Wedding Chaos

Wedding Chaos
Cari Jawabannya!


__ADS_3

“Satya pergi mengurus bisnisnya dan kau percaya begitu saja?”


Bella mengerutkan keningnya. “Kenapa dia harus berbohong padaku?"


“Tentu saja karena kau istrinya, Bel. Kau memutuskan Rayhan dan memilih fokus pada pernikahanmu. Apa kau yakin dengan keputusanmu? Maksudku, Satya bisa saja mengambil keputusan yang berbeda denganmu."


Bella sedikit paham tentang apa yang ingin di sampaikan oleh sahabatnya tersebut. Dia tentu paham bahwa Joy sudah pasti khawatir dengan keputusan yang akan di ambil oleh Bella tentang kehidupannya. Tetapi mau bagaimana lagi, di saat ia memutuskan Rayhan, di saat itu juga ia percaya dengan kalimat Satya yang mengatakan akan membuat pernikahan mereka nyata.


Polos sekali? Ya, mungkin!


“Satya mengatakan bahwa dia juga akan fokus pada pernikahan ini. Setidaknya, itulah yang dia katakan padaku di malam pertama kami menikah.”


Joy kembali menyeruput minumannya, sebelum kembali melanjutkan bertanya, "Baiklah. Lalu, di mana negara yang dikunjungi Satya seminggu ini?”


Bella tampak berpikir dan tanpa rasa curiga dia kembali berkata, “London mungkin. Aku tidak ingat pasti, tetapi aku rasa pendengaranku waktu itu tidak salah. Jadi Satya memang tidak pernah memberitahuku, tapi aku dengar dari beberapa pelayan, negara mana yang dia datangi.”


Tanpa menjawab perkataan Bella, kali ini Joy meraih ponsel yang tadi diletakkan di atas meja. Dia sibuk mengotak-atik ponselnya seperti sedang mencari sesuatu dan sebuah senyuman yang terlihat begitu sinis tertarik begitu saja dari bibir Joy.


“London. I see,” Joy memperlihatkan sebuah grup chat modeling miliknya. Di mana salah satu anggotanya adalah Luna. “Wanita itu saat ini juga sedang berada di London, Bel. Beberapa waktu lalu, aku dengar Luna menandatangani kontrak pertamanya dengan salah satu agency terkenal di sana. Apa menurutmu ini bukan sebuah kebetulan?"

__ADS_1


Sejujurnya ada perasaan tercubit di dalam hati Bella mendengar kebenaran yang ditunjukkan oleh Joy. Namun dia mencoba untuk terlihat tegar di hadapan sahabatnya tersebut. “Apa mungkin saat ini dia berbohong padaku untuk menemui mantan kekasihnya?"


Joy mengendikkan kedua bahunya, kemudian kembali menatap wajah sahabatnya dalam tatapan lekat. “Kau tahu, aku tidak ingin menarik kesimpulan apa pun, tetapi kau juga harus ingat kalau lelaki itu bisa saja tidak jujur padamu. Mungkin dia tidak mencintaimu dan menurutnya kau mungkin juga tidak mencintainya. Apa pun bisa saja selalu terjadi, Bel.”


Bella masih mencoba berpikiran positif thinking tentang apa pun yang dilakukan Satya di luar sana. "Aku yakin Satya punya alasan."


"Aku tidak menuduhnya, Bella. Aku hanya ingin memastikan apa Satya serius akan mengakhiri hubungannya dengan mantan kekasihnya itu atau tidak. Dan benar-benar akan fokus pada pernikahan kalian. Oh iya, aku akan bertanya satu hal lagi, apa sejak kalian menikah, apa dia sudah pernah—“ Sebelum melanjutkan kalimatnya, Joy mendekat dan berbisik di telinga Bella. “Menyentuhmu? Maksudku menyentuh dalam artian lain?”


“Apa kau sudah gila, Joy?” potong Bella kesal. “Mana mungkin kami berdua melakukannya. Kau tahu, aku dan dia sama-sama mencintai orang lain dan lagi pula aku tidak pernah melakukan itu sebelumnya dengan siapa pun. Apakah kau pikir itu mudah?”


"Nah, itulah masalahnya, Bella. Kau harus tahu mantan kekasih Satya itu adalah seorang pemain Pro di bidangnya. Satya itu seorang lelaki dewasa! Ayolah, Jangan berpikir terlalu polos. Apa kau tidak takut Satya kembali mencari kehangatan itu pada Luna? Lagi pula, kau adalah istrinya. Apa ada yang salah?”


"Entahlah, Joy. Untuk saat ini, aku hanya akan berusaha mempercayai Satya," ucap Bela begitu saja. Meskipun dia juga tidak begitu yakin dengan hal yang baru saja dia katakan.


Joy memutar bola matanya dengan kesal karena Bella yang terkesan sangat polos. "Sudah aku katakan, aku sama sekali tidak menuduhnya. Kau hanya harus ingat bahwa dia seorang lelaki dan mantan kekasihnya bukan wanita biasa. Kau yakin wanita itu akan membiarkan kau dan Satya bahagia begitu saja?"


“Tetapi, dialah yang meninggalkan Satya."


“Yah, tetapi itu bukan alasan untuk mencegahnya kembali, Bella.” Joy menepuk-nepuk punggung tangan Bella yang berada dalam genggamannya.

__ADS_1


“Aku hanya mengingatkanmu. Kau tahu, aku kenal dunia Satya dan kekasihnya itu lebih baik daripada kau. Bisa dibilang kami dalam lingkungan hidup yang hampir sama. Sangat jauh berbeda denganmu, kau wanita baik dan juga sederhana. Aku tidak mengatakan bahwa Satya, aku atau Luna adalah orang yang buruk, tetapi tetap saja kehidupan kami lebih gelap daripada yang kau duga. Kami melakukan banyak pesta dan permainan, kami bahkan menghabiskan banyak waktu untuk bekerja dan bersenang-senang. Ada beberapa hal yang mungkin tidak kau pahami mengenai dunia Satya."


Bella tahu, kehidupan Joy memang berbeda dengannya. Menurutnya kehidupan yang Joy jalani sangatlah bebas dan bertentangan dengan hidup yang Bella jalani selama ini. Bukan hanya masalah status sosial, lingkungan hidup dan pergaulan pun jauh berbeda. Wanita biasa seperti Bella mungkin tidak akan mengerti kehidupan Joy atau orang-orang lain di luar sana.


Mendengar perkataan Joy yang memang benar adanya, Bella hanya mengangguk. Tidak ada salahnya jika dia mendengar apa yang dia katakan oleh sahabatnya itu. Biar bagaimana pun Joy hanya memberinya peringatan untuk lebih berhati-hati pada mantan kekasih Satya yang bisa sewaktu-waktu kembali, dan merebut Satya darinya.


“Lalu, aku harus bagaimana, Joy?”


Bukannya ingin menakut-nakuti Bella tentang kehidupan bebas yang dimiliki Satya dan Luna, Joy hanya berusaha memberitahu Bella agar tidak sepolos itu dalam menyikapi hubungan keduanya. Joy selalu berharap agar Bella dilimpahi banyak kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya, dan ia tidak mau melihat sahabatnya itu sampai bersedih dan kecewa. Oleh karena itu, ia mewanti-wanti sejak awal agar selalu waspada. Karena apa saja bisa terjadi, tanpa terkira.


"Semua sudah terlanjur terjadi, Bel. Jika kau begitu keras meninggalkan Rayhan untuk mempertahankan pernikahanmu dan Satya, kau juga harus bersikap seperti seorang istri yang sebenarnya. Kalian berdua harus bersikap seperti suami istri di depan umum maupun di saat kalian hanya berdua. Kau mengerti bukan maksudku?”


Bella tentu saja mengerti apa yang dimaksud oleh Joy, tetapi tetap saja dia merasa aneh jika harus melakukan hal ‘itu' bersama Satya. Dan juga, apakah pria itu ingin melakukan hal ‘itu' bersamanya, atau justru tidak? Bukankah akan sangat memalukan jika Bella menawarkan diri, tetap ternyata Satya menolaknya dengan mentah-mentah. Bukankah itu akan sangat memalukan? Seketika Bella bergidik ngeri membayangkan hal tersebut.


“Tetapi—“


“Jangan memberi wanita itu celah untuk kembali. Kau tahu, mempertahankan pernikahan itu tidaklah mudah. Kau pernah menaruh rasa padanya dulu, berbeda dengan Satya yang tidak bisa ditebak. Bisa saja dia mencintaimu, tetapi bisa saja juga tidak. Jadi, jalan satu-satunya kau yang harus membuat dia mencintaimu. Buat dia menjadikanmu satu-satunya wanita dalam hidupnya. Buat dia tidak bisa hidup tanpamu. Kau akan mengerti, ada satu hal yang bisa kau berikan pada Satya, namun tak bisa diberikan wanita itu kepadanya.”


“Apa itu?”

__ADS_1


"Kau akan menemukan jawabannya sendiri, Bel. Jadi pastikan kau menyiapkan dirimu dengan baik saat Satya kembali dari perjalanan bisnisnya.”


__ADS_2