagia untukmu. Percayalah denganku, kalau aku tidak mempunyai kebohongan apapun terhadap dirimu." Ucap Ameyara yang masih dalam posisi memeluk erat pada Ragen.
Sedangkan Ragen sendiri yang merasa risih, pun mencoba untuk berlepas diri dari pelukan Ameyara.
Dengan tenaganya yang cukup kuat, akhirnya berhasil juga ketika dirinya mampu melepaskan pelukan dari perempuan yang sudah dianggapnya pengkhianat.
"Sayang, aku hamil anak kamu." Ucap Ameyara yang tanpa diketahui jika Neta telah mendengarkannya begitu serius.
Ameyara mengangguk dan seolah tidak mempunyai cara.
Ragen menyeringai saat melihat sesuatu yang tidak mungkin telah melakukan hal kotor, pikirnya.
"Pikir baik-baik lagi, dan kamu tidak perlu bermain licik terhadapku. Kapan kita melakukannya, ngaco saja mulut mu itu, pendek sekali akal kamu sekarang ini." Ucapnya dengan tatapan penuh kesal, dan seolah ingin mengusirnya.
Saat itu juga, Ameyara langsung menyodorkan sebuah amplop besar yang cukup tebal isinya.
"Didalamnya ada bukti akurat mengenai kehamilan ku, dan kamu harus bertanggung jawab sepenuhnya terhadap diriku. Juga, ada bukti yang jelas, bahkan ada rekaman kita berdua saat kita berada didalam hotel ketika kamu sedang mabuk berat." Ucap Ameyara.
Ragen yang menerima amplop tebal dari mantan kekasihnya, Ameyara langsung pergi begitu saja saat menyerahkan bukti.
Tanpa disadari oleh Ragen, rupanya ada sang istri dibelakangnya yang tengah mendengar pembicaraan sang suami dengan perempuan yang sempat ia dengar melakukan panggilan telepon dengan suaminya.
__ADS_1
Ragen yang semakin penat, pun kembali masuk ke rumah dan ke kamarnya. Nahas, saat memutarbalikkan badannya, ternyata Neta tengah berdiri di hadapannya.
"Siapa yang hamil, perempuan tadi itu kekasih kamu kah?" tanya Neta ingin tahu.
"Kamu tidak perlu tahu siapa perempuan tadi itu, kamu cukup jalani saja sebagai mana kalau kamu menjadi istriku, paham." Ucap Ragen dan segera masuk ke rumah dan diikuti oleh Neta yang berstatus anaknya.
Neta hanya bisa kembali diam, dan juga takutnya kurang tidur dan jadwal.
"Apa itu?" tanya sang ayah yang sudah berdiri dihadapan kedua putranya. Tentu saja, sang ayah pun penasaran dengan isi di dalam amplop tersebut.
"Bukan apa-apa, Pa, cuma kiriman barang saja." Jawabnya yang tidak ingin menambah pikiran orang tuanya.
Neta yang sudah berdiri di sebelah suaminya, pun berusaha untuk tetap tenang meski menyimpan sejuta rasa penasaran kepada suaminya. Lebih lagi soal ucapan yang di dengar oleh seorang perempuan yang datang menemui suaminya.
Cemburu, tidak ada rasa cemburu untuk Neta karena memang baru saja menikah, dan juga belum mengenal siapa suaminya.
"Oh, kirain Papa ada sesuatu yang mencurigakan. Ya udah, kembali ke kamar dan istirahat lah." Kata sang ayah kepada putranya.
"Baik, Pa, selamat malam." Jawab Ragen dengan anggukan.
"Selamat malam, Pa, permisi." Ucap Neta ikut bicara.
"Sudah malam dan waktunya untuk istirahat, istirahatlah." Jawab ayah mertua dengan anggukan.
Setelah itu, Ragen dan Neta segera bergegas kembali ke kamar.
Ragen yang sangat penasaran dengan isi di dalam amplop tersebut, ingin rasanya cepat cepat untuk melihatnya. Begitu juga dengan Neta, sama halnya menyimpan rasa penasaran, lebih lagi dengan isinya.
Sampainya di dalam kamar, Ragen membuang napasnya dengan kasar.
"Jangan bohongi aku, katakan yang sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu dengan perempuan tadi." Ucap Neta dengan berani.
Ragen langsung memutarbalikkan badannya dan menatap serius pada istrinya.
"Dia mantan pacarku, kenapa? kau cemburuan?"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak cemburu. Aku hanya menyayangkan dengan ucapannya tadi. Benarkah yang diucapkan mantan pacarmu, tadi? yakni telah hamil anakmu." Jawab Neta saat mendapat pertanyaan pada kalimat terakhirnya.
Lagi-lagi Ragen merasa dongkol saat mendapat pertanyaan serta seolah tuduhan dari istrinya, istri yang baru saja dinikahi, pikirnya.