Wedding Chaos

Wedding Chaos
Sebuah Kebenaran


__ADS_3

"Sudah kuduga kau masih ada di sini," ucap Satya sembari menatap wajah wanita yang baru saja membukakan pintu apartemen itu untuk Satya.


Perempuan tersebut seketika terkejut melihatnya, tetapi dia tidak melakukan apa-apa dan hanya terdiam. Memilih menatap Satya dengan tatapan tidak menyangka, juga bersalah karena sudah kabur di hari pernikahan mereka.


Luna akan kembali menutup pintu apartemennya, tetapi Satya lebih dahulu menahan pintu itu sebelum Luna berhasil menutupnya. Lalu dengan kasar dia mendorong pintu itu semakin melebar dan tanpa dipersilakan langsung masuk ke dalam apartemen Luna dengan paksa.


Sadar dengan apa yang baru saja terjadi, Luna menatap Satya dengan geram. "Mau apa kau ke sini?" Kali ini perempuan itu bertanya dengan suara bergetar.


Satya tertawa getir mendengar pertanyaan dari Luna. Perlukah perempuan itu bertanya mengenai kedatangannya setelah semua yang telah dilakukan kepada dirinya?


'Sedang apa dia di sana?'


Tentu saja Satya datang untuk mendengar penjelasan dari Luna. Ada banyak sekali pertanyaan yang bergelayut di dalam kepala Satya, tetapi malam ini dia hanya ingin tahu satu hal mengenai Luna, dan alasan apa yang dia miliki hingga wanita itu nekat pergi di hari pernikahan mereka.


"Kau seharusnya sudah bisa menduga ini sebelumnya, Luna. Kau kenal aku, bukan? Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan bebasnya begitu saja setelah apa yang kau lakukan padaku!"


Satya melangkah mendekat, tetapi wanita itu mengambil langkah mundur untuk menjauhi pria itu. Terlihat sekali tampak ketakutan dengan keberadaan Satya di sekitarnya.


"Jadi, kau ingin membalas dendam? Kau ingin menyakitiku, huh?"


Luna membalas perkataan Satya setengah menantang. Meskipun begitu, dia tahu lelaki itu tidak akan mungkin menyakitinya. Tetapi tetap saja, Luna sadar bahwa seseorang bisa saja berubah menjadi bukan dirinya ketika sedang marah ataupun terluka.


"Ayo, lakukan! Marah padaku, Satya!" lanjut perempuan itu setengah berteriak.


Satya bahkan tidak mengerti dengan situasi ini. Dirinyalah yang seharusnya marah pada Luna atas semua yang sudah perempuan itu lakukan kepadanya, bukan malah sebaliknya.

__ADS_1


Langkah kaki Satya kemudian terhenti begitu saja mendengar teriakan Luna yang menggema di seluruh ruangan tersebut. Kini dia tidak lagi mencoba untuk mendekati perempuan tersebut. Ya, Satya masih saja lemah kalau tentang Aluna. Dia tidak suka melihat perempuan itu ketakutan, terlebih lagi karena dirinya.


Satya menatap Luna sembari menggeleng-gelengkan kepala. Terlihat sekali kalau ia terlihat tak berdaya kali ini dalam menghadapi perempuan itu.


"Apa kau pikir aku mampu untuk menyakitimu, Luna?" Kali ini Satya bertanya dengan suara yang terdengar lirih.


Sungguh! Satya datang ke sini hanya ingin meminta penjelasan atas semua yang telah terjadi. Tetapi Luna seakan sengaja untuk mempersulit situasi. Di satu sisi Satya marah, kecewa dan juga terluka, tetapi di sisi lain dia sangat-sangat mencintai wanita itu.


Terlalu cinta untuk sekedar meluapkan seluruh perasaan buruk yang disebabkan oleh perempuan itu.


"Kenapa kau tidak datang hari itu?" lirih Satya, dengan tatapan nanar yang terarah ke arah wajah cantik Aluna.


"Aku hanya tidak ingin menikah denganmu!" Luna mengalihkan pandangannya dari tatapan Satya saat mengatakan kalimat menyakitkan itu.


Satya hanya bisa tersenyum kecut mendengar jawaban dari perempuan yang sangat dicintainya. "Lalu kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal? Kau yang meminta pernikahan itu dan aku menurutinya karena aku sangat-sangat mencintaimu. Kau pun tahu bahwa aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan asal kau berjanji untuk tetap di sisiku."


Tetapi tetap saja, ia tidak bisa!


Tanpa berani menatap wajah Satya, Luna melontarkan sebuah kalimat yang tentu saja akan sangat menyakiti seorang Satya yang begitu tulus.


"Aku mencintai orang lain, Sat!"


Lalu, dengan berat hati. Kini Luna mengalihkan pandangan ke arah Satya yang terlihat jelas terkejut dengan pengakuannya. Dan tanpa menunggu pria itu bisa mencerna dengan baik kalimatnya, Luna kembali menambahkan.


"Aku mencintai orang lain, hal itulah yang membuatku tak bisa menikah denganmu!"

__ADS_1


Mendengar pengakuan seorang Aluna, Satya hanya bisa tertunduk. Rasa sedih dan tidak percaya menjadi satu padu, dan menimbulkan kesedihan mendalam yang dirasakan oleh Satya.


Dia masih berusaha keras untuk menemukan kebohongan Luna dari dalam suara itu, tetapi suara tersebut terlalu yakin untuk disimpulkan sebagai sebuah kebohongan.


"Lalu, selama ini itu apa? Bertahun-tahun kita menjalani sebuah hubungan, itu semua apa, Luna?"


Kali ini Luna sudah menatap Satya dengan percaya diri. "Aku tidak seharusnya melibatkanmu, Satya. Kau lelaki yang baik dan aku tidak pantas untuk pria sepertimu."


"Bullshit!" desis Satya tanpa ditahan-tahan lagi. Dia kemudian mendongak dan menatap Luna dengan rasa marah. "Kalau seperti itu, apa pria yang katanya kau cintai itu adalah orang buruk untuk orang sepertimu, huh?"


Luna seketika terdiam mendengar perkataan Satya yang begitu menohok. Dia tahu betul bahwa pria itu bukanlah lelaki yang buruk. Lelaki yang dicintainya itu sempurna untuk digambarkan sebagai dewa.


"Kau diam karena kau tahu bahwa pria itu tidak buruk. Dia sama sepertiku, bedanya kau hanya mencintainya dan aku tidak. Meskipun begitu, aku ragu dengan perasaan perempuan sepertimu, yang begitu mudahnya mengelabuiku dengan mulut manismu itu."


Satya terdiam dengan napas terengah-engah setelah mengatakan kalimat tersebut, setelah itu ia kembali melanjutkan perkataannya. "Kau yakin mencintainya atau kau hanya bersikap egois, Luna?"


Untuk sesaat suasana menjadi hening. Luna masih memilih diam mendengar semua perkataan Satya yang benar-benar menohok hati dan perasaannya.


"Kau memilih menjalin hubungan denganku karena aku kaya dan aku bisa memberikan semua yang kau inginkan melebihi dirinya, bukan? Jika kau mencintainya seperti yang kau katakan, kenapa kau meninggalkannya untuk menjalin hubungan denganku? Apa kau benar-benar memahami arti dari mencintai, Luna?"


Aluna merasa marah dengan setiap kalimat yang dilontarkan Satya untuknya. Sungguh! Ia tidak mau lagi mendengar setiap kalimat Satya yang terkesan menyudutkannya itu.


"Kau datang hanya ingin tahu alasan kenapa aku tidak bisa menikah denganmu, dan aku sudah memberikan jawaban yang ingin kau dengar. Lalu apa lagi, huh?"


Sekali lagi Satya hanya bisa menghela napas panjang. "Aku hanya ingin mendengar sebuah penjelasan, Luna. Mungkin aku bodoh karena membiarkan diriku terlibat sejauh ini bahkan setelah dengan mudahnya kau meninggalkanku, tetapi karena kau sudah mengatakan apa yang ingin aku dengar, aku bisa menganggap bahwa semuanya memang sudah berakhir."

__ADS_1


Satya terdiam, menatap wajah Luna lekat-lekat. Setelah itu ia menarik napas lelah sebelum melanjutkan kalimatnya. "Lagi pula, aku juga sudah menikah."


Deg!


__ADS_2