Wasiat Jodoh Dari Paman

Wasiat Jodoh Dari Paman
Menolong


__ADS_3

Neta yang terpaksa harus berjalan kaki sampai ke tempat tujuan, harus berhati-hati di setiap langkah kakinya.


Sepanjang menyusuri jalanan, Neta mulai merasa takut. Namun mau bagaimana lagi, dirinya tidak menemukan penjual apapun di setiap jalan yang ia lalui.


"Lampu merahnya masih jauh apa ya, perasaan dari tadi belum sampai juga. Mana mendung lagi, kalau sampai hujan, aku harus gimana? tau gini aku gak milih ke kota." Gumamnya sambil menyusuri jalanan dengan perasaan takut.


Belum juga sampai di lampu merah, tiba-tiba kedua matanya tertuju pada dua orang lelaki yang terlihat menyeramkan saat menghadang ibu-ibu paruh baya di lorong jalan lintas.


Neta yang melihatnya, pun langsung berlari untuk memberi pertolongan kepada ibu-ibu paruh baya yang terlihat ketakutan.


"Lep-lepas-kan! em."


Saat itu juga, mulut ibu itu langsung di bekap. Susah payah untuk meminta pertolongan, dan juga untuk berusaha memberontak. Namun, tenaga dua orang preman tersebut jauh lebih kuat tenaganya.


Sedangkan lelaki yang satunya tengah mengikat kedua tangan ibu tersebut dengan buru-buru.


Dengan tenaganya yang super ekstra, Neta langsung berlari dan melayangkan sebuah tendangan kepada salah satu preman tersebut hingga terpental menghantam dinding dan jatuh tersungkur. Kemudian dengan sigap, Neta kembali menendang yang satunya.


Nahas, ketika Neta hendak menendang lelaki yang satunya, justru lelaki itu langsung menyambar kaki Neta. Dengan ilmu bela diri yang ia kuasai, Neta tidak ambil diam dan langsung menggunakan tenaganya. Neta langsung mencoba mengeluarkan tenaga agar bisa sama-sama jatuh dan dapat melepaskan kakinya.


Benar saja, hanya sekali saja, lelaki itu pun ikutan terjatuh bersamaan dengannya. Tidak ambil diam, Neta langsung menghajarnya dengan sekuat tenaganya hingga lelaki itu babak belur oleh Neta.


"Ayo! sini kalau berani, aku menantang kalian." Bentak Neta yang sudah memasang aba-aba, yakin sudah siap untuk menerima serangan dari kedua lelaki tersebut.


Tidak ingin urusannya semakin panjang dan dapat di dengar oleh banyan orang, akhirnya segera pergi sebelum masa pada datang. Juga, merasa takut dengan tenaga super yang dimiliki oleh Neta.

__ADS_1


"Ma! Mama! Mama!" teriak sosok laki-laki yang tengah mencari keberadaan ibunya.


"Ardan! Mama ada disini, Nak." Panggil ibunya dengan suara yang cukup keras, juga dengan kondisi tangannya yang terikat.


Ardan yang merasa namanya dipanggil, langsung menoleh ke sumber suara. Saat melihat ibunya berada di lorong jalan, langsung berlari untuk memastikan Kondisi ibunya.


"Ma, Mama tidak apa-apa, 'kan?" tanya Ardan yang langsung melepaskan ikatan tali ditangan ibunya.


Ibunya menggelengkan kepalanya, Ardan langsung memeluk ibunya dengan erat. Kemudian, Ardan melihat sosok perempuan dengan penampilannya yang sangat sederhana itu tengah menenteng tas bawaannya.


"Perempuan itu siapa, Ma?" tanya Ardan saat melihat Neta sambil membenarkan penampilan yang berantakan akibat menyerang dua lelaki preman.


"Dia yang menyelamatkan nyawa Mama, juga Mama tidak kenal siapa dia." Jawab Ibunya yang masih ada rasa takut, karena dalam pikirannya ada kerja sama dengan kedua preman yang hampir membawanya kabur.


"Kamu siapa?" tanya Ardan sambil mendekatinya.


Ardan masih menyimpan kecurigaan terhadap perempuan yang sudah menyelamatkan ibunya.


"Yakin? bukan komplotan orang yang mau menculik ibuku."


Neta menggelengkan kepalanya, sedangkan ibunya Ardan hanya diam karena takut apa yang ada dalam pikirannya itu adalah benar. Yakni, orang yang sudah diajak kerja sama dengan kedua preman tadi.


"Yakin, Pak. Tadi saya tidak sengaja melihat ibunya Bapak sedang di ganggu oleh dua preman. Saya langsung menghajar dua laki-laki preman tadi. Saya dari kampung, dan saya pergi ke kota ini lagi nyari alamat rumah. Maaf, saya harus pergi." Jawab Neta yang tiba-tiba menjadi takut ketika berurusan dengan orang lain, apalagi perbedaan dengan status sosial, membuat Neta takut dijadikan umpan oleh orang yang tidak mau bertanggung jawab.


Kemudian, Neta langsung bergegas pergi.

__ADS_1


"Tunggu."


Neta menghentikan langkah kakinya. Kemudian, Ardan segera mendekatinya lagi karena penasaran. Tentu saja ingin tahu alamat mana yang akan dituju oleh perempuan yang sudah menolong ibunya.


"Jangan takut, aku bukan orang jahat. Sebelumnya aku berterimakasih padamu, karena sudah menyelamatkan ibuku. Bolehkah aku melihat alamat yang akan kamu tuju? siapa tahu saja, aku bisa membantumu." Ucap Ardan.


"Ya, Nak. Terima kasih banyak ya, kamu sudah menyelamatkan nyawa saya. Kalau boleh tahu, kamu mencari alamat rumahnya siapa? Apakah alamat rumah majikan kamu?"


Neta menggelengkan kepalanya.


"Sebentar ya, Bu, Pak. Saya ambilkan dulu alamatnya." Jawab Neta dan segera mengambilnya dari tasnya.


Ardian dan ibunya tengah menyimpan rasa penasaran.


Setelah mengambil dari dalam tas, Neta memberikannya kepada Ardian.


"Ini, Pak." Ucap Neta sambil menyodorkan kertas kecil yang bertuliskan alamat yang dicari.


Dengan seksama, Ardan membaca alamat tersebut tanpa ada yang tertinggal satu kata pun.


Ardan langsung mendekatkan jarak pandangannya pada tulisan itu, sungguh tidak menyangka jika yang ada dalam tulisan itu adalah alamat rumahnya sendiri. Kemudian, Ardan menyerahkan kertas itu pada ibunya.


Ardan kini memperhatikan Neta seperti menyelidik, sedangkan Neta sendiri merasa risih ketika diperhatikan secara detail.


Ibunya Ardan tidak kalah terkejutnya saat melihat tulisan di kertas kecil yang ada di tangannya.

__ADS_1


Kemudian, ibunya Ardan mendongak dan memperhatikan Neta, sama halnya seperti Ardan.


__ADS_2