
Rayhan di sebelahnya masih berusaha menahan perasaan sesak di dalam dadanya sejak beberapa hari ini. Sejak dia tahu bahwa, perempuan yang dia cintai dan menjalin kasih dengannya ternyata sudah menikah dengan pria lain.
Mereka tidak berpisah lama, bahkan ia merasa tidak ada masalah dalam hubungannya. Bahkan bisa dikatakan terkesan adem-ayem. Tidak pernah terlintas dalam pikiran Rayhan sedikit pun kalau tiba-tiba Bella akan menikah, dan bukan dengannya, melainkan dengan pria lain.
Terakhir kali Bella hanya memberitahu bahwa dia akan pergi menghadiri pernikahan dari anak sahabat orang tuanya, bukan melangsungkan pernikahannya sendiri.
Rayhan bahkan terus meyakinkan diri bahwa Bella adalah miliknya seorang. Tetapi nyatanya ia telah kehilangan.
"Apakah kau sudah merencanakan pernikahanmu dengan lelaki itu sejak lama di belakangku?"
Bella lagi dan lagi hanya diam dan tidak menanggapi pertanyaan dari Rayhan. Tetapi kepalanya terus berpikir mengenai jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan tersebut. Jawaban yang tidak akan melukai hati seorang Rayhan yang sangat baik itu.
Tetapi ditelisik lebih jauh pun, ia tahu jawaban itu akan tetap salah bagi Rayhan. Pada akhirnya ia dan Rayhan memang tidak akan pernah bisa bersama, bukannya dia tak cinta lagi. Tetapi karena ia sudah menjadi istri dari Satya, di depan umum dan agama.
Jadi, haruskah Bella mengakhirinya sekarang? Haruskah dia benar-benar menghancurkan mimpinya bersama Rayhan? Bagaimana jika Satya meninggalkannya suatu saat nanti?
Tetapi, sejak awal Bella sudah mempersiapkan hatinya. Dia tahu, dalam hal ini bakal ada yang tersakiti dan Bella siap menanggung semuanya.
Perlahan Bella mengangkat kepalanya dan menatap Rayhan dalam tatapan lekat. "M—maafkan aku, Ray. Tetapi … tetapi aku masih mencintainya!"
Deg!
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Bella hanya bisa memejamkan mata sejenak untuk meredam rasa pedih yang tiba-tiba saja hadir memenuhi relung hatinya.
Sungguh, Bella telah melukai pria sebaik Rayhan. Itu adalah fakta menyakitkan yang harus diterima, tetapi jika dia kembali berpikir mengenai pernikahannya. Tentang ikatan yang terjalin erat antara dirinya dan Satya. Maka, jawaban ini adalah yang paling tepat. Bella tahu pernikahannya dengan Satya adalah sebuah kesalahan dan tidak memiliki visi dan misi yang jelas.
__ADS_1
Hanya saja, semuanya akan semakin salah jika dia mencoba untuk menghancurkannya.
Suka atau tidak dengan statusnya, tetapi begitulah adanya. Bella sekarang adalah seorang istri dan dia memiliki suami. Semuanya sudah berbeda sekarang, dan masih terikat dengan masa lalu akan terlihat semakin buruk.
Jadi, Bella harus mengakhiri semuanya. Sekarang juga! Semakin cepat dia dan Rayhan menyadari, maka semakin cepat penyembuhan itu akan dimulai, meskipun tidak mudah akan tetapi seperti sebelum-sebelumnya mereka berdua pasti akan terbiasa.
Kedua tangan Rayhan terkepal erat, dan rahangnya mengetat keras saat mendengar pengakuan Bella. Sungguh, ia merasakan terkhianati selama ini. Bagaimana mungkin Bella tega mengatakan kalimat tersebut, pengakuan tentang perasaannya terhadap pria lain.
"Kau masih mencintainya, huh?" tanya Rayhan dengan nada suara yang naik satu oktaf, pertanda bahwa kemarahannya benar-benar tak tertahankan lagi. "Lalu selama denganku, bagaimana? Atau jangan-jangan kau hanya berpura-pura selama ini? Asal kau tahu, Bella. Kau juga selalu mengatakan hal yang sama padaku, tetapi ternyata itu semua kebohongan."
Bella tahu, bahwa sekarang ia benar-benar telah berhasil menghancurkan hati Rayhan. Meskipun tidak tega, tetapi memang beginilah seharusnya.
Biarkan saja Rayhan merasa sakit sekarang, daripada ia harus menanggung lebih lama karena tahu bahwa hubungan keduanya memang tidak bisa lagi diselamatkan. Sampai kapan pun, tidak akan ada masa depan untuk hubungan keduanya.
"Ray, hubungan kita tidak seperti yang kau bayangkan. Aku tidak benar-benar bahagia selama ini. Aku tidak benar-benar merasakannya saat bersamamu, walau dipaksa dengan sekeras apa hal itu hanya akan menimbulkan rasa sakit. Sejak dulu dia masih memiliki tempat itu."
Itulah yang Rayhan rasakan. Dia tidak menyangka kalau pada akhirnya Bella mengutarakan semua isi hatinya. Sebelumnya, dia tahu ada yang salah pada Bella, tetapi ia tetap percaya bahwa selama Bella berada di sisinya, maka perempuan itu miliknya seutuhnya.
Ternyata ia salah, hubungan yang mereka jalani sama sekali tidak ada artinya untuk Bella. Dan mendengar langsung kejujuran itu dikatakan sendiri oleh Bella, kenapa itu terasa lebih menyakitkan?
"Apa kau mencoba mengatakan bahwa semua tawa yang kau bagi saat bersamaku adalah sebuah kebiasaan? Apa kau sepandai itu berbohong sehingga dengan mudahnya aku tertipu? Kenapa sejak awal kau tidak jujur saja, huh?"
Sungguh, Rayhan merasa benar-benar bodoh karena telah tertipu habis-habisan oleh Bella.
"Sekarang beritahu aku alasan kenapa kau menipuku? Aku hanya ingin tahu kenapa dengan hebatnya kau menyembunyikan perasaan yang katanya hanya pura-pura itu?" lanjut Rayhan kembali, kali ini dengan raut wajah tegas.
__ADS_1
Sebenarnya, Rayhan tahu kalau kemungkinan besar Bella berbohong dengan kalimatnya barusan. Rayhan kenal perempuan itu dengan baik dan di antara semua orang yang pernah Bella kenal, mungkin hanya dirinyalah dan sahabat kecil Bella yang mampu mengenalnya perempuan itu dengan baik, akan tetap Rayhan tidak ingin mencari kejujuran Bella hari ini.
Rayhan hanya ingin tahu, apakah masih ada sedikit kemungkinan untuk bersama, atau memang harus berakhir?
Bella tidak memberi respons apa-apa lagi, hanya isak tangisnya saja yang sesekali terdengar. Dia hanya mencoba tetap duduk di kursi miliknya sambil menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk hatinya sejak tadi.
Sungguh, Bella benar-benar tidak ingin menangis di hadapan Rayhan, tidak hari ini. Tetapi air matanya benar-benar tak terbendung lagi, rasa sakit itu menjadi satu dan membuat air mata yang ditahannya mati-matian luruh juga.
Rayhan menarik tangan Bella dan menggenggamnya dengan erat. "Kau tahu kalau aku sangat mencintaimu, bukan? Aku mohon, untuk kali ini jangan lakukan ini padaku, Bella!"
Sekali lagi Bella mendongak dan menatap Rayhan dengan tatapan nanar. "Tidak, Ray. Aku sudah menikah, bersama pria yang memang sudah menempati hatiku sejak lama. Aku bahagia menikah dengannya!"
"Bohong!" potong Rayhan dengan keras. "Kau tidak bahagia, aku tahu kau tidak bahagia meski menikah dengan pria yang katanya cinta tak terlupakanmu itu. Aku bisa melihat itu dari matamu, Bella!"
"Maafkan aku!"
"Please …" rintih Rayhan.
Rayhan benar-benar tidak siap kalau mulai hari ini dan seterusnya ia tidak akan pernah bisa melihat wajah cantik dan tawa Bella lagi. Rayhan pasti akan merindukannya, sangat-sangat merindukannya. Dan Rayhan tidak siap menjemput kehilangan.
Bella bangkit dari tempatnya duduk, bergegas kembali memasang mantelnya. "Sekali lagi maafkan aku, Ray!"
Permohonan maaf!
Hanya itu yang mampu Bella katakan. Dia tahu, sampai kapan pun ia tidak akan pernah termaafkan dengan menyakiti orang sebaik Rayhan. Kalaupun ada kata yang lebih baik untuk menebus rasa bersalah selain maaf, mungkin Bella akan menggunakannya sebanyak yang dia bisa.
__ADS_1
Karena ia tahu, kesalahannya pada Rayhan sangatlah besar.