Wedding Chaos

Wedding Chaos
Ayo, Membuat Pernikahan Ini Nyata!


__ADS_3

Bella memilih tidak memperpanjang obrolan, lagi pula perkataan pria itu ada benarnya juga. Apa kata orang tua Satya kalau sampai melihat mereka pisah kamar, terlebih lagi ini malam pertama mereka.


Jadi, tidur bersama dengan Satya sepertinya tidaklah buruk. Ya, selama Satya tidak sampai khilaf.


Bella kemudian memilih berbaring terlebih dahulu, tak lupa menarik selimut untuk menutupi setengah dari tubuhnya, sementara Satya yang sudah lebih dulu berada di sisi lain tempat tidur hanya terdiam dan menatapnya dengan tatapan lekat.


Hening! Keduanya sama-sama memilih terdiam. Meskipun begitu, tak ada satu pun dari mereka yang memejamkan mata, kedua bola mata mereka masih terbuka nyalang sempurna.


Mereka berdua sama-sama menatap langit-langit kamar malam itu tanpa mengatakan apa pun lagi.


Bella menghela napas sekali lagi, dia kembali berpikir selain gaun pengantin tadi, ternyata piyama yang dikenakannya juga sama-sama tidak sesuai ukuran tubuhnya bahkan mungkin semua pakaian di dalam lemari itu sama saja.


Kalau sudah seperti ini, apakah perkataan Satya tadi bukanlah kebohongan. Bahwa pakaian-pakaian itu diperuntukkan untuknya. Apakah pakaian-pakaian itu memang disediakan untuk Luna dan Satya berbohong untuk menyenangkan hatinya?


Lagi-lagi karena pemikiran itu, Bella dipaksa menatap kenyataan di hadapannya bahwa selamanya dia hanyalah pengisi kekosongan. Sejak awal, semua yang dia dapatkan tidak diperuntukkan untuknya, bahkan mungkin memang tidak akan pernah benar-benar menjadi miliknya.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Bel?" Pertanyaan Satya di sampingnya seketika membuyarkan lamunan Bella.


Bella menoleh sekilas, sebelum kembali menatap langit-langit kamar. "Tidak ada."


Satya hanya bisa mengulas senyum pelan. Dia tahu perempuan itu pasti memikirkan banyak hal tentang pernikahan ini sehingga tidak bisa tidur, karena sama dengan dirinya dia pun tidak habis pikir kenapa dia bisa berakhir menikah dengan Bella, serta pemikiran di mana sebenarnya Luna pergi dan menempatkannya di posisi ini.


Berusaha mencairkan suasana, Satya memilih kembali melontarkan candaan. "Jadi, apa kita hanya akan tidur saja malam ini? Kau tidak ingin seperti pasangan-pasangan lainnya yang melakukan rutinitas malam pertama?"

__ADS_1


Tanpa dijelaskan lebih detail, Bella langsung memahami arah pembicaraan Satya yang lagi dan lagi hanya bisa menatap pria itu dengan tatapan membunuh. Apa lelaki itu tidak bisa mengasihani dirinya yang sudah tertekan karena pernikahan ini?


Haruskan juga mentalnya terus dijatuhkan dengan urusan ranjang suami istri yang baru menikah seperti maksud pria itu?


Sungguh, Bella tidak akan menolak seandainya ia menikah dengan pria yang dicintainya dan juga balas mencintainya. Bukannya dengan pria yang gagal menikah dan dirinya yang harus menggantikan mempelai wanita itu.


Sialan sekali, bukan?


Satya langsung terkekeh. "Baiklah. Aku tidak akan melakukannya sampai kau setuju melakukannya, Bella."


Hening.


"Sebenarnya sikapmu itu kadang membuatku bertanya-tanya perempuan seperti apa dirimu? Di saat hampir seluruh wanita di luar sana menginginkan bersamaku, kenapa kau justru menolak bahkan saat aku sendiri yang menawarkannya. Kau tahu, Bel. Aku tidak memberikan kesempatan itu pada sembarang orang dan harusnya kau bersyukur."


"Ah, dan aku juga tidak ingin melakukannya dengan sembarang orang. Dan kau juga harus bersyukur karena kau menikah dengan perempuan baik-baik. Aku tidak pernah melakukan hal itu bersama siapa pun sebelumnya, jadi kau tidak perlu membayangkan lelaki mana yang sudah tidur dengan wanita yang kau nikahi ini."


Sebenarnya Satya tidak terlalu ingin tahu dengan fakta yang dikatakan oleh Bella. Karena dia tidak pernah mempermasalahkan dan menilai seorang perempuan dari hal itu. Akan tetapi sebagai pria dia tentu saja senang mengetahui bahwa wanita yang dia nikahi ternyata belum pernah terikat dengan bayang-bayang siapa pun sebelumnya.


Baguslah.


"Oh iya, mengenai hal yang aku ucapkan tadi, aku minta maaf! Aku seharusnya tidak terlalu berlebihan apalagi sampai harus membawa masa lalumu."


Perkataan Bella membuat Satya tersenyum tipis. Entah kenapa, mendapati permintaan maaf yang diucapkan dengan nada lembut itu membuat hati Satya menghangat.

__ADS_1


"Aku mengerti tentang perasaanmu, Bel. Pasti berat harus tiba-tiba di hadapkan di dalam situasi ini. Karena sama seperti dirimu, aku pun seperti itu. Bukannya aku tidak menerima pernikahan ini, seperti kataku tadi aku akan bertahan hanya saja pernikahan tiba-tiba membuatku belum bisa beradaptasi."


Satya terdiam, menunggu Bella membalas kalimatnya tersebut. Tetapi berselang beberapa menit, perempuan itu tak kunjung bersuara. Sempat ia berpikir kalau perempuan itu tertidur, namun ia salah kedua bola mata itu masih terbuka sempurna dan tenggelam dalam pikirannya.


Hal itulah yang kembali diambil Satya sebagai kesempatan untuk bersuara, "Aku tidak ingin membahas apa pun yang sudah berlalu. Mulai sekarang, aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Mungkin akan sulit memulai semuanya dari awal, tetapi asal kau dan aku berusaha tidak ada yang tidak mungkin, bukan?"


Bella menoleh, bersamaan dengan itu Satya pun ikut membalikkan tubuhnya menghadap perempuan itu. Alhasil kedua bola mata mereka saling menatap, ada perasaan aneh yang bergejolak dalam diri mereka. Tetapi itu tidak bertahan lama, karena Bella memilih lebih dahulu memutus tatapan itu.


"Ini bukan hanya tentangmu, Satya. Tetapi—"


"Kali ini tidak ada siapa pun selain kita berdua, Bel. Kau hanya harus memikirkan akan jadi seperti apa pernikahan kita ke depannya tanpa memikirkan kata pisah. Aku tahu, kau adalah korban dari pernikahan ini, tetapi aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin agar pernikahan ini tidak terus melukaimu."


Sungguh, kalimat yang dilontarkan oleh Satya terdengar sangat tulus. Tetapi kenapa Bella tidak bisa percaya, atau katakanlah ia takut. Takut saat ia telah melabuhkan hatinya, malah dihancurkan berkeping-keping.


"T—tetapi … bagaimana dengan Luna?"


Seketika Satya terdiam mendengar nama itu terlontar dari bibir Bella. Entah apa perasaannya kali ini, ia tidak bisa menebaknya dengan baik. Tetapi yang pasti, untuk sekarang Satya sangat marah bercampur kecewa terhadap perempuan itu. Dan memikirkan bahwa ia telah dicampakkan oleh perempuan yang pernah dicintainya membuatnya marah luar biasa.


"Dia pergi, Bella. Itu tandanya dia menyerah dengan hubungan kami, dan itu berarti tidak ada lagi tempat untuknya di hatiku," ucapnya dengan penuh ketegasan.


"Sekarang ini hanya tentang kita. Aku akan menunggu sampai kau siap dan aku harap kau juga akan menunggu sampai aku siap. Aku berharap kita sama-sama berjuang dengan pernikahan ini, Bella."


Kali ini Satya sepertinya serius dengan ucapannya. Dan bisakah mulai sekarang Bella percaya dan berjuang seperti permintaan pria itu.

__ADS_1


"Ayo membuat pernikahan ini menjadi sebuah kenyataan, Bella!"


__ADS_2