
Bella menatap langit kamar sembari menghembuskan napasnya perlahan ketika Satya yang baru saja mencoba mempertanyakan kepergian Bella dan habis menemui siapa. Baru mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan tersebut, tiba-tiba saja pria itu jatuh tertidur dengan kepala jatuh di sisi tulang selangkanya.
Untuk sejenak, Bella merasa jantungnya akan segera meledak jika saja pengaruh alkohol tidak lebih dulu menghilangkan kesadaran Satya. Dia benar-benar tidak memikirkan jawaban apa pun untuk dikatakan pada Satya jika saja lelaki itu tetap bersikeras ingin tahu habis dari mana dia dan siapa yang ditemuinya di luar sana.
Karena sungguh, Bella belum siap jika Satya tahu siapa itu Rayhan dan sebelumnya punya hubungan apa dengan dirinya.
Haruskah ia jujur atau melanjutkan semuanya seperti sebelumnya? Berpura-pura tidak terjadi apa-apa?
Sebenarnya bukan cuma itu yang membuat Bella gugup. Sejujurnya dia juga memikirkan hal lainnya, hal-hal yang sebelumnya sangat jauh dari bayangannya. Mungkin dalam keadaan sadar Satya tidak akan memikirkannya atau dengan mudahnya Satya bisa saja mengatakan bahwa lelaki itu tidak berniat melakukan apa pun pada Bella.
Tidak, sampai Bella setuju untuk melakukannya. Tetapi berbeda jika pria itu sedang tidak sadarkan diri akibat pengaruh alkohol, sesuatu yang mustahil bisa saja terjadi kalau seseorang khilaf atau sengaja.
Terlebih lagi kalimat-kalimat yang dilontarkan terdengar begitu ambigu, membuat Bella di satu sisi ketakutan. Untung saja pengaruh alkohol itu cepat mengambil alih kesadaran Satya, atau kalau tidak ia tidak tahu lagi harus bagaimana.
Bukan apa-apa, Bella hanya belum siap dan dia tidak yakin akan siap dalam waktu dekat ini. Melakukannya bersama Satya yang hatinya masih terikat kepada wanita lain membuatnya sulit percaya untuk memberikan semua yang telah dijaganya dengan baik selama ini.
Terlebih lagi hatinya juga masih sakit setelah memutuskan mengakhiri hubungannya dengan Rayhan. Dadanya bahkan masih berdenyut ketika mengingat bagaimana Rayhan menatapnya dengan tatapan nanar yang dipenuhi kesedihan mendalam. Jika saja dia tidak berusaha keras tadi, dia yakin tangisannya akan pecah dan mengatakan semua alasannya memutuskan hubungan keduanya. Bahkan dia akan meralat semua perkataannya tentang kata putus sebelum dia melangkahkan kaki meninggalkan gedung bioskop itu.
Bella kembali menghela napasnya dengan berat. Ia lelah … sangat-sangat lelah dengan kehidupannya. Dia merasa hidup tenangnya kini berbanding terbalik dan terasa berat. Menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta ternyata akan terasa begitu menyiksa.
"Kenapa semua ini melelahkan sekali, Tuhan?" desah Bella dengan suara yang terdengar mencicit.
Bella kemudian beralih menatap lelaki yang masih tertidur dengan nyaman di sisinya. Dia bahkan bisa merasakan bagaimana setiap hembusan napas lelaki itu menyentuh kulit lehernya.
__ADS_1
"Kenapa kau pergi?"
Suara itu berasal dari Satya, meskipun terucap dengan lirih tetapi Bella bisa mendengarnya dengan jelas.
Apakah kalimat itu diperuntukkan untuk Luna? Sebegitu menderitanya kah dirimu atas kepergian wanita itu sampai-sampai terbawa ke dalam mimpi? Apakah di dalam mimpi itu kau bisa bertemu dengannya?
Membayangkan hal tersebut, kenapa terasa sakit, ya? Bella merasa, dirinya dan Satya hanyalah dua orang manusia bodoh yang memilih bertahan dalam ikatan menyiksa ini. Hanya karena ingin menyenangkan hati orang banyak, mereka sepakat untuk bertahan. Padahal hati mereka sama-sama tersiksa, karena mereka berdua memiliki kebahagiaan tersendiri … di diri orang lain.
Karena melihat Satya yang terlihat gelisah dalam tidurnya, membuat Bella berinisiatif menenangkannya. Seperti tengah menenangkan seorang bayi, Bella menepuk-nepuk punggung Satya dengan pelan. Berusaha memberikan rasa nyaman agar kembali tertidur dengan nyenyak.
Tidak berselang lama, pria itu benar-benar kembali tertidur dengan nyaman. Mendengar Satya mengigau, ketakutannya akan kehilangan membuat hati Bella mencelos.
Meskipun kadang dia muak dengan pria itu, tetapi seperti dirinya, Satya pasti juga melalui masa-masa yang sulit.
Andai saja, Bella ataupun Satya tidak terlanjur menyerahkan seluruh perasaan pada seseorang sebelum pasangan hidup mereka yang sekarang. Mungkin, masalahnya tidak akan berakhir jadi serumit ini.
Bukankah selalu lebih mudah melukis di atas kanvas yang belum pernah tercoret tinta, dibandingkan mengubah kanvas yang telah bergambar dengan gambar yang lain, bukan?
Sekali lagi, Bella kembali menatap Satya. Kali ini dia ingin mencoba menatap lelaki itu lebih lama hingga dia mungkin akan merasa lelah dan ikut tertidur, tetapi seperti cahaya musim panas yang menghangatkan dikala dingin, Satya tiba-tiba saja hadir seperti sebuah matahari dalam pandangan Bella.
"Aneh sekali," pikirnya di dalam hati.
Ada banyak alasan kenapa seseorang bisa dengan mudah jatuh cinta dengan pria seperti Satya, selain karena dia tampan dan kaya raya, Bella juga percaya bahwa Satya adalah sosok yang tulus.
__ADS_1
Pria itu mungkin saja tidak seburuk yang Bella pikirkan. Mungkin bukan lagi anak berumur belasan tahun yang nakalnya bukan main dengan terus-menerus mengejek dan membully fisiknya, lalu menertawakannya saat melihat kedua bola matanya sudah berubah kemerahan dan siap menangis. Bukan juga pria yang tiba-tiba menghilang dari kehidupannya dan membuat cinta yang belum sempat bersemi itu kandas seketika.
Dulu ada banyak sekali pertanyaan dalam kepala Bella, seperti bagaimana dia bisa menyukai pria itu. Bella pikir dirinya yang dulu tidak lebih dari gadis belasan tahun yang mendambakan sosok sempurna untuk mengisi masa remajanya, dan Satya memenuhi semua kriteria itu.
Tetapi sejak dulu, bukankah Bella memang yang tidak pernah mencoba mengenal Satya dengan lebih baik?
Hubungan keduanya bisa saja berjalan lebih baik jika Bella mau mencoba memahami Satya sebagai manusia yang sama seperti dirinya.
"Apakah hubungan ini bisa berhasil, Satya? Ataukah kita harus mengakhiri semuanya?"
Bella berkata seakan-akan tengah bertanya kepada Satya, yang tentu saja tidak ada jawaban karena pria itu masih tertidur dengan pulasnya.
Ya, Bella hanya bisa mengutarakan isi hatinya saat keadaan seperti ini. Dia tidak akan mungkin mengatakan semuanya saat Satya sadar. Karena Bella tidak akan sanggup, sampai kapan pun.
Bella kemudian menarik tangannya dengan gerakan hati-hati, kemudian memindahkan kepala Satya di tempat yang seharusnya, di sisi lain tempat tidur mereka. Sejujurnya dia merasa jauh lebih baik setelahnya. Setidaknya, Bella tidak harus tersiksa mendengar jantungnya berdetak sangat keras, bahkan terasa akan meledak sewaktu-waktu.
Wanita itu kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Satya. Sebelum tertidur, Bella kembali menatap langit-langit kamar dengan lekat.
Mungkin … mungkin, semuanya hanya akan menjadi sebuah kemungkinan. Kemungkinan untuk dicintai dan balas dicintai.
Lagi-lagi pikiran Bella dipenuhi oleh banyak pertanyaan. Apakah mungkin dia bisa menjadi penggenap kekosongan seorang Satya Brawijaya?
Apakah mungkin dia bisa memiliki hal yang sejak awal bukanlah miliknya dan tidak diperuntukkan untuknya?
__ADS_1
Mungkinkah?