
Neta yang tengah mengikutinya dari belakang, menyimpan rasa takut dan juga was-was.
"Mari, silakan masuk." Ucap ibunya Ardan yang mempersilakan masuk kepada Neta.
"Jangan takut, di rumah ini tidak ada penjahatnya." Timpal Ardan ikut berkomentar.
Neta yang tengah berdiri di ambang pintu, rasanya begitu enggan untuk masuk. Namun, Neta yang juga tidak ingin mengecewakan pemilik rumah, akhirnya masuk ke rumah yang begitu besar dan terlihat begitu megah.
Saat memasuki rumah yang cukup besar dan juga dengan ruangan yang begitu luas, Neta celingukan sambil melihat-lihat di sekelilingnya. Takjub itu sudah pasti, lantaran seumur hidupnya baru pertama kalinya menginjakkan kakinya di rumah yang begitu mewah dan terlihat sangat megah.
"Silakan duduk, jangan takut. Tunggu sebentar ya, saya mau ke kamar dulu sebentar." Ucap ibunya Ardan.
Begitu juga dengan Ardan, dirinya sudah lebih dulu masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Sedangkan Neta tengah sendirian di ruang tamu tanpa ada yang menemaninya.
Ibunya Ardan sebelum masuk ke kamarnya, tengah meminta asisten rumahnya agar menyuguhkan air minum untuk tamunya.
"Jangan lupa ya, Bi, buatkan minuman teh hangat untuk tamu saya di ruang tamu. Jangan lupa juga dengan cemilannya." Perintah ibunya Ardan kepada salah satu asisten rumahnya.
"Baik, Nyonya." Jawabnya dengan anggukan.
Setelah itu, ibunya Ardan segera masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya agar lebih nyaman ketika mengobrol.
Asisten rumah yang sudah dimintai untuk membuatkan teh hangat untuk tamunya majikan, cepat-cepat untuk membuatkannya, serta menyiapkan cemilannya.
"Untuk siapa, Bi?" tanya asisten rumah dengan rasa penasaran.
__ADS_1
"Bibi kurang tahu sih, Din. Mungkin tamunya Nyonya juga bisa, atau gak tamunya Tuan Ardan, atau Tuan Ragenta." Jawabnya asal menebak.
"Oh, tapi kok teh hangat ya, Bi. Sudah kek ngasih ke tukang kebun aja deh, Bi." Ucap Dinda.
"Ya juga sih. Tau lah, Bibi juga cuma diminta untuk buatin doang. Ya mungkin saja Nyonya sedang mencari tukang kebun atau supirnya, gitu." Jawabnya yang males untuk berpikir, jugaan dirinya yang akan menyuguhkan cemilan beserta minuman teh hangatnya.
"Ya udah ya Bi, aku tinggal dulu." Ucap Dinar yang juga asisten rumah bosnya.
Sedangkan asisten rumah yang diperintahkan untuk menyuguhkan minuman teh hangat, cepat-cepat untuk ke ruang tamu, yakni agar mengetahui siapa yang datang, pikirnya.
Saat itu juga, keduanya sama-sama terkejut dan saling melotot satu sama lain.
"Ibu Marini,"
Ucap keduanya saling menyebutkan nama satu sama lain, juga saling menunjuk.
Neta yang benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Ibu Marini, pun langsung bangkit dari posisi duduknya dan mendekati ibu Marini serta memeluknya seperti bertemu keluarganya sendiri.
Begitu juga dengan ibu Marini yang sama halnya seperti Neta yang seperti bertemu dengan keluarganya sendiri.
"Kok kamu bisa sampai di sini, bagaimana ceritanya, Nak?" tanya Ibu Marini yang tentunya merasa penasaran.
"Ceritanya cukup panjang, Bu. Yang jelas saya tadi bertemu dengan pemilik rumah ini tanpa disengaja, dan saya diajak ke rumahnya. Jadi, karena saya tidak bisa menolak, akhirnya saya terpaksa ikut ajakan pemilik rumah ini, Bu. Terus, Ibu kok ada disini, apakah Ibu kerja di rumah ini?"
Ibu Marini mengangguk tanda mengiyakan.
__ADS_1
"Wah, Ibu mah hebat, bisa kerja di rumah yang sebesar ini." Puji Neta pada Ibu Marini.
Sedangkan Ardan yang sudah mengganti bajunya, ia pun segera turun dan menemui Neta yang tengah sendirian di ruang tamu.
Saat menuruni anak tangga, tiba-tiba arah pandangannya Ardan tertuju pada Neta dan Ibu Marini yang terlihat tengah mengobrol yang begitu akrabnya, yakni layaknya keluarganya sendiri.
Karena penasaran dan rasa ingin tahu, Ardan segera menuruni anak tangga.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Ardan penasaran, dan juga rasa ingin tahu tentang kedekatan Ibu Marini dan Neta yang terlihat begitu akrab.
"Kenal belum lama sih, Tuan. Cuma kita satu mobil saat hendak melakukan perjalanan dari kampung halaman kita masing-masing, hanya kita berdua dipertemukan di dalam kapal." Jawab Ibu Marini menjelaskan secara detail.
"Oh, begitu ceritanya."
"Ya, Tuan, benar." Jawab Ibu Marini sedikit menundukkan pandangannya.
Sedangkan ibunya Ardan yang juga sempat mendengar obrolan asisten rumahnya bersama Neta yang terlihat begitu akrab, pun menaruh rasa curiga dan juga penasaran tentunya.
"Tunggu tunggu tunggu, kalian berdua seriusan sudah saling kenal?" tanya ibunya Ardan untuk memastikannya lebih detail.
"Ya, Nyonya. Namanya Neta, kami satu mobil dalam perjalanan dari kampung sampai di terminal, yakni tempat dimana Nyonya menjemput saya." Jawab Ibu Marini.
"Oh, jadi tadi berangkatnya bareng Bi Marni. Kalau begitu Bi Marni boleh kembali kerja. Nanti kalau saya butuh Bibi, cepetan temui saya ya, Bi." Ucapnya.
Setelah tidak ada yang dipertanyakan, Ibu Marini segera kembali melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1