Wasiat Jodoh Dari Paman

Wasiat Jodoh Dari Paman
Mau menerima ajakan


__ADS_3

Karena perlu hati-hati dan juga waspada, Ardan maupun ibunya tetap mudah percaya begitu saja dengan tulisan kertas yang diberikan oleh Neta.


'Aku yakin, semua ini hanya rekayasa semata. Perempuan ini pasti sudah menjadi suruhannya, dan tidak mungkin kedua preman tadi mudah kalah begitu saja.' Batin Ardan saat mengamati Neta dari atas hingga ke bawah.


Begitu juga dengan ibunya, pun merasa tidak percaya dengan sosok perempuan yang sudah menolong dirinya.


"Jadi, kamu mencari alamat ini?" tanya ibunya Ardan yang berpura-pura tidak mengetahui alamat tersebut.


"Iya, Bu. Saya mencari alamat yang saya tulis di kertas." Jawab Neta dengan jujur.


"Gini aja, karena kamu sudah menolong ibuku, maka kamu sementara ini tinggal dulu rumah kami. Jangan takut, kami bukan orang jahat." Ucap Ardan ikut menimpali.


"Maaf, saya tidak ingin merepotkan anda. Kalau Bapak dan Ibu sibuk, biar saya saja yang akan mencari alamatnya sendiri. Tenang saja, saya bisa jaga diri kok, Bu, Pak. Sekali lagi saya minta maaf, permisi." Jawab Neta yang tidak ingin merepotkan orang lain.


Lebih lagi dirinya sama sekali tidak mengenalinya, tentu saja harus jaga diri dengan baik. Saat itu juga, Neta teringat akan pesan dari Ibu Winda, dan juga orang yang ditemui kapal, termasuk tukang ojek yang motornya mogok.

__ADS_1


Ibunya Ardan yang masih penasaran dengan sosok Neta, akhirnya berpikir kembali untuk menghentikan perginya seorang gadis yang sudah menyelamatkan nyawanya.


"Tunggu, jangan pergi dulu. Nanti kami akan membantu kamu, sekarang sudah sore, juga sebentar lagi mau gelap. Bagaimana kalau kamu menginap dulu di rumah kami."


"Yang dikatakan Ibu aku itu benar, sekarang sudah sore, juga hampir gelap. Tidak baik seorang perempuan berada di jalanan, lebih baik kamu tinggal sementara di rumah kami. Jangan takut, kamu bukan penjahat." Ucap Ardan yang mencoba untuk membujuk.


"Ya, Nak. Kamu mau ya, tinggal sementara di rumah kami. Besok, kamu akan kami bantu." Ucap ibunya Ardan yang mencoba untuk membujuknya lagi.


Neta yang tidak punya pilihan lain, juga waktu yang sudah sore dan hampir gelap, akhirnya mengiyakan.


"Ya udah, ayo ikut kami. Jangan takut, kami bukan orang jahat." Ucap ibunya Ardan mengajaknya untuk pulang ke rumahnya.


Karena tidak jauh jauh dari tempat kejadian ibunya Ardan mendapatkan serangan dari kedua preman, kini sudah sampai, karena jarak yang tidak begitu jauh dengan rumahnya.


"Kita sudah sampai, ayo kita masuk." Ucap ibunya Ardan saat sudah sampai di depan pintu gerbang.

__ADS_1


Saat itu juga, Neta celingukan dan mengamati tempat di sekitarnya.


"Ayo kita masuk." Ajak ibunya Ardan dan meraih tangannya dan mengajaknya untuk masuk.


Neta yang begitu takjub dengan halaman rumah yang luas dan juga bangunan rumah yang megah, benar-benar seperti didalam negri dongeng.


"Ini rumah Ibu?" tanya Neta seperti mimpi, jika dirinya akan menginjakkan kaki di rumah yang begitu mewah.


Ibunya Ardan tersenyum ketika Neta memandanginya dengan takjub, terlihat gadis yang bersamanya gadis yang sangat polos.


'Sepertinya dia anak yang baik, tapi apa tujuannya datang ke rumah ini? apakah sengaja dikirim dengan sosok yang polos? agar rencananya berhasil masuk dalam rumah ini. Bukankah tadi jago beladiri? ya, pasti wanita ini sengaja dikirim untuk membuat kekacauan di rumah.' Batin ibunya Ardan ketika memperhatikan Neta saat memandang takjub rumahnya.


Sama halnya dengan Ardan, dirinya juga menyimpan rasa penasarannya dengan sosok Neta yang terlihat seperti gadis yang sangat polos.


'Mau bagaimanapun, aku harus hati-hati dengan wanita ini. Bisa saja, mereka tengah mengirimkan wanita polos ke rumah, dan sebenarnya memiliki tujuan lain.' Batin Ardan yang juga menyimpan rasa penasaran yang begitu dalam.

__ADS_1


__ADS_2