Wedding Chaos

Wedding Chaos
Haruskah Tidur Bersama?


__ADS_3

Suara pintu yang berderit seketika mengejutkan Bella dari keseriusannya membaca pesan di ponselnya. Karena hal itu, ponsel yang dipegang oleh Bella hampir saja terjatuh, dan ia mencari siapa gerangan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Dan ternyata dia adalah Satya yang kini sudah berganti pakaian.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?" gerutu Bella kepada Satya.


"Apa kau pernah mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam kamarmu sendiri?"


Bella mendengkus pelan saat mendengar pertanyaan menyebalkan yang juga dilayangkan oleh Satya. "Mulai sekarang kau harus mengetuk pintu lebih dahulu karena sekarang kau sudah menikah dan semuanya bukan tentang dirimu sendiri lagi."


Satya sampai berdecak saat mendengar ultimatum yang keluar dari bibir Bella. "Ini hari pertama kita menikah dan sepertinya kau sudah membuat aturan pertamamu. Baiklah kalau begitu, aku akan memasukkan itu ke dalam daftar hidupku. Tetapi sekarang, kau harus berganti baju. Kau tidak mungkin bisa tidur dengan gaun seperti itu, bukan?"


Bella tersadar, sejak tadi gaun menyusahkan itu memang masih melekat di tubuhnya, ia sudah merasa gerah dan diingatkan oleh Satya membuatnya ingin cepat-cepat mengganti gaun tersebut dengan pakaian tidur nyaman.


Bella kemudian menatap sekeliling kamar. Dia tahu ini bukanlah rumah dan kamarnya sendiri yang di dalamnya didominasi miliknya sendiri. Sudah pasti dia tidak memiliki pakaian ganti di rumah ini. Oh God!


"Aku tidak punya baju di sini karena memang pernikahan ini tidak terencana. Jadi aku tidak membawa pakaian ganti ke sini. Dan aku tidak mungkin pulang selarut ini ke rumahku hanya untuk bertukar pakaian."


Sekali lagi Satya hanya bisa berdecak kesal melihat kebodohan Bella. Keluarga ini sudah pasti telah menyediakan segala ***** bengek kebutuhan sang menantu kesayangan. Apa lagi hanya pakaian, sudah pasti terlipat dengan rapi di dalam lemari.


"Pelayan mungkin lupa memberitahumu. Semua pakaian untukmu ada di lemari putih tepat di sebelah kirimu. Kau bisa mengenakan apa pun yang ada di sana sesukamu."


Bella hanya tersenyum tipis sebelum beranjak ke arah lemari yang ditunjuk oleh Satya dan berlebihan adalah kata yang digunakan oleh Bella setelah lemari besar itu terbuka.


Ada banyak sekali pakaian di sana dan semuanya baru. Apa ini memang dipersiapkan dan diperuntukkan untuknya? Ah … apa jangan-jangan pakaian-pakaian itu milik Luna?


Kesal dengan pikirannya sendiri, Bella kembali menoleh dan menatap Satya dengan pandangan menyipit. "Aku tidak mau memakai pakaian orang lain," ucap Bella sembari melipat kedua tangan di depan dada dan menatap Satya dengan sedikit rasa marah.

__ADS_1


Satya yang tidak mengerti sontak bertanya, "Apa maksudmu?"


"Pakaian-pakaian ini milik Luna, bukan? Bukankah perempuan itu yang sebelumnya akan menjadi istrimu, sudah pasti pakaian-pakaian ini dipersiapkan untuknya. Dan aku tidak mau jika menggunakan pakaian bekas dari wanita lain, meskipun pakaiannya masih baru."


Satya menyugar rambutnya dengan kasar. Oh Tuhan! Kenapa Bella bisa semenyebalkan itu?


"Ada apa denganmu, Bella? Pakaian-pakaian itu bukan diperuntukkan untuk Luna, tetapi mama memang mempersiapkan untukmu. Kenapa kau harus negatif thinking seperti itu dan menuduh yang tidak-tidak?"


"Sekarang ganti bajumu dengan salah satu pakaian-pakaian yang ada di lemari itu atau kalau tidak kau tidak perlu mengenakan apa-apa. Toh kita sudah pasangan suami istri, dan memang seharusnya pasangan pengantin baru tidak mengenakan apa-apa di malam pertama mereka," lanjut Satya kembali dengan penuh arti.


Sadar dengan perkataan Satya yang menurutnya sangat gila, buru-buru ia berteriak, "Dasar gila!"


Di belakangnya Satya hanya terkikik geli melihat tingkah Bella yang menurutnya sangat lucu.


Saat Bella sudah sibuk dengan pakaian-pakaian tersebut, Satya memilih duduk di tepi tempat tidur sambil memperhatikan Bella yang masih sibuk memilih pakaian yang akan dikenakan.


"Aku suka gaun malam berwarna merah itu, kau bisa mencobanya. Sepertinya itu akan cocok untukmu, Bella," ucap Satya tiba-tiba. Entahlah, hanya saja ia merasa sangat suka menggoda Bella. Karena dia tahu Bella akan kesal mendengarnya mengatakan hal tersebut.


Bella sontak menolehkan kepalanya ke belakang, dan menatap Satya dengan tatapan sinis. "Apa kau pikir aku gila, huh? Aku tidak suka gaun malam terutama berwarna merah. Apa kau mengerti?"


Lalu dengan kesal, Bella mengambil setelan piyama berwarna merah muda. Menurutnya hanya setelan itulah satu-satunya pakaian yang paling normal yang ada di dalam lemari yang didominasi oleh lingerie, dengan berbagai bentuk dan jenis. Tetapi semuanya sama, sama-sama menerawang dan begitu terbuka.


Ingin sekali rasanya Bella marah kepada orang yang sudah mengisi lemari tersebut dengan gaun-gaun malam yang sangat seksi.


"Apa kau yakin akan memakai pakaian itu? Apa kau tidak tertarik untuk—"

__ADS_1


Kembali terdengar suara Satya di belakangnya, kalimat yang menggantung tetapi Bella tentu saja mengerti apa sebenarnya yang akan dilontarkan oleh pria mesuum itu.


"Jangan berpikir macam-macam, Satya. Hentikan pembicaraan konyolmu itu sebelum kesabaranku habis!"


Satya kembali terkekeh kecil mendengar kemarahan Bella dan kekehannya tak berhenti saat melihat Bella yang sudah bergegas menuju kamar mandi untuk mengganti gaun pernikahannya.


"Gantilah di sini, Bella. Bukankah aku suamimu dan aku berhak melihatnya," teriak Satya saat melihat Bella yang sudah bersiap menutup pintu kamar mandi.


"Apa kau sudah siap mati, huh?" balas Bella berteriak nyaring disusul dengan suara pintu yang ditutup dengan kekuatan keras.


Astaga, kenapa perempuan itu menggemaskan sekali?


Senyum Satya belum juga lepas, dia hanya tidak tahu bahwa masih ada satu hal yang tidak hilang dari Bella sejak dahulu. Perempuan itu masih mudah sekali tersulut amarah dan kesal pada Satya hanya karena diganggu.


Beberapa menit kemudian Bella keluar dengan setelan piyama tidur yang sudah melekat di tubuhnya. Keduanya tidak ada yang bersuara, seperti tengah tenggelam dengan pikiran masing-masing.


"Apa kita akan tidur bersama? Di atas ranjang ini?" tanya Bella tiba-tiba.


Satya menatap Bella yang saat ini menunduk, bukan lagi Bella yang tadi. Bella yang garang dan pemarah.


Sekali lagi Satya tersenyum pelan. "Memangnya pasangan suami istri tidurnya terpisah? Tidak, 'kan?"


Bella sontak mendongak dan menatap Satya tidak setuju. "Tetapi tetap saja, kita menikah tanpa direncanakan dan sudah pasti kita tidak akan melakukan kegiatan normal yang dilakukan pasangan suami istri di luar sana, Satya."


"Pernikahan ini memang tidak direncanakan, tetapi aku akan melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Dan apa kata mama dan ayah jika melihat kita tidurnya berpisah, terlebih lagi di malam pertama kita. Jadi, jangan berpikir yang tidak-tidak, karena ranjang ini adalah tempat kita menghabiskan waktu malam ini."

__ADS_1


Kenapa Bella merasa perkataan Satya mengandung makna lain? Apa hanya dia yang berpikir aneh-aneh tentang tidur di atas ranjang bersama? Astaga, ini Satya yang mesuum atau dirinya? Gila!


__ADS_2