Wedding Chaos

Wedding Chaos
Perempuan Egois


__ADS_3

"Lagi pula, aku juga sudah menikah."


Luna mengerutkan dahinya, merasa tidak mengerti dengan kalimat yang dilontarkan oleh Satya. "Bukankah pernikahannya batal?"


"Pernikahan kita memang batal, tetapi tidak dengan pernikahanku."


Kali ini Satya berbalik membelakangi perempuan itu. Dia menutup matanya untuk meredam rasa sakit yang tiba-tiba saja hadir memenuhi seluruh hatinya. Satya tahu, meskipun Luna mengatakan dia pergi karena tidak ingin menikah dengannya, tetap saja kenyataan bahwa dia sudah menikah dengan perempuan lain menghancurkan perasaan perempuan itu.


Luna tercekat mendengar perkataan Satya, ia terkejut luar biasa. Di antara rasa kagetnya, ia mendekat ke arah Satya. "Apa maksudnya, Sat?"


Perempuan itu bertanya dengan suara yang bergetar. Ada perasaan takut yang tiba-tiba saja hadir. Wanita itu mencoba memastikan bahwa apa pun yang dia pikirkan tentang Satya itu salah.


"Aku sudah menikah, Luna. Dan itu adalah kebenaran dan nyata."


Luna sontak tertawa terbahak-bahak. Namun, tawanya tersebut adalah ungkapan luka dan rasa tidak percaya. Tawanya juga berisi keraguan dan ketakutan.


"Apa kau coba menggertakku dengan kebohongan itu, huh? Jangan berbohong, aku tahu kau mencintaiku. Dan kau tidak mungkin menikah dengan wanita lain," ungkapnya bersikeras.


Entahlah! Luna hanya tidak percaya dengan perkataan Satya yang katanya sudah menikah. Itu mustahil, mengingat bagaimana cinta matinya pria itu kepada dirinya. Dan menikah dengan wanita lain adalah sebuah kebohongan besar yang telah dikatakan oleh pria itu.


Satya berbalik dan menatap wajah wanita itu yang masih berdiri di belakangnya dan menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca. Tanpa perasaan ragu dia kemudian mengangkat tangannya, menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Mungkin aku bisa membeli ribuan cincin untuk membohongimu mengenai pernikahanku. Tetapi asal kau tahu, aku tidak sehebat itu dalam membuat drama untuk membuatmu kembali berpaling padaku. Lagi pula, aku tidak punya alasan apa pun untuk berbohong, terlebih lagi setelah mendengar sendiri perasaanmu padaku yang sebenarnya."

__ADS_1


Air mata jatuh begitu saja membasahi pipi Luna mendengar penuturan kalimat Satya. "T—tetapi kau bilang mencintaiku dan hanya diriku seorang. Serta hanya akan—"


"Menikahimu?" potong Satya melanjutkan kalimat Luna, kali ini di sertai dengan sedikit tawa yang terdengar sinis. "Bukankah aku tidak salah jika mengatakan bahwa kau adalah perempuan egois? Pertama kau bilang tidak ingin menikah denganku. Kedua, kau mencintai orang lain dan setelah semua itu, apa kau berharap aku akan terus menunggumu kembali seperti orang bodoh, huh?"


Luna menggeleng-gelengkan kepada dengan dramatis. Dia mendekat dan mencoba menemukan kebohongan di kedua mata Satya, tetapi dia tidak menemukannya di sana. Sekali lagi dia mencoba meyakinkan diri bahwa Satya hanya mencoba menakut-nakutinya.


Bukan! Bukan seperti ini yang Luna inginkan.


"Aku selalu memaafkan semua kesalahanmu, bahkan ketika aku tahu kau memiliki orang lain di dalam hidupmu. Aku memang sangat bodoh, dan kau pasti menertawakanku karena berhasil tertipu denganmu. Benar, bukan?"


"Sat, itu—" Wanita itu berucap lirih.


"Sejujurnya kau memilih meninggalkanku karena surat kontrak kerja di agency modeling itu, bukan?"


Mendengar fakta yang diungkapkan oleh Satya, sekali lagi bahu Luna bergetar hebat. Air mata yang berusaha ditahannya sejak tadi kini mulai kuat semakin deras membasahi kedua pipinya.


Luna dibuat tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya diam sambil terus menangis, membiarkan Satya mengatakan apa pun yang ingin dia katakan. Menghukumnya dengan setiap kalimat yang terdengar sangat menyakitkan.


Satya berdeham pelan, berusaha menguatkan hati sebelum kembali berkata, "Sekarang kau sudah mendapatkan mimpimu. Mungkin setelah ini kau juga akan mendapatkan lelaki yang kau cintai kembali." Satya menatap wanita itu lekat-lekat, seakan-akan merekam dengan baik wajah yang pernah ia cintai setengah mati. "Aku tidak hidup untuk membencimu, tetapi kau akan selalu menyesali semua yang kau lakukan padaku. Seumur hidupmu dan mulai sekarang jalanilah karmamu itu dengan baik, Luna."


Setelah mengatakan kalimat itu, Satya melangkah menuju pintu keluar apartemen tersebut. Namun baru beberapa langkah, wanita itu bergerak dengan cepat menahannya dan mencoba menghentikannya dengan memeluknya dari belakang.


"Jangan pergi! Aku tidak ingin kehilanganmu, Sat!" rintih Luna di tengah isak tangis yang terdengar semakin memilukan.

__ADS_1


Sungguh, ingin rasanya Satya berbalik dan balas memeluk perempuan itu. Lalu menenangkannya dengan ciumaan lembut dan pelukan kasih sayang. Tetapi Satya tidak akan melakukan hal tersebut, Luna pantas mendapatkan hal ini. Perempuan itu harus sadar, bahwa saat ia pergi menjauhinya maka saat itu juga ia telah kehilangan dirinya.


"Aku tidak ingin kehilanganmu, Satya," ucapnya di tengah isak tangis yang terdengar sangat memilukan. "Maafkan aku, tetapi kita bisa memulainya kembali. Aku akan melupakan tentang model, dan kembali padamu. Hanya denganmu, bersamamu selamanya."


Sebegitu gampangnya perempuan itu berkata 'berubah'? Tidakkah wanita itu sadar bahwa apa yang dilakukannya dengan kabur dari pernikahan telah menimbulkan banyak masalah. Karena keegoisan perempuan itu, ia telah menarik seseorang ke dalam permasalahan ini dengan paksa.


Bella?


Ya, perempuan itu tidak layak untuk tersakiti. Oleh karena itu, dengan lantang ia akan memilih bertahan dengan Bella, meskipun segala bujuk rayu dilontarkan oleh Luna. Baginya Luna adalah masa lalunya, dan Bella sekarang adalah masa depannya.


Satya melepas paksa tangan Luna yang masih melingkar di pinggangnya dengan erat. "Tidak ada lagi tentang kita, Luna. Kau sendiri yang melepaskan semuanya, kini aku sudah terikat dengan perempuan lain dan aku tidak akan mungkin mengecewakannya. Sekali lagi aku tegaskan, kita tidak akan bisa bersama lagi."


Luna menggeleng dengan frustasi. "Tidak, Sat. Aku tidak mau!"


"Jangan temui aku lagi!"


Setelah mengatakan kalimat itu, Satya benar-benar pergi. Secepat mungkin berjalan menjauhi Luna agar wanita itu tidak bisa lagi menahannya. Sedangkan di belakangnya, Luna hanya bisa tertunduk di dalam kamar apartemennya. Menangisi Satya yang sudah pergi meninggalkannya dan tidak akan pernah kembali.


'Aku mencintaimu!'


'Aku takut jika suatu hari aku tidak mendengar kau mengatakan itu lagi padaku.'


Obrolan terakhirnya dengan Satya terus saja terngiang di telinganya. Entah kenapa, dia hanya tidak bisa membiarkan Satya pergi begitu saja dan bahagia dengan wanita lain.

__ADS_1


Luna merasa bahwa Satya hanyalah miliknya. Oleh karena itu, tidak seorang pun yang boleh merebut Satya darinya.


Tidak akan pernah ia biarkan, dan ia akan membuat Satya kembali berada di sisinya. Itu adalah janji seorang Aluna.


__ADS_2