
Dahulu kala Joy tidak akan mungkin bisa menyalah artikan perasaan Bella kepada Satya. Bagaimana tidak, karena Joy hampir ingat setiap cerita tentang Satya karena Bella tidak pernah berhenti menceritakan betapa menyebalkan dan betapa sukanya Bella pada lelaki itu. Bukan hanya itu, Joy beberapa kali bertemu dengan Satya dalam suatu acara. Bahkan, Joy tahu bahwa Satya memiliki kekasih seorang model sama seperti dirinya. Joy mencoba mengingat-ingat nama wanita yang pernah berada dalam satu event dengannya itu. Kekasihnya itu bernama Aluna Diandra.
“Bukankah Satya telah memiliki kekasih? Aku dan dia bertemu dalam beberapa event. Aku mengenal wanita itu, namanya Aluna Diandra."
Bella tentu saja tidak terkejut karena Joy pun tahu bahwa Satya sudah memiliki kekasih, toh Satya dan Luna memang tidak pernah menyembunyikan hubungannya di publik, bahkan terkesan di umbar. Jadi tentu saja banyak yang akan terkejut mengetahui bahwa Satya tidak menikah dengan Luna, melainkan dirinya, yang notabenenya adalah orang asing.
“Di sanalah akar permasalahannya, Joy. Kekasih Satya pergi di hari pernikahan mereka tanpa alasan yang jelas. Situasinya saat itu sangatlah rumit, keluarga Brawijaya tidak mungkin membiarkan kekasih Satya mempermalukan mereka begitu pun dengan orang tuaku. Kau tahu, keluarga Brawijaya adalah segalanya bagi kedua orang tuaku."
Joy tentu saja terkejut mendengar penuturan dari Bella. "Apa mereka memintamu menggantikan tempat sang mempelai wanita dan menikahi Satya? Aku pikir pernikahan tidak bisa terjadi dengan hal seperti itu, Bel. Kau dan aku tahu semuanya akan menjadi sangat rumit ketika sumpah itu telah diambil. Urusan Satya harusnya bukanlah menjadi urusanmu. Kau tidak perlu ikut terlibat dalam masalahnya. Satya bertanggung jawab penuh atas kesalahan yang dilakukan bersama kekasihnya, namun kenapa kau juga harus menanggungnya?”
Bella menggeleng-gelengkan kepala dengan frustasi sebagai tanggapan atas kalimat Joy. "Menikah dengan Satya tidak mengenal kata tidak, Joy. Kau tahu, pilihan itu tidak pernah diberikan padaku sejak awal.” Bella menarik napas yang terdengar lelah. Mengingat kembali peristiwa di balik pernikahannya dengan Prasatya Brawijaya. “Ini permintaan orang tuaku dan orang tua Satya. Balas budi itu seperti menukar nyawa dengan nyawa. Menukar kehidupan dengan kehidupan. Dan akulah yang harus diseret dalam masalah ini.” Bella menambahkan dengan nada suara yang bergetar dan raut wajah yang terlihat sangat menyedihkan.
Joy mengusap wajahnya dengan telapak tangan, merasa tidak percaya dengan penuturan kalimat yang dilontarkan oleh Bella dan terdengar begitu rumit. “I never hear something like that. Bel, apa kau sedang bermain-main dengan hidupmu? Bermain-main dengan takdirmu, huh?”
Sekali lagi Bella menggeleng-gelengkan kepala. “Justru takdir yang sedang mempermainkan kehidupanku, Joy. Apa yang aku lakukan hanyalah mencoba menemukan jawaban, how to deal with that destiny? Semuanya rumit sejak awal. Semuanya salah sejak awal dan entah kenapa aku hanya ingin mencoba memperbaikinya. Dahulu aku berpikir perbuatan baik keluarga Brawijaya pada ayah dan ibuku tidak dapat dibalas bahkan dengan nyawa sekalipun. Balas budi itu ternyata memang tidak menuntut nyawaku, tetapi justru menuntut seluruh kehidupanku.”
__ADS_1
Sekali lagi Joy menatap sahabatnya itu dengan ekspresi kasihan. "Tetapi kalian masih bisa mengakhirinya jika ternyata pernikahan kalian tidak berhasil. Kau punya banyak alasan untuk melakukannya, Bel. Kalau perlu beritahu Satya mengenai hubunganmu dengan Rayhan.”
“Aku bahkan sudah memutuskan mengakhiri hubungan itu sebelum Satya tahu. Beberapa hari yang lalu aku datang menemui Rayhan dan menceritakan tentang pernikahanku."
"Jadi, Rayhan sudah mengetahui semuanya?"
Bella mengangguk. “Hanya sebagian dari cerita yang sebenarnya. Aku berbohong padanya mengenai alasan pernikahanku dengan Satya. Kalau aku jujur padanya, aku takut dia berpikir bahwa aku memberinya peluang untuk kembali bersama. Aku hanya tidak ingin melibatkan orang lain dalam keputusan orang tuaku dan aku tidak ingin menyeret Rayhan dalam permasalahan ini.”
"Apa kau juga tidak berniat untuk jujur pada Satya?"
Sekali lagi Joy kembali kini menatap sahabatnya dengan tatapan sedih. "Apa kau yakin kalau Satya benar-benar tidak ingin tahu? Tentang kehidupanmu, gitu?”
“Joy, sampai hari ini aku bahkan tidak yakin kalau dia bakal mencintaiku suatu saat nanti. Kalaupun Satya tahu, tak akan ada apa pun yang berubah di antara kami. Aku tahu di pikirannya masih tentang Luna, bahkan dia masih mengharapkan Luna berada di sisinya.” Bella menarik napas, tanpa sadar air matanya kembali mengalir begitu saja. Terkadang dia masih saja merasa sedih jika mengingat Rayhan dan hubungan mereka yang harus diakhiri begitu saja, serta hubungan rumitnya bersama Satya. “Dan Satya tetap saja mencintai kekasihnya, itulah faktanya. Aku tidak ingin berpura-pura tidak tahu bahwa perasaan mereka berdua benar adanya."
Seperti Satya, Bella juga menghabiskan banyak waktu untuk mencintai Rayhan dengan sepenuh hatinya selama ini. Joy juga pasti mengerti karena dia menjadi salah satu saksi bagaimana Rayhan dan Bella saling mendukung satu sama lain dalam setiap hal.
__ADS_1
Sebagai sahabat Bella, Joy melihat bagaimana banyak hal mengenai Rayhan dan Bella. Dia bahkan menjadi salah satu yang percaya bahwa mereka berdua tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain. Walaupun pada akhirnya kandas dengan cara mengenaskan seperti ini.
"Jika Satya tidak pernah bertanya apa pun. Apa dia pernah bercerita mengenai dirinya? Setidaknya mengenai Luna?”
Bella menatap Joy, lalu menggeleng pelan. Sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. “Tidak sama sekali, Joy. Aku juga tidak mungkin bertanya mengenai itu kecuali Satya yang ingin menceritakannya sendiri padaku. Lagi pula, aku juga tidak tertarik untuk tahu mengenai urusan pribadinya."
Joy manggut-manggut, sedikit paham akan kehidupan Bella after menikah dengan Satya yang hatinya masih terikat dengan wanita lain. “Oh iya, lalu ke mana lelaki itu? Menjadi menantu di keluarga Brawijaya tentu akan menyulitkanmu untuk keluar rumah tanpa pengawal. Aku berpikir orang-orangnya pasti akan berkeliaran di sekitarmu, bukan?"
Bella terkekeh pelan mendengar perkataan Joy. "Aku melarikan diri. Sudah seminggu Satya keluar negeri untuk mengurus bisnis. Tidak mudah untuk sampai di tempat ini tanpa diikuti banyak pengawal andai saja aku tidak mengelabui mereka. Aku sangat yakin, para pengawal itu masih berjaga di depan pintu kamarku seperti orang bodoh."
Seketika Joy pun ikut tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Bella yang malah kabur dan menipu pengawal yang menjaganya di rumah. Setelah puas menertawai kebodohan para pengawal itu, Joy pun kembali melontarkan tanya.
“Satya pergi mengurus bisnisnya dan kau percaya begitu saja?”
Huh? Memangnya Satya berbohong kepadanya?
__ADS_1