
Didalam ruangan privasi, Tuan Razid tengah ditemani putra sulungnya untuk mengecek isi dalam amplop tersebut.
"Papa yakin kah dengan perempuan tadi?" tanya Ragen.
"Ya, Papa yakin jika gadis tadi itu benar keponakannya Gowanda. Semoga saja tidak salah, dan pernikahan kamu akan dipercepat." Jawab Tuan Razid sambil membuka amplop tersebut.
Ragen yang mendengar perkataan dari ayahnya, pun benar-benar sangat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh ayahnya.
"Maksudnya Papa itu, apa? menikah, menikah dengan siapa?" tanya Ragen yang mendadak terkejut.
"Ya dengan gadis tadi itu, si Neta namanya." Jawab ayahnya saat lipatan selembaran kertas.
Ragen yang mendengar jawaban dari ayahnya, pun tak menyangkalnya.
"Menikah dengan gadis tadi? maksudnya Papa itu, perempuan yang barusan kasih Papa amplop?"
Tuan Razid mengangguk dan tersenyum, dan seperti hendak membaca lembaran kertas tersebut.
Ragen yeng mengetahui jika ayahnya sedang sibuk, dirinya lebih memilih untuk diam sambil menunggu ayahnya membaca surat wasiat dari pamannya Neta.
Tuan Razid begitu teliti dan juga dengan seksama ketika membaca surat wasiat dari pamannya Neta.
"Keluarga Langgada," ucapnya lirih meski tidak begitu mudah untuk ditangkap ucapannya.
"Maksud Papa itu, apa? sebenarnya tujuan Papa memintaku untuk menikah dengan perempuan tadi itu, apa untungnya, Pa? gak, enggak bisa, aku tidak mau."
Ragen langsung menolaknya mentah-mentah.
"Jangan begitu, memang kamu tujuan awal untuk dijodohkan dengan seorang gadis dari keluarga Langgada." Jawab Tuan Razid yang tetap bersikukuh dengan keputusannya.
"Aku tetap tidak bisa untuk menerima permintaan dari Papa, titik, apapun alasannya." Ucap Ragen yang juga tetap menolak.
__ADS_1
"Terus, kalau bukan kamu, siapa lagi?"
"Ardan juga bisa kan, Pa?"
"Ardan tidak tertulis dalam surat wasiat ini, didalam surat wasiat ini ada namamu, Ragenta Akmaja." Jawab Tuan Razid dan menyodorkan surat wasiat tersebut.
Ragen yang penasaran, pun langsung menyambar dan membacanya dengan teliti, dan tidak ada satu kalimat yang tertinggal. Benar saja, ternyata ucapan dari ayahnya benar adanya yang baru saja ia baca.
"Maksud dari wasiat ini itu, apa, Pa?" tanya Ragen kembali untuk memastikan jawaban dari ayahnya.
Sang ayah pun tersenyum ketika mendapatkan pertanyaan rasa penasaran pada putranya.
"Gadis yang bernama Netavani Langgada adalah pewaris tunggal. Ayahnya menyerahkan putrinya kepada adik dari istrinya untuk dirawat dan dibesarkan di desa."
"Alasannya apa, Pa?" tanya Ragen yang langsung bertanya.
"Alasannya, keselamatan Neta harus dijaga. Netavani adalah pewaris tunggal dari keluarga Langgada." Jawab Tuan Razid menjelaskannya kepada putranya.
"Tuan Herdian dan Tuan Zepi itu, tidak lain adalah anak angkat dari panti asuhan. Tetapi ketika besar menjadi orang yang tidak punya rasa terima kasih kepada keluarga Langgada. Dengan nekad dan berani, setelah kepergian kakek Langgada, mereka berdua sangat jahat dan dengan tega telah menghabisi kedua orang tuanya Netavani. Makanya, Neta sengaja dititipkan demi keselamatannya."
"Terus, apakah harta keluarga Langgada dikuasai oleh mereka berdua? yakni, Tuan Herdian dan Tuan Zepi."
Tuan Razid menggelengkan kepalanya.
"Tidak, mereka berdua mendapat haknya sesuai dengan yang diberikan oleh kakek Langgada. Sedangkan aset yang diwariskan untuk pewaris tunggal, kini berada ditangan orang kepercayaan keluarga Langgada. Jadi, semua aman dibawah kendalinya, yakni sampai pewaris itu datang dengan sidik jarinya, karena sebelumnya sudah meninggalkan sidik jari." Jawab Tuan Razid mengatakannya dengan sangat detail, tanpa disadari ucapannya terdengar oleh Netavani dan istrinya Tuan Razid, juga dengan Ardan sendiri yang kebetulan tengah berdiri di ambang pintu.
Tuan Razid yang merasa ada yang sedang berdiri di ambang pintu, langsung menoleh. Kemudian, Tuan Razid berjalan mendekati Netavani yang tengah berdiri disebelah istrinya. Sedangkan Ardan sendiri tengah berdiri dibelakang ibunya.
Kedua mata Ragen pun ikut mengekor kemana arah sang ayah berjalan, dan rupanya mendekati Neta.
"Akhirnya kamu mendengarkan semuanya, Nak, dan juga sudah mengetahui kebenarannya. Saya harap kamu bisa memahaminya dengan baik, dan tidak ada salah paham dengan apa yang sudah kamu dengarkan." Ucap Tuan Razid kepada Neta.
__ADS_1
"Jadi, saya berasal dari kota kah, Pak?" tanya Neta penasaran dengan asal usulnya.
Tuan Razid mengangguk.
"Benar, dan ayahmu mempunyai dua saudara angkat. Juga, telah mengincar mu untuk dijadikan alat agar harta keluargamu dapat diambil alih oleh mereka berdua. Jadi, kamu harus hati-hati ketika keluar dari rumah ini. Bahkan, pernikahan kamu akan dirahasiakan asal usul keluargamu." Jawab Tuan Razid menjelaskan.
Ragen masih menyimak, menolak pun juga percuma, pikirnya.
"Kenapa saudara angkat ayah saya begitu jahat, Pak? saya mendengar, bahwa orang tua saya telah dibunuh oleh mereka berdua, benarkah?"
Tuan Razid dengan terpaksa mengangguk dan menjawab dengan jujur.
"Benar, dan nyawamu mungkin saja akan mencari incaran empuk oleh mereka. Oleh karena itu, jaga dirimu dengan baik." Jawab Tuan Razid.
Ragen yang malas mendengar penjelasan dari ayahnya, dirinya memilih untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Minggir, aku mau lewat." Ucap Ragen, ibunya menghalanginya, sama seperti Ardan.
"Papa belum selesai membicarakan pernikahan kamu dengan Neta, tunggu sebentar saja." Jawab ibunya.
"Semua keputusan terserah Papa, aku tidak akan melakukan penolakan apapun, sekalipun harus menikahi gadis aneh ini." Ucap Ragen dan langsung mendorong tubuh Ardan agar menyingkir, dan dirinya bisa keluar dari ruangan tersebut.
"Kak,"
Ragen langsung menoleh.
"Kenapa? kamu mau menikahinya? silakan, dengan senang hati."
"Enggak, aku hanya ingin Kak Ragen ingat pesan kakek, itu saja." Jawab Ardan mencoba untuk mengingatkan pesan dari mendiang kakeknya.
Saat itu juga, rupanya Ragen langsung teringat akan pesan yang pernah disampaikan kepadanya, yakni bahwa dirinya sudah disiapkan jodoh kelak dewasa nanti. Benar saja, ternyata pesan dari kakeknya tidak lah salah, dan sangat benar. Jika dirinya tidak boleh jatuh cinta kepada perempuan lain, karena agar rasa cintanya hanya akan tertuju kepada perempuan yang akan dijodohkan dengannya.
__ADS_1