
Ragen berjalan mendekati istrinya.
"Sudah malam, lebih baik kamu tidur, tidak usah menggangguku, paham." Ucap Ragen pada istrinya.
"Baiklah, selamat malam." Jawab Neta yang akhirnya memilih untuk istirahat daripada harus berdebat dengan suaminya.
Kecewa itu sudah pasti. Siapa orangnya yang tidak kecewa menikah dengan lelaki yang tidak dikenalinya, justru sudah ditunjukkan masalah.
Bagai menelan pil pahit tanpa air minum, pahit dan susah untuk ditelan ketika mendengar kata hamil, tentu saja langsung terngiang di telinganya.
Ragen yang penasaran dengan isinya, pun memilih untuk pergi ke ruang kerjanya agar lebih leluasa untuk melihat isinya. Sedangkan Neta sendiri tiduran di tempat tidur sambil memikirkan sesuatu berupa amplop yang akan di buka oleh suaminya.
"Benarkah suamiku menghamili perempuan tadi? kalau iya, apa yang harus aku lakukan? bercerai, haruskah aku bercerai?" gumam Neta sambil meringkuk dengan memeluk guling.
Sedangkan Ragen yang tengah membuka amplop tersebut, langsung merogoh isinya dan melihatnya dengan sangat jelas.
Saat itu juga, Ragen benar-benar sangat terkejut saat melihat foto yang ada dirinya bersama Ameyara. Sungguh benar-benar tidak menyangka akan hal tersebut.
Tidak hanya foto saja, bahkan bukti kehamilan juga ia terima.
"Bukan, ini bukan aku. Aku yakin, Ameyara telah menjebak diriku. Ini bukan aku, ini hanya rekayasa saja. Berani-beraninya kamu mau berurusan denganku, Ameyara. Awas saja, aku akan mencari buktinya. Kalau sampai aku menemukan bukti kebenaran, tidak segan-segan untuk menjebloskan kamu dalam penjara." Ucapnya lirih, bahkan ucapannya kali ini dapat didengar oleh ayahnya yang memang sengaja menemui putranya di ruang kerjanya, lantaran pintu yang lupa untuk dikunci.
"Siapa yang menjebak mu, Nak?" tanya sang ayah yang tengah mengagetkannya.
Ragen benar-benar kaget dan langsung memutarbalikkan badan. Saat itu juga, foto foto yang ada ditangannya, pun jatuh ke lantai.
"Pap-Papa,"
Tuan Razid langsung melihat apa yang dijatuhkan oleh putranya, dan sangat terkejut melihat foto tersebut. Rasa penasaran yang akhirnya membuat Tuan Razid berjongkok dan mengambil foto tersebut yang ada di lantai.
Ragen langsung ikutan berjongkok untuk menyambar foto tersebut agar ayahnya tidak murka dan marah besar terhadap dirinya.
"Apa!"
__ADS_1
Seketika, Tuan Rasa langsung mendongak dan menatap tajam pada putranya.
"Pa, ini jebakan, Pa. Percayalah denganku, aku hanya dijebak. Ini semua hanya rekayasa, tidak ada yang benar." Ucap Ragen yang tidak ingin mendapat tuduhan dari ayahnya.
"Bohong, kamu sengaja membohongi Papa. Dimana otak waras mu itu, Ragen? sampai kamu tega membohongi keluarga." Jawab Tuan Razid yang tiba-tiba bagian dadanya terasa sesak untuk bernapas.
Bahkan, rasa kecewa pun telah dirasakan oleh Tuan Razid.
"Pa, ini hanya rekayasa. Ameyara memang pacarku, tapi aku tidak pernah melakukan apapun dengannya." Ucap Razid menjelaskan.
"Terus itu foto, punya siapa kalau bukan kamu. ini juga, hasil pemeriksaan kehamilan. Terus, apa lagi yang kamu sembunyikan, Ragen? mengelak dan tidak mau mengakuinya kah?"
"Pa, tolong percayalah denganku. Aku memang saat itu mabok, tapi aku ada kesadaran. Itupun aku langsung pulang, dan pakaian ku itu entah siapa yang mengenakan. Karena waktu itu ada yang mengganti bajuku, dia seperti pelayan di hotel itu. Kalau Papa tidak percaya, kita bisa lihat lewat rekaman CCTV di hotel itu, adakah aku di sana?"
"Baiklah, sekarang juga kita segera pergi ke hotel."
"Pa, ini malam, waktunya untuk istirahat. Tentu saja tidak akan mendapatkan izin." Kata Ragen.
Lebih lagi sebuah harga diri, tentu saja harus dipikirkan baik-baik oleh Tuan Razid sebelum pernikahan berlanjut lebih lama.
"Pa, ini sudah malam."
"Kenapa kalau sudah malam, ha? kamu takut, kalau ternyata kamu sudah membohongi Papa dan Mama, juga nama keluarga Akmaja dan keluarga Langgada, iya kah?"
"Terserah Papa, karena aku tidak pernah berbohong di hadapan Papa maupun Mama, juga di hadapan keluarga Akmaja sendiri." Jawab Ragen yang tetap bersikukuh jika dirinya bukan pelakunya.
Tuan Razid yang tidak mau lama-lama menunggu, akhirnya langsung menarik tangan putranya untuk pergi ke hotel.
Sedangkan di rumah lain, ada beberapa orang tengah tertawa lepas karena kemenangan akan berpihak padanya.
Sedangkan Tuan Razid yang sudah tidak sabar, pun masih menarik putranya hingga sampai di ruang keluarga untuk mengambil ponselnya.
"Loh, Papa mau kemana?" tanya sang istri kepada Tuan Razid dengan penasaran.
__ADS_1
"Mama cukup di rumah saja, biar Papa dan Ragen yang akan pergi." Jawab Tuan Razid.
"Pergi, pergi kemana, Pa?" tanya Ardan yang saat itu juga baru saja keluar dari kamarnya.
"Tidak ada apa-apa, ini hanya masalah Papa dengan kakak kamu. Lebih baik kamu dan Mama di rumah saja, jangan khawatir, tidak akan ada apa-apa." Jawab Tuan Razid yang tetap menjaga nama baik putranya di hadapan anak dan istrinya.
"Tapi, Pa."
"Tidak ada tapi tapian, kalian berdua di rumah saja." Kata Tuan Razid.
Neta yang juga baru saja keluar dari kamar, pun hanya bisa diam. Meski tahu tujuan perginya sang suami bersama ayah mertua, Neta sendiri tidak bisa berkata apa-apa.
Begitu juga dengan istrinya Tuan Razid dan Ardan, keduanya hanya bisa mengiyakan.
Tidak ingin membuang-buang waktu, Tuan Razid bersama Ragen segera pergi ke hotel untuk mengetahui kebenarannya.
Sedangkan Neta memilih kembali ke kamar.
"Kakak ipar! tunggu." Dengan berteriak, Ardan memanggil kakak iparnya dengan sengaja untuk menghentikan langkah kakinya yang hendak menapaki anak tangga.
Ibu mertua dan adik iparnya berjalan mendekatinya. Neta segera balik badan.
"Mama, Ardan."
"Kamu tahu, Papa dan suami kamu mau pergi ke mana?" tanya ibu mertua penasaran.
Neta menggelengkan kepalanya.
"Tidak tahu, Ma. Soalnya tadi Neta lagi dikamar." Jawab Neta yang akhirnya terpaksa berbohong karena tidak ingin masalah semakin rumit, pikirnya.
"Kamu sedang tidak membohongi Mama, 'kan?"
Neta yang tidak terbiasa berbohong, lidahnya seolah terasa kaku. Bahkan, dirinya sendiri merasa bersalah karena sudah membohongi ibu mertuanya sendiri.
__ADS_1