Wasiat Jodoh Dari Paman

Wasiat Jodoh Dari Paman
Ketahuan atas kebenarannya


__ADS_3

Semua asisten rumah tengah khawatir akan nasib mereka yang bisa saja dijadikan sasaran empuk oleh salah satu asisten rumah.


Neta yang juga dihantui rasa takut, pun berusaha untuk tetap tenang.


"Pak Zuber, tolong periksa semua isi dalam tas, dan jangan sampai ada yang tertinggal." Perintah Tuan Razid kepada orang kepercayaannya.


"Baik, Tuan." Jawab pak Zuber.


Setelah itu, pak Zuber melanjutkan pemeriksaan. Satu persatu telah diperiksanya dan tidak ada yang tertinggal sedikitpun didalam tas masing-masing milik para asisten rumah.


"Lega rasanya, rupanya tas aku baik-baik saja." Ucap salah satu asisten rumah sambil mengusap dadanya merasa lega.


Setelah itu, dilanjut kembali untuk pemeriksaan yang lainnya.


"Sama, Yun, aku juga lega, rupanya tas aku aman." Sahut yang satunya ikut menimpali dan merasa lega.


"Ya, aku juga lega. Rupanya tas kita baik-baik saja." Ucap sebelahnya lagi yang juga merasa lega.


Tidak hanya mereka bertiga saja, rupanya Bi Marini juga ikutan merasa lega karena tidak menjadi tersangka oleh orang yang tidak bertanggung jawab.


Namun, tiba-tiba Bi Marini yang melihat ekspresi Neta yang dipenuhi dengan rasa khawatir, pun merasa kasihan. Lebih lagi saat Bi Marini mengetahui ketidaksukaan Leni kepada Neta, tentu saja ada rasa khawatir jika Neta yang akan menjadi sasaran empuk oleh orang yang tidak bertanggungjawab.


"Kamu tenang saja, dan kamu tidak perlu takut dan khawatir. Sekalipun kamu di fitnah, kamu tetap aman, karena Tuan dan Nyonya sangatlah bijak. Percaya saja sama Bibi, kamu jangan takut." Ucap Bi Marini meyakinkan.


Neta mengangguk pelan.


"Ya, Bi, makasih." Jawab Neta tetap dihantui rasa takut.


Pak Zuber yang masih memeriksa, tetap menggeledah sampai tidak ada yang tersisa didalam tas.


"Sekarang tinggal yang terakhir, berdoa saja untuk pemilik tasnya." Ucap pak Zuber saat hendak membuka tas miliknya Neta.


Semua bertanya tanya, milik siapakah tas tersebut?

__ADS_1


Neta yang melihat pak Zuber akan membuka resleting tas miliknya, langsung memejamkan kedua matanya. Takut, jika ada uang didalam tasnya.


Pak Zuber yang baru saja membuka resleting tas miliknya Neta, Tuan Razid bersama anak dan istrinya justru penasaran ada rahasia apa di dalam tas tersebut, bukan ada uang senilai sepuluh jutanya.


Seketika, semua terbelalak saat Pak Zuber mengambil satu ikat uang dari dalam tas miliknya Neta. Sungguh, tak menyangka jika di dalamnya ternyata ada uangnya.


"Oh! kamu malingnya."


Dengan lantang, Leni langsung memberi tuduhan kepada Neta. Namun, Ardan langsung menyetop kepada asisten lainnya untuk tidak meneriakinya.


"Stop! tolong geledah lagi dalam tasnya, keluarkan semua isi didalam tasnya." Perintah Ardan kepada Pak Zuber.


"Baik, Tuan." Jawab pak Zuber, sedangkan Neta sendiri tidak menolaknya. Lagi pula isi dalam tasnya hanya ada selembar foto kenangan keluarganya, dan sebuah amplop kecil yang memang dilarang untuk dibuka, dan dikhususkan untuk si penerima.


"Tuan, perempuan ini sudah mencuri uang saya. Tapi kenapa, kenapa tidak Tuan marahi." Ucap Leni yang sudah berdiri di dekatnya Neta.


Tuan Razid langsung memberi kode dengan telapak tangannya, yakni untuk diam.


"Pak Zuber, cepat geledah semua isi dalam tasnya. Untukmu Leni, kamu ikut Ardan sekarang juga ke ruang kerjanya. Sedangkan untuk yang lainnya, lanjutkan pekerjaan kalian masing-masing." Perintah Tuan Razid.


Kini tinggallah Neta bersama Tuan Razid dan istrinya, juga Ragen sebagai anak pertamanya.


"Ini, Tuan, isi dalam tas selain uang sepuluh jutanya." Ucap pak Zuber kepada Tuan Razid sambil menyodorkan apa yang ia ambil dalam tasnya Neta.


Setelah menerimanya, Tuan Razid bersama istrinya tengah melihat apa yang diberikan oleh pak Zuber.


Sebuah foto yang berukuran sedang, ada beberapa orang dalam foto tersebut. Seketika, Tuan Razid gemetaran saat melihat foto yang tidak begitu asing orang-orangnya.


Begitu juga dengan istrinya Tuan Razid, sama halnya seperti tidak percaya saat melihat foto tersebut.


"Dan-Danar, Gowanda, Herdianto, juga ada Zepiano. Benar, gadis ini adalah bagian keluarga Langgada." Ucap Tuan Razid, Ragen yang mendengarnya, pun masih belum mengerti.


"Surat, ada suratnya, Pa." Timpal istrinya dan menunjuk pada surat yang ada ditangan suaminya.

__ADS_1


"Apakah kamu keponakannya Gowanda? dimana dia?" tanya Tuan Razid kepada Neta.


"Bapak tahu, Gowanda paman saya?"


"Tidak cuma kenal, sangat mengenalinya. Apakah kamu putrinya Danar? ibu kamu namanya Henita?"


"Kenapa Bapak tahu semuanya?" tanya Neta seperti tidak percaya.


"Katakan padaku, benarkah kamu putrinya Danar Langgada?" tanya Tuan Razid kembali untuk memastikannya.


"Iya, Pak. Saya putrinya mendiang ayah Damar, dan keponakannya mendiang paman Gowanda." Jawab Neta dengan jujur.


Saat itu juga, istrinya Tuan Razid langsung memeluk Neta begitu erat.


"Maafkan Ibu, Nak, maafkan Ibu. Rumah yang kamu cari, ada disini. Maafkan Ibu yang tidak jujur dari awal, karena kami takut akan ada orang sengaja menyamar dan menghancurkan keluarga kami." Ucap istrinya Tuan Razid sambil memeluk.


Neta sendiri ikutan kaget saat mendengar pengakuan dari istrinya Tuan Razid yang mengatakan rumah yang dituju rupanya rumah yang didatanginya.


Saat itu juga, Neta langsung melepaskan pelukannya.


"Kenapa Ibu tidak mengatakannya dari awal, jika rumah yang saya tuju adalah rumahnya Ibu." Ucap Neta sedikit merasa kecewa, meski alasannya dapat di mengerti.


"Bukannya kami tidak mau berkata jujur sama kamu, tapi sikap berhati-hati dengan orang yang tidak kami kenal, tetap harus waspada. Lebih lagi kamu sudah melawan preman yang sengaja ingin melukai istri saya, bahkan bisa saja bisa menculiknya, tentu saja kami penuh kewaspadaan. Tapi sekarang kami merasa lega dan tidak khawatir lagi sama kamu, karena kehadiran kamu di rumah ini sangat kami tunggu. Sepuluh tahun lamanya, Gowanda tidak pernah datang kemari. Tunggu, tadi kamu bilang, Gowanda sudah meninggal, benarkah?"


"Benar, paman Gowanda telah meninggal sepuluh hari lebih yang lalu. Paman mempunyai riwayat penyakit yang sudah tidak bisa tertolong lagi. Sebelum kepergian paman Gowanda, memberi saya pesan lewat tulisan. Juga, memberi amanah kepada saya untuk menyampaikan surat dalam amplop kecil kepada sang pemilik rumah, yakni bernama Razid Akmaja." Jawab Neta dengan jujur, juga cukup detail.


"Terima kasih sudah membawakan amanah paman kamu sampai ke tangan saya. Perkenalkan, saya pemilik rumah ini yang bernama Razid Akmaja, dan ini istri saya yang bernama Vivina, dan ini putra pertama saya yang bernama Ragenta Akmaja, dan lelaki yang tadi, namanya Ardan Akmaja. Kamu boleh ditemani istri saya, dan saya akan membaca surat kecil ini dengan teliti." Ucap Tuan Razid.


"Baik, Pak. Akhirnya tujuan saya sudah sampai, terimakasih sudah menerima kedatangan saya ini dengan baik. Maaf, jika kedatangan saya ini membuat kekhawatiran kepada keluarga anda. Tapi sebelumnya, saya bukanlah pencuri di rumah anda." Jawab Neta dan membahas soal uang yang ada didalam tasnya.


"Kami tidak menuduh mu seorang pencuri, karena kami sudah mengetahui siapa pelakunya. Jadi, kamu tidak perlu takut." Ucap Tuan Razid.


"Terima kasih, Pak, sudah mempercayai saya." Jawab Neta.

__ADS_1


"Ya udah, kamu boleh ditemani istri saya, dan saya akan membaca isi dalam amplop ini." Ucap Tuan Razid, dan diikuti oleh Ragen ke ruang privasi keluarga.


__ADS_2