
Bella tidak menyangka Rayhan akan mengosongkan seluruh bioskop ini. Padahal hari itu bukan hari libur dan sejenisnya, bahkan bisa dibilang pengunjung hari itu harusnya ramai, tetapi sejauh mata memandang tidak ada satu pun orang di sana kecuali beberapa karyawan bioskop tersebut.
Sejak pertama kali mengenal Rayhan Julio, Bella memang kerap kali mendengar beberapa rumor yang mengatakan bahwa Rayhan adalah anak orang kaya, tetapi Bella baru tahu sepertinya rumor itu bukanlah sekedar rumor semata.
Sejak bersama dengannya, hingga resmi keduanya berpacaran, lelaki itu tampak seperti orang biasa saja. Terlalu biasa untuk menjadi orang yang mampu mengosongkan satu gedung bioskop ini.
Saat ia mencapai tempat yang sudah diberitahukan oleh Rayhan, pintu itu seketika dibuka oleh dua orang karyawan yang memang berjaga di depan pintu.
"Silakan masuk, Nona. Tuan Rayhan sudah menunggu Anda di dalam sana."
Bella hanya mengangguk dan melayangkan senyuman tipis untuk kedua karyawan cantik itu. "Terima kasih," balasnya kemudian.
Setelah itu, Bella segera bergegas masuk dan pintu kembali ditutup setelah dia sudah berada di dalam studio tersebut. Perlahan ia berjalan menyusuri lorong menuju kursi yang berjajar rapi di depan layar bioskop.
Kaki Bella tiba-tiba mati rasa ketika melihat wajah Rayhan yang memang selalu tampak serius dan datar, sama seperti biasanya. Pria itu terlihat sibuk menatap layar di hadapannya dan tenggelam dalam pikirannya sendiri, sepertinya belum menyadari kedatangannya.
Rayhan tidak benar-benar fokus pada apa yang ada di layar itu. Tatapan mata itu terlihat kosong dan entah apa yang sebenarnya ada dalam pikiran pria itu.
Bella melepas masker dan kacamata yang dipakai. Perlahan juga melepas mantel tebal yang sedikit basah karena percikan air hujan.
Bella menarik napas yang lebih dalam sebelum duduk di sebelah Rayhan. Sementara Rayhan yang sudah menyadari kedatangan Bella sejak tadi hanya beralih menatap perempuan itu sekilas, setelah itu sebuah senyuman samar menghiasi bibirnya.
"Kau sudah menonton filmnya?" tanya pria itu pada Bella sambil kembali memperhatikan layar yang berada di hadapan mereka yang sedang memutar sebuah film.
__ADS_1
Entah film apa yang sedang terputar di sana, karena Bella tidak peduli. Yang ada dalam pikiran Bella sekarang, dia harus secepatnya berbicara dengan Rayhan dan meluruskan segalanya.
Bella mendengkus pelan. "Aku tidak datang ke sini untuk—"
"Kau tahu, aku selalu komplain padamu tiap kali kau berbicara saat kita sedang menikmati film yang seru. Ternyata kebiasaanmu itu benar-benar sulit untuk dihilangkan, ya?"
Dan suara Rayhan yang dingin itu terdengar asing meskipun di selingi dengan sebuah tawa yang terdengar begitu aneh di telinga.
Bella menarik napas lebih dalam mencoba mengatur laju napasnya yang terdengar berat, bahkan hanya untuk berpura-pura di hadapan Rayhan dia tak sanggup lagi melakukannya. Sungguh, ini beribu-ribu kali lebih menyakitkan dari yang mampu dibayangkan.
"Kau tahu semuanya sejak awal, bukan? Aku sudah mengatakannya semua di telepon atas alasan aku menemuimu. Aku tidak ke sini sebagai orang yang sama."
Kali ini, Bella berbicara dengan suara yang lirih. Dia sudah berusaha untuk terdengar begitu kuat, tetapi sayangnya dia tidak mampu melakukannya dengan baik. Terlebih lagi di hadapan Rayhan Julio, kekasihnya … atau mungkin sudah bisa dikatakan mantan kekasih.
Rayhan memilih diam sejenak setelah mendengar penuturan yang terlontar dari bibir Bella. Pikirannya seketika berkelana tentang ingatan banyak hal mengenai bagaimana Bella mengisi setiap kekosongan di dalam hatinya dan di saat yang sama juga mengosongkan tempat itu kembali dengan kejam. Kebahagiaan yang dirasakan Rayhan akhir-akhir ini, seolah direbut paksa saat itu juga.
Kalimat itu bagai ribuan anak panah yang datang seperti hujan bagi Bella. Menembus tepat di jantungnya dan mengoyaknya dengan sadis.
Sakit … rasanya sakit sekali.
Dengan berusaha mati-matian menahan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya, Bella beralih menatap layar di hadapannya. Namun tak benar-benar melihat apa yang ada di sana.
Ingatannya seketika melayang jauh ke suatu waktu di mana dirinya dan Rayhan masih bersama. Kenangan-kenangan indah, meskipun itu terlihat sederhana. Ingatan tentang bagaimana ia dan Rayhan berburu tiket film di bioskop jika film yang mereka tunggu-tunggu telah keluar dan menontonnya bersama sambil berpegangan tangan. Duduk di bangku taman sembari bercerita mengenal banyak hal, tentang keseharian mereka atau tentang buku apa yang mereka baca saat ini. Bahkan menghabiskan malam dengan menatap gugusan bintang yang berpendar indah di langit.
__ADS_1
Hal-hal sederhana yang dilewati bersama orang teristimewa di dalam hidup. Semuanya terekam indah, sebelum kenyataan datang memorak-porandakan banyak mimpi yang telah mereka bangun.
Bagaimana bisa setelah hari ini, mereka harus hidup di jalan yang berbeda?
"Maafkan aku, Ray!"
Mungkin kata maaf tidak akan cukup untuk menebus rasa bersalahnya kepada Rayhan. Bella sadar, ia telah menghancurkan hati pria yang begitu tulus mencintainya itu, hanya harus hidup dengan pria yang tidak akan pernah mencintainya dan hatinya masih terjebak dengan masa lalu.
Dan Bella siap menanggung semua konsekuensinya. Dibenci oleh orang sebaik Rayhan mulai malam ini dan untuk selamanya, mungkin Bella siap.
Rayhan langsung mendengkus kasar. "Kenapa harus meminta maaf? Apa kau kira kata maaf itu akan cukup untuk membuat kita kembali bersama? Tidak, Bella! Karena kau sendiri yang telah menghianati hubungan kita!"
Ada kemarahan yang jelas di setiap kalimat yang terucap dari bibir Rayhan. Kemarahan karena merasa telah terkhianati oleh Bella.
Bella menggeleng-geleng pelan. "Tidak, Ray. Bukan seperti itu—"
"Lalu apa, huh?" potong Rayhan dengan cepat. "Kalau kau merasa tidak seperti yang aku tuduhkan. Seharusnya sejak awal kau hanya perlu mengatakan bahwa semua yang terjadi tidaklah benar. Kau hanya harus mengatakan semuanya dengan penuh keyakinan. Tentang pernikahan itu dan hubungan kita."
Air mata Bella kali ini benar-benar tak terbendung lagi, dan kini sudah mengalir membasahi pipinya. "Aku ingin mengatakan banyak hal untuk membuat semuanya lebih baik, tetapi nyatanya memang seperti ini. Apa lagi yang bisa aku katakan, Ray?"
Kali ini suara Bella terdengar setengah meninggi dan terdengar lebih memilukan dari pada yang ia duga.
"Aku bahkan mendengar kabar ini dari orang lain, Bel. Dan kau memang tidak ada niatan untuk memberitahuku, kau sengaja untuk menyembunyikan semua itu dariku!"
__ADS_1
Kemarahan Rayhan tak tertahankan lagi, bahkan ia tidak peduli kalau mungkin saja dari kalimatnya akan ada yang menyakiti Bella. Tetapi yang pasti, hatinya saat ini terasa hancur.
Mengetahui bahwa Bella tidak mengelak akan hubungan pernikahannya dengan pria lain, ternyata lebih menyakitkan saat ia mengetahui bahwa Bella sudah menikah.