
“Bagaimana aku harus menjelaskannya, aku benar-benar sibuk hari ini jadi berhenti membuang-buang waktu untuk pertanyaan yang sama.” Joy tampak sibuk mengomeli seseorang di teleponnya.
Sesekali dia hanya melirik sekilas ke arah Bella kemudian menyeruput ice cappuccino yang telah dipesankan Bella terlebih dahulu.
“Aku tidak mau mendengar alasan apa pun. Pokoknya aku tidak mau kau sampai menerima tawaran iklan tersebut. Titik!” Kemudian Joy mematikan ponselnya dengan raut wajah kesal.
“Aku tidak mengerti kenapa dia masih saja memintaku untuk menjadi bintang iklannya,” ucap Joy pada dirinya sendiri.
Dia meletakkan ponselnya begitu saja dalam gerakan yang cukup kasar, sebelum menatap Bella dengan tatapan penyesalan. “Maaf aku terlambat, Bel,” ucapnya pada Bella dengan penuh rasa bersalah.
Bella di depannya mengulas senyum lembut. “Tidak apa-apa. Aku mengerti bahwa kau selalu sibuk.”
Joy kemudian melepas kacamata hitam miliknya. “Seperti biasa, aku yang selalu sibuk ini merasa bahwa beberapa hari ini orang yang selalu mengeluh tentang kesibukanku akhirnya memiliki kesibukan yang lebih dari pada aku.”
Sekali lagi Bella tersenyum melihat raut wajah Joy yang masih terlihat kesal kepadanya. “Ya, begitulah!”
Sontak saja Joy mengerutkan keningnya dan menatap Bella dengan kesal. “Seriously?” Joy berdesis kesal pada sahabatnya yang selalu terlihat santai seperti biasanya. Seolah tak ada satu beban pun dalam hidupnya. “Apa kau tidak berkeinginan untuk meminta maaf padaku?”
“Hm?” Bella mengangkat alisnya merasa tidak mengerti dengan apa yang dimaksud sahabatnya tersebut. “Minta maaf untuk apa, Joy?”
Joy memutar bola matanya, merasa jengah karena teman baiknya itu masih saja tidak peka dengan apa yang dia maksud. “ Kau menikah dan tidak memberitahuku, Bella. Apa aku satu-satunya orang yang bersahabat denganmu sejak kecil tidak berhak tahu mengenai salah satu hal penting di dalam hidupmu itu? Ini hari bersejarahmu, tetapi kenapa kau tidak memberitahuku? Apakah aku bukan sahabatmu? Apa aku hanya orang asing di dalam hidupmu?”
__ADS_1
Melihat Joy yang terlihat kesal dan sangat marah kepadanya itu membuat Bella lagi dan lagi hanya bisa tersenyum. Sejujurnya, Bella selalu saja merasa bahagia melihat sahabatnya itu tidak pernah berubah. Selalu cerewet dan tampak ceria seperti biasanya.
“Maafkan aku, Joy. Aku memang telah bersalah padamu,” ucapnya mengalah agar Joy tidak semakin merasa kesal kepadanya.
Joy hanya mendengkus kasar mendengar permintaan maaf dari Bella. “Kalau saja aku tidak ke rumahmu, mungkin selamanya aku tidak akan tahu bahwa sahabatku akhirnya menikah. Aku juga ikut menantikan momen bahagia itu seumur hidupku, tetapi apa yang kau lakukan adalah tidak membiarkanku terlibat bahkan hanya sebagai tamu. Aku sudah melupakan menjadi bridesmaid tercantik di pernikahanmu, tetapi apa kau tidak ingin mendapat pelukan dari sahabatmu ini?”
Sungguh! Dengan kalimat panjangnya tersebut yang memuat uneg-uneg kekecewaannya, Joy sudah berusaha keras menahan kekesalannya pada Bella sejak dia tahu sahabatnya itu menikah tanpa memberitahunya.
Bella tahu kalau Joy pantas marah dan kecewa padanya. Tetapi semua ini tidak berjalan sesuai keinginannya, pernikahan ini menurutnya tidaklah nyata untuk diketahui banyak orang, termasuk Joy.
“Jo, aku sungguh-sungguh meminta maaf padamu. Bukan bermaksud tidak ada niatan untuk mengundangmu, tetapi kau harus tahu bahwa hidup ini sangatlah sulit untuk diprediksi. Aku juga baru tahu kalau ternyata ada banyak hal yang bisa saja terjadi tanpa pernah kita sangka. Complicated.”
Joy terdiam, tampak mencerna arti dari kalimat yang dilontarkan oleh Bella, sebelum berdeham pelan. “Sudahlah, lagi pula semuanya sudah terjadi, tidak akan mungkin buat diulang lagi, bukan?” Joy terkekeh di akhir kalimatnya, Bella yang melihatnya juga ikut terkekeh pelan.
“Huh? Siapa maksudmu?” tanya Bella masih tidak mengerti dengan perkataan Joy dan mengenai lamaran itu.
Joy langsung menyengir lebar. “Pertama-tama maafkan atas kebohonganku selama ini karena telah merahasiakan rencana lamaran Rayhan padamu sejak berbulan-bulan yang lalu. Kau tahu, aku melakukannya untuk membuat hari istimewa yang sudah disiapkan oleh Rayhan tidak gagal, dan ya ... akhirnya, di sanalah kalian. Kau tahu aku bahagia akhirnya kau bersama seseorang yang kau cintai."
Bella sepertinya lupa mengenai hal yang satu itu. Dia membenarkan berita mengenai pernikahannya pada Joy, tetapi dia tidak memberitahu dengan siapa dia menikah.
“Apa kau pikir aku menikah dengan Rayhan?"
__ADS_1
Dan Joy membalas pertanyaan Bella dengan sebuah anggukan.
Bella menghela napas pelan sebelum kembali melanjutkan kalimatnya, "Tetapi, lelaki itu bukan Rayhan."
Mendengar pengakuan Bela, Joy langsung tersedak minuman yang saat itu sedang dia teguk. “Apa maksudmu tidak menikah dengan Rayhan? Bukankah kalian—"
Kali ini Bella langsung tertunduk. Fakta bahwa selama ini Rayhan berniat untuk melamarnya dan berusaha keras agar mereka bisa bersama dalam mahligai hidup pernikahan dan kenyataan itu menghantam dada Bella dengan keras. Sesak, itulah yang Bella rasakan saat ini. Kenyataan bahwa rencana pernikahan mereka tepat berada di depan mata dan rasa bersalah kepada Rayhan kini semakin bertambah, membuat Bella merasa bahwa dirinya adalah wanita paling jahat di dunia ini.
Bagaimana bisa dia menyakiti dan menghancurkan hati pria itu selama ini berulang kali? Padahal, lelaki itu sudah memberikan hampir seluruh yang dia miliki untuk Bella.
Cinta, kesetiaan dan satu lagi, kebahagiaan.
Joy yang mendengar segala penuturan yang dilontarkan oleh Bella hanya bisa menghela napas, kemudian meraih tangan sahabatnya itu ke dalam genggamannya. “Apa aku sudah melewatkan begitu banyak hal? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.”
Bella menghela napas berulang kali, seakan-akan merasa berat melontarkan sebuah kenyataan yang tentu saja akan membuat Joy terkejut mendengarnya. “A—aku ... aku menikah dengan Prasatya Brawijaya. Tidak ... lebih tepatnya aku terpaksa menikah dengan sahabat orang tuaku.”
“Huh? Prasatya Brawijaya? Pria yang selalu kau ceritakan dan elu-elukan saat kita masih duduk di bangku SMA? Lelaki yang katanya sangat bersinar di kelasmu itu?”
Bella hanya mengangguk lemah. Kali ini dia mengangkat wajahnya yang mulai basah oleh air mata dan pemandangan itu cukup membuat Joy juga ikut terluka. Kesedihan yang Bella tampakkan terasa begitu nyata dan sangat menyedihkan.
Joy tidak mungkin tidak tahu siapa itu Satya. Dulu, dia dan Bella memang bersekolah di sekolah yang terpisah karena orang tua Joy yang selalu berpindah-pindah kota, tetapi saat liburan Joy selalu datang untuk mengunjungi Bella dan wanita itu ingat betul, Bella beberapa kali menyebut Satya sebagai pria yang sangat bersinar di dalam kelasnya.
__ADS_1
Dan, apa dia tidak salah dengar kalau kini Bella sudah menikah dengan pria yang katanya cinta monyetnya saat masih di bangku SMA?