
Neta yang tengah diawasi oleh pak Zuber, hanya bisa menurutinya untuk mengambil tasnya.
"Kamu tidak perlu takut, ambil tas kamu sekarang juga. Saya akan menunggunya di sini." Ucap pak Zuber kepada Neta.
"Baik, Pak." Jawab Neta dan bergegas masuk ke kamar dan mengambil tasnya.
Sedangkan di ruang keluarga, Tuan Razid bersama istrinya tengah duduk bersantai sambil menunggu waktunya sarapan pagi. Namun sebelumnya Tuan Razid tengah membicarakan sesuatu kepada istrinya mengenai sosok Neta yang masih menjadi tanda tanya besar bagi mereka berdua.
"Ragen, kamu gak ke kantor?" tanya ibunya saat melihat putranya yang masih mengenakan pakaian biasa.
"Nanti, Ma. Lagian hari ini gak padat padat amat jadwal kerjanya, dan juga cuma setengah hari. Jadi, berangkatnya agak siangan dikit."
"Oh ya, Mama lupa. Ini kan, hari sabtu." Kata sang ibu yang baru mengingatnya.
"Itu di belakang kok kedengarannya rame, ada apa, Ma?" tanya Ragen penasaran.
"Itu, si Leni kehilangan uangnya ada sepuluh jutaan. Terus, dianya minta untuk melakukan penggeledahan di lemari maupun tas mereka semua. Jadi, Mama minta untuk berkumpul di belakang." Jawab ibunya.
__ADS_1
"Kehilangan uang sepuluh juta?" tanya Ragen memastikan.
"Ya, Kak, benar. Tadi di belakang dibuat heboh. Aku dan Mama segera ke belakang, dan katanya si Leni kehilangan uangnya sebesar sepuluh juta. Jadi, aku dan Mama menyetujuinya untuk melakukan penggeledahan." Sahut Ardan ikut menimpali saat dirinya baru saja keluar dari kamarnya, dan langsung menuju ruang keluarga.
"Oh, kirain ada apa rame-rame." Ucap Ragen, kemudian ia ikutan duduk.
Sedangkan Bi Marini yang buru-buru karena semua tas sudah dikumpulkan menjadi satu di belakang rumah, secepatnya untuk melapor kepada majikannya.
"Permisi, Nyonya, Tuan. Maaf, jika saya sudah mengganggu."
"Itu, Nyonya. Semua sudah kumpul di belakang rumah, dan juga tasnya sudah dikumpulkan menjadi satu." Jawab Bi Marini setengah menunduk.
"Tunggu sebentar ya, Bi. Nanti kita akan segera ke belakang. Sekarang Bibi boleh berkumpul bersama yang lainnya." Ucapnya.
"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya permisi, Tuan, dan Nyonya." Jawab Bi Marini dan bergegas kembali ke belakang bersama para asisten rumah.
Setelah itu, Tuan Razid bersama anak dan istrinya segera ke belakang untuk ikut memeriksanya. Sebenarnya sih tidak penting jika harus ikut memeriksa, namun disisi lain ada rasa penasaran dengan isi tas kepunyaan si Neta.
__ADS_1
Mudah dan tidak sulit untuk mengetahui siapa pelakunya yang sudah mengambil uang miliknya Leni, yakni lewat CCTV-nya yang tersembunyi.
Tetap saja, tujuannya untuk mengetahui isi dalam tas miliknya Neta, Tuan Razid bersama anak dan istrinya ikutan memeriksa tas milik para asisten rumahnya demi bisa mengetahui kebenarannya.
Setelah Bi Marini kembali ke belakang, Tuan Razid bersama anak dan istrinya segera ke belakang rumah, yakni ikut memeriksa.
Saat sudah di belakang rumah, semua asisten rumah tengah menunduk dan menyimpan rasa takut. Tentu saja, rasa takutnya kali ini mendapat jebakan dari seseorang yang tidak menyukainya.
Tidak hanya para asisten lainnya, namun juga Neta sendiri ikut was-was ketika dirinya dijadikan sasaran empuk oleh pelaku. Lebih lagi kedatangan dirinya hanyalah orang baru, dan bukan menjadi pekerja, tentu saja menyimpan rasa khawatir dan juga takut jika hal buruk akan menimpanya.
'Semoga saja aku tidak dijadikan sasaran oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Andai saja aku yang kena fitnah, aku harus meminta kepada pemilik rumah untuk menyelidikinya lewat rekaman CCTV-nya. Aku percaya jika setiap rumah akan ada CCTV yang tersembunyi.' Batin Neta yang penuh menyimpan rasa kekhawatiran.
Tuan Razid yang tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, langsung bicara pada pokok intinya.
"Sekarang berikan tas satu persatu kepada Pak Zuber, agar diperiksa dengan teliti. Selain itu, tidak ada yang berbuat curang, paham." Ucap Tuan Razid.
Semua mengiyakan atas keputusan yang ditentukan oleh majikan laki-laki.
__ADS_1