Wedding Chaos

Wedding Chaos
Menikah Denganmu Ternyata Semenyakitkan Ini


__ADS_3

Raut wajah yang Satya tunjukkan saat Bella selesai mengutarakan kalimatnya barusan terlihat datar dan sedikit terlihat tak suka.


Tetapi memangnya ada yang salah? Bukankah mereka berdua memang harus berhenti bersandiwara, terlebih lagi mereka hanya berdua. Kasarnya, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan tentang pernikahan tak terencana ini.


Dan juga, Bella yakin seharusnya suasananya tidak secanggung ini mengingat mereka berdua pernah bersekolah di sekolah yang sama selama tiga tahun, tetapi Satya yang berbicara dengannya seolah-olah dirinya adalah orang asing membuat Bella agak sedikit muak.


Bella cukup tahu siapa Satya dan semua hal yang dia ketahui itu cukup untuk menyimpulkan bahwa Satya bukanlah orang yang terlalu tertarik dengan kesusahan orang lain, apalagi sampai peduli dengan dirinya.


"Pernikahan ini tampak memuakkan untukmu, ya?"


Mendengar pertanyaan Satya, Bella hanya mampu menghela napasnya lebih dalam. Ada banyak hal yang tidak diketahui oleh Satya tentang dirinya dan tentang situasi yang dirinya hadapi. Bella ingin sekali menjelaskan segalanya, tetapi dia bingung harus dari mana dia memulai semuanya.


"Aku sebenarnya tidak ingin membahasnya, tetapi terima kasih karena sudah menolong keluargaku dari rasa malu hari ini dan maaf karena seharusnya kamu tidak terlibat dalam hal ini," lanjut Satya kembali dengan begitu tulus.


Mendengar ucapan Satya, lagi-lagi Bella tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Entahlah, ia seketika mendadak jadi patung.


Hingga kemudian, berselang beberapa detik kemudian Bella berdeham, sebelum melontarkan kalimatnya. "Aku ingin sekali memilih untuk tidak terlibat, tetapi sayangnya aku tidak pernah diberi pilihan untuk itu, Satya. Dan jika kamu mengatakan pernikahan ini memuakkan untukku, ya mungkin kau benar. Untuk kita berdua lebih tepatnya."


Bella terdiam beberapa detik, dia tidak yakin dengan apa yang akan dia katakan selanjutnya, tetapi ….


"Kita bisa berpisah setelah beberapa bulan menikah. Mungkin hal itu akan mengecewakan orang tua kita masing-masing, tetapi berpisah adalah pilihan yang tepat. Kamu tahu, kita mungkin tidak memiliki pilihan saat memulai pernikahan ini, tetapi kita selalu punya pilihan untuk mengakhirinya."


Sejujurnya Bella juga tidak tahu dari mana dia mendapatkan pikiran seperti itu. Hanya saja ia merasa pernikahan ini tidak akan pernah berhasil, dan berpisah adalah pilihan yang tepat. Sebuah pilihan agar salah satu dari mereka tidak merasakan yang namanya patah hati.


Hening. Keduanya memilih bungkam, terlebih lagi Satya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan segala celotehan yang keluar dari bibir Bella. Entahlah, ia tidak tahu pikiran apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam kepalanya sekarang ini.

__ADS_1


"Aku tahu, kamu juga tidak menginginkan pernikahan ini. Bukan begitu, Satya?"


Sekali lagi Bella melontarkan pendapatnya. Terlebih lagi karena Satya tak kunjung mengeluarkan suara.


Sedangkan Satya yang tidak tahan lagi mendengar semua celotehan perempuan itu yang menurutnya tidak masuk akal akhirnya membuka suara.


"Aku tidak mungkin mempermainkan sumpah di hadapan Tuhan, Bella! Bagiku suka ataupun tidak, sumpah yang aku katakan di depan Tuhan dan semua orang hari ini seperti sebuah perjanjian dengan dunia. Dan sebagai lelaki sejati, aku tidak akan pernah melanggarnya."


Seketika Bella mendengkus kasar mendengar pengakuan Satya yang terdengar seperti bualan semata.


"Apa kamu masih bisa mengatakan kalimat itu saat mantan calon istrimu kembali, huh? Asal kamu tahu, masalahnya tidak berada pada sumpah itu, Satya. Kamu mengatakan itu hanya karena kamu kecewa pada perempuan yang begitu kamu cintai tetapi meninggalkanmu, bukan?" tanya Bella tepat sasaran.


Deru napas Bella terdengar keras setelah melontarkan kalimat tersebut. Bahkan saat ini suaranya terdengar bergetar, entahlah hanya saja ia merasa takut mendengar pengakuan Satya barusan. Dia takut terbuai, lalu dihempaskan begitu saja. Sakit … sudah pasti itu sakit. Bukankah sebuah kenyataan sering sekali mengajaknya bercanda.


"Satya, kamu mencintainya itulah alasan kenapa kamu ingin menikah dengannya. Sumpah dan janji itu diperuntukkan hanya untuknya, bukan aku!"


Rahang Satya terlihat mengeras, pertanda bahwa ia tidak menyukai tuduhan yang dilontarkan Bella untuknya.


"Aku bisa berjanji padamu, Bella! Kenapa kamu tidak mau percaya denganku dan hubungan ini?"


Bella kembali mendongak dan menatap Satya dengan kedua bola mata nanar. "Berjanji untuk apa, Sat? Aku tidak ingin kamu menjanjikan apa pun padaku karena sekali saja kamu berjanji maka aku akan terus mengingatnya dan ketika kamu melanggarnya aku akan terluka. Jadi tolong, jangan menjanjikan sesuatu yang tidak akan pernah mampu kau penuhi!"


"Apa kamu tidak bisa percaya padaku, Bella?" tanya Satya dengan nada sedih.


Bella menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bukankah aku sudah pernah memberikannya, Satya? Kamu tidak tahu sejauh apa aku sudah pergi untuk melupakanmu dan aku tidak ingin lagi terjebak. Lima tahun bukanlah waktu sebentar."

__ADS_1


Duarrrr~


Pada akhirnya uneg-uneg yang Bella sembunyikan selama ini meledaklah sudah. Sesuatu yang menurutnya sangat memalukan untuk Satya ketahui akhirnya berhasil terlontar dari bibirnya. Tetapi sudahlah, toh Satya memang perlu tahu bagaimana usahanya selama ini untuk terbebas dari bayang-bayang seorang Satya.


Setelah mengatakan hal tersebut, Bella memilih masuk ke dalam kamar lebih dahulu, kemudian Satya menyusul beberapa detik kemudian.


"Aku pikir dulu hubungan kita tidak pernah sejauh itu, Bella. Aku memang melakukan banyak kesalahan bahkan sampai hari ini, dan untuk itu aku benar-benar minta maaf!"


"Aku tidak ingin membahas mengenai perpisahan dan hal-hal semacamnya lagi. Maafkan aku jika terkesan egois, tetapi ini keputusanku dan aku sama sekali tidak memaksamu untuk setuju," lanjut Satya kemudian.


Setelah mengatakan hal itu, Satya memilih pergi meninggalkan Bella di dalam ruangan besar itu sendirian. Mungkin mereka hanya sama-sama butuh waktu untuk menenangkan diri sekarang ini.


Bella hanya tergugu di tempatnya setelah Satya pergi. Lagi-lagi dia hanya bisa menangis. Bella tidak menyangka akan membahas tentang perceraian saat pernikahan mereka belum berlangsung selama sehari.


Bella terus menangis tersedu-sedu, meratapi kehidupannya yang semenyakitkan ini. Sungguh, sebelumnya ia tidak pernah menyangka bahwa menikah dengan Satya akan sesakit ini.


Dalam keheningan kamar itu yang hanya ditemani suara isak tangisnya, suara dering pesan dari teleponnya menggema. Membuyarkan Bella dari tangisan tanpa suaranya tersebut.


Bella kemudian mencari letak ponselnya yang ditaruh sebelumnya, sebuah pesan singkat seketika mengambil perhatian seorang Bella. Bersamaan dengan itu, air mata Bella semakin menetes dengan deras saat Bella meyakini bahwa orang itu akan menjadi salah satu yang juga akan ikut terluka dengan pernikahan ini. Rayhan Julio.


18:00 Hubungi aku ketika kamu sampai di rumah, Bel.


19:00 Apa semuanya baik-baik saja?


20:20 Aku mengkhawatirkanmu. Istirahatlah dan sampai ketemu besok.

__ADS_1


__ADS_2