Wedding Chaos

Wedding Chaos
Pertanyaan Menjebak


__ADS_3

Melihat Satya yang terus-terusan bersedih, membuat Bella berdecih melihatnya.


Muak adalah hal selanjutnya yang dirasakan oleh Bella. Dia tidak tahu kenapa dia bisa menjadi sangat kesal kepada Satya. Bella sangat yakin bahwa dia tak lagi memiliki perasaan apa pun terhadap pria itu sejak dulu.


Bella yakin cinta yang dirasakannya untuk Satya tidak senyata itu untuk membuatnya terluka, tetapi kenapa rasanya berbeda? Kenapa Bella sangat berharap Satya berpaling lebih cepat dari mantan kekasihnya dan kenapa Satya tidak bisa bersikap sama seperti dirinya. Kenapa pria itu tidak bisa memutuskan untuk meninggalkan bayang-bayang perempuan itu ke dalam masa lalu.


Bella kembali menghela napas lebih dalam. Sungguh, dia tidak mau membiarkan perasaan buruk terus-terusan menguasainya. Jadi, dia memilih mengabaikan segalanya.


Perempuan itu lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi, dibanding menghampiri Satya yang sudah pasti akan kembali berpura-pura jika melihatnya. Lagi pula, ia perlu mendinginkan kepalanya yang terasa berat. Sungguh, terlalu banyak yang terjadi hari ini, dan semuanya membuatnya semakin pening memikirkan kehidupannya di masa depan.


Ia lalu membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum bergegas tidur karena hari semakin malam. Mengenai Satya, Bella rasa lelaki itu tidak cukup mabuk untuk tidak menemukan pintu masuk dalam kamar, dan berakhir tidur di balkon. Jadi Bella tidak perlu mendatangi pria itu dan mengingatkannya untuk tidur, bukan?


Kurang dari lima belas menit, Bella sudah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur yang nyaman. Kali ini, dia mengenakan piyama berwarna peach yang dipilih sendiri dari dalam lemari yang telah disediakan untuknya. Ternyata piyama ini sangat nyaman, batinnya.


Sebelum menuju ke tempat tidur, Bella kembali mengecek keberadaan Satya yang ternyata telah berbalik dan bersiap akan segera masuk.


Karena tidak ingin bertemu dengan pria itu, terlebih lagi mengobrol jika didapati bahwa dirinya belum tidur. Bella buru-buru naik ke atas tempat tidur dan menutupi dirinya dengan selimut. Ya, dia harus berpura-pura tidur kali ini.


Dan benar saja, tak lama kemudian Bella merasakan bagian sisi kosong di sampingnya bergerak pertanda Satya sudah berada dekat darinya. Kemudian disusul sebuah suara yang tentu saja ditujukan untuknya.


"Apa kau sudah tidur?" tanya Satya saat lelaki itu sudah masuk ke dalam kamar dan meletakkan gelas yang dipegang ke atas meja buffet.


Bella tentu saja tidak menjawab pertanyaan itu karena ia tengah melakoni kepura-puraannya. Sedangkan Satya mengerutkan keningnya, pasalnya ia sangat yakin bahwa beberapa menit yang lalu dia mendengar seseorang baru saja mandi dan rasanya Bella tidak mungkin langsung tertidur setelahnya.


Satya mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. "Apa kau sudah benar-benar tidur, Bella?"

__ADS_1


Sekali lagi Satya memastikan dengan menarik selimut yang menutupi wajah Bella dan benar saja perempuan itu bernapas dengan teratur seolah dia benar-benar sudah tidur dengan nyenyak.


Melihat wajah Bella yang tengah tertidur, tanpa sadar sebuah senyuman tertarik begitu saja dari bibir Satya. Ini adalah kali pertama dia menatap wajah Bella dalam jarak sedekat itu. Bukankah Bella cantik meskipun tanpa riasan di wajahnya?


Yak! Sadarlah, Satya. Kau sedang mabuk sekarang, apa yang kau pikirkan?


Satya memaki dirinya sendiri dalam hati atas apa yang terlintas di dalam pikirannya barusan. Pikiran-pikiran kotor yang tiba-tiba mengganggunya.


Tetapi mari kita berbicara mengenai siapa Satya. Dia seorang pria dewasa yang normal dan matang. Jangan lupakan bagian itu! Jadi, apakah salah jika dia memikirkan hal-hal seperti itu? Terlebih lagi ini tentang perempuan yang notabenenya adalah istri sahnya sendiri.


Satya tentu saja bukan orang lugu perihal wanita, apalagi wanita seperti Bella. Dia itu cantik, Satya tidak bisa membohongi diri sendiri kalau di matanya Bella itu perempuan yang sangat cantik. Ditambah dengan bibir mungil dengan warna merah muda, terlihat seperti sebuah apel segar yang menggiurkan. Sepertinya akan sangat manis saat ia mencicipinya.


Yak! Lagi dan lagi Satya memaki dirinya sendiri. Oh God! Pikiran kotor macam apa itu?


Sebenarnya semuanya bisa berjalan mulus seandainya Bella tidak merasakan kalau pria itu terlalu dekat darinya. Kenapa bisa ia tahu kalau Satya begitu dekat darinya, karena bau alkohol yang cukup menyengat dari pria itu.


Terlebih lagi Bella tidak terbiasa mencium bau alkohol dan rasanya aneh ketika napas Satya samar-samar mengganggu indra penciumannya. Dia bahkan seolah menyadari kalau wajah Satya sedang berada sangat dekat dengannya.


Oh Tuhan! Sampai kapan semua ini bisa berlalu. Sampai kapan pria itu terus bertahan begitu dekat darinya, sedangkan Bella sudah kesusahan dan merasa area di sekitarnya begitu pengap.


Mati-matian ia berusaha menahan diri, agar tidak bangun dan meminta pria itu menjauh darinya. Karena sungguh, ia sangat tidak nyaman. Tidak nyaman dalam artian ia merasa grogi dan terkesan diperhatikan begitu lekat seperti ini.


Meski tidak melihatnya langsung, tetapi Bella bisa merasakan kalau saat ini ia tengah ditatap oleh Satya. Dan itu membuatnya merasa tidak nyaman.


Perempuan itu kemudian menarik napas dalam dan kembali menghembuskannya perlahan. Dia mencoba bergerak dan membalikkan badannya dengan sikap yang begitu alami, berharap agar Satya tidak menyadari bahwa kali ini ia tengah berpura-pura tidur.

__ADS_1


Akan jadi masalah besar kalau sampai Satya menyadarinya, karena entah kenapa ia tidak siap berhadapan dengan Satya malam ini.


Dan benar saja, apa yang Bella takutkan terjadi. Karena tiba-tiba Satya menahan pergerakannya yang mencoba menghindar dan karena sentuhan Satya, perempuan itu langsung membuka matanya perlahan.


Astaga! Kalau sudah seperti ini Bella harus berekspresi seperti apa di hadapan Satya? Berpura-pura baru saja terbangun karena terganggu ataukah dia jujur dan mengatakan kalau sebenarnya sejak tadi dia hanya berpura-pura.


Tetapi semuanya tidak penting setelah menyadari bahwa Satya masih menatapnya dengan tatapan dalam. Mata lelaki itu menggelap dan tiba-tiba saja Bella merasa takut.


"Kau hanya berpura-pura tidur, 'kan? Apa kau mencoba menghindariku?" suara Satya terdengar berbisik. Seolah hanya Bella yang mendengar pertanyaan itu.


"Aku—"


Kalimat Bella tiba-tiba terputus saat suara Satya yang dominan kembali terdengar.


"Kau habis dari mana? Aku dengar dari pelayan bahwa kau keluar sejak tadi dan baru pulang sekarang?"


Deg!


Inilah yang Bella takutkan, diwawancarai oleh Satya tentang kepergiannya tadi. Dan tentu saja Bella tidak menemukan kalimat yang tepat untuk pertanyaan tersebut. Haruskah dia berbohong atau mengutarakan semuanya kebenarannya?


Tentang pertemuannya dengan kekasihnya—Rayhan. Dan alasan menemuinya yaitu karena harus mengakhiri hubungan tersebut, karena lebih memilih mempertahankan pernikahannya dengan Satya yang sudah tentu tidak ada kebahagiaan di dalamnya?


"Kau habis dari mana? Dan siapa yang kau temui?" tanya pria kembali dengan nada menuntut.


Oh God! Apa yang harus Bella lakukan?

__ADS_1


__ADS_2