Wasiat Jodoh Dari Paman

Wasiat Jodoh Dari Paman
Harus meladeni


__ADS_3

Neta yang disangka seorang asisten rumah, dirinya hanya bisa nurut dengan perintah Ragen karena tidak ingin bertambah masalah, pikirnya yang tengah dihantui dengan rasa takut yang sesungguhnya.


"He! kau dengar atau tidak, buruan taruh tas itu di ruang kerjaku." Bentak Ragen dengan tatapan kesal.


Sedangkan Bi Marini yang tidak ingin si Neta mendapat marah yang lebih besar, langsung menyambar tangannya, dan menariknya untuk menuju ruang kerja bosnya.


"Ayo, nanti keburu Tuan marah besar kalau perintahnya tidak segera dikerjakan." Ucap Bi Marini yang takut kenapa-kenapa, dan terpaksa harus menarik paksa pada Neta.


Sampainya di depan pintu ruang kerja, Bi Marini buru-buru untuk membuka ruang kerjanya dengan kode yang sudah dihafalkan.


"Maaf ya Nak Neta, jangan panggil Ibu, tapi panggil Bibi saja, ya. Pokoknya kamu harus hati-hati menghadapi Tuan Ragen, dia mudah berkata kasar, juga tidak lepas dari bentakan." Ucap Bi Marini yang berusaha untuk mengingatkan.


Neta yang berusaha berpikir dan mencerna di setiap ucapan Bi Marini, berharap tidak mendapatkan sial, pikirnya.


"Tapi Bu, eh maksudnya Bi. Nanti setelah ini saya harus bagaimana, Bi? saya sangat takut."


"Kamu tidak perlu takut, intinya nurut dan jangan membantah. Ya udah, kamu cepetan temui Tuan Ragen di ruang makan. Satu lagi, tetap tenang dan jangan mudah terpancing emosimu." Ucap Bi Marini mencoba untuk kembali mengingatkannya.

__ADS_1


"Makasih ya, Bi, udah ngingetin." Jawab Neta dan bergegas menuju ruang makan.


Sedangkan di sudut ruangan yang jaraknya cukup jauh, ada Leni merasa kesal saat dirinya tidak dibutuhkan. Berbeda dengan Neta, orang baru yang langsung dimintai membantu dirinya.


'Awas saja kamu, bakal aku balas pokoknya.' Batinnya sambil menahan kekesalannya.


Kemudian, Leni bergegas masuk ke kamarnya untuk istirahat. Berbeda dengan Neta, justru dirinya tengah mencoba untuk meyakinkan dirinya agar bisa.


'Semoga malam ini aku tidak mendapat sial, dan semuanya baik-baik saja." Gumam Neta sambil berjalan menunduk.


"Permisi, Pak. Maaf, saya mau panaskan dulu makanannya." Ucap Neta yang berusaha untuk tetap hormat, meski salah dalam panggilan kepada sang majikan, tentu saja siapa yang mendengarnya akan terasa aneh, pikirnya.


Saat itu juga, Ragen langsung mendongak dan menatap wajah ayu milik Neta yang polos, juga kebetulan menatap dirinya.


BRAK!


"Kau mengejekku? ha! kau panggil aku apa tadi? Bapak, kau bilang? Kau pikir aku ini bapaknya kau." Ucap Ragen dengan penuh kesal.

__ADS_1


Sedangkan seseorang yang tengah memperhatikan Ragen yang tengah duduk di ruang makan dengan jarak jauh, pun mengabaikannya, takut napsu makannya akan hilang, pikirnya.


Neta yang mendapat bentakan dari Ragen, pun benar-benar ada rasa takut, meski hanya masalah sepele.


"Terus, saya harus memanggilnya siapa, Pak? maksudnya saya, Bos."


"Terserah, males juga ngomong sama kamu. Sekarang cepetan kamu panaskan makanannya. Setelah itu, kamu temani aku makan sampai selesai, paham."


"Baik, Bos." Jawab Neta dan segera memanaskan makanannya. Kemudian, dirinya Menghidangkannya.


Setelah semuanya tidak ada yang dipanaskan, Neta mengambilkan satu porsi untuk bosnya.


"Duduk, dan jangan pergi kemana-mana." Ucapnya yang hendak menyuapi dirinya sendiri.


Neta yang tidak ingin mendapatkan marah, dirinya hanya bisa nurut dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja, pikirnya.


Cukup lama menikmati makan malamnya, tidak terasa sudah waktunya untuk istirahat, pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2