Wedding Chaos

Wedding Chaos
After Marriage


__ADS_3

Kedua wanita paruh baya yang masih duduk di salah satu meja menatap anak-anak mereka yang berjalan menaiki tangga, sambil bergandengan.


"Aku tidak menyangka bahwa keinginan ayah Bella dan ayah Satya benar terjadi," ungkap ibu Reva mencoba membuka kembali beberapa ingatan antara mereka di masa lalu. Tepat saat Bella dan Satya masih berumur lima tahun waktu itu.


Shena tersenyum. "Kamu dan aku tahu bahwa ayah mereka berdua tidak serius saat mengatakan hal itu, Reva. Kamu tahu, hal itu hanya sebatas keinginan yang jika terjadi syukur, tetapi jika takdir berkata lain maka kita sebagai keluarga harus berlapang dada. Sejak dahulu aku tidak ingin memaksa putriku perihal orang yang akan dinikahi. Aku dan ayah Bella bahkan sepakat akan hal itu."


Shena terus menatap putrinya yang kini sudah berada di ujung tangga. "Meskipun begitu, aku bahagia mengetahui putriku sepertinya sudah bersama dengan lelaki yang tepat. Reva, Bella berarti segalanya bagiku. Kamu tahu itu, 'kan?" Kali ini Shena menatap mata sahabatnya itu dengan mata yang nanar dan hampir saja basah karena air mata.


"Aku tahu. Satya pun begitu, aku tidak ingin membuat kesalahan yang sama pada putraku." Kini Reva balas menatap kedua bola mata Shena dengan tatapan yang sama, tatapan yang sangat menyayangi putra dan putri mereka.


"Pernikahan mereka bukan sesuatu yang kita rencanakan sebelumnya. Tetapi aku sangat bahagia, dari dalam lubuk hatiku karena Bella yang menjadi istri dari Satya. Sejak dahulu aku sangat berharap kalau mereka berdua berjodoh, Shena," lanjut Reva kembali dengan penuh keseriusan saat mengatakan kalimat tersebut.


Kali ini tangan Shena bergerak menggenggam tangan sahabatnya itu. "Reva, berjanjilah untuk menjaga putriku dengan baik. Dia sering sekali terlihat baik-baik saja, meskipun yang sebenarnya dia sedang menyimpan sebuah beban yang berat. Aku tahu memaksanya menikah adalah sesuatu yang salah, tetapi di sisi lain Satya adalah suami yang tepat untuknya. Seperti katamu, aku pun sangat bahagia karena pada akhirnya mereka menikah dan berjodoh."


Reva tersenyum lembut, dan balas menggenggam tangan Shena. "Kamu tenang saja, Bella akan menjadi seperti anak kami sendiri di sini. Aku akan menjaganya seperti kamu melakukannya, Shena."


Lalu, keduanya sama-sama meneteskan air mata dan senyum haru secara bersamaan. Pertanda kalau mereka berbahagia atas pernikahan Bella dan Satya.


****


Setelah keduanya sampai di kamar, Bella yang lebih dahulu masuk, sementara Satya mendengar beberapa informasi yang akan diberitahukan oleh sang kepala pelayan.


"Mulai besok, Tuan dan Nyonya besar akan kembali ke rumah utama."

__ADS_1


Satya agak kaget mendengar kedua orang tuanya sudah mengatur kepindahan dari rumah ini secepat itu. Orang tuanya memang pernah mengatakan perihal kepindahan mereka, tetapi Satya tidak tahu mereka akan melakukannya sehari setelah pernikahannya berlangsung.


"Apa kepindahan mereka tidak terlalu terburu-buru? Aku baik-baik saja jika mereka tinggal lebih lama di sini."


Sekali lagi pelayan itu menjawab pertanyaan dari tuannya. "Rumah ini memang diperuntukkan untuk Anda tempati bersama sang istri setelah menikah, Tuan. Lagi pula, kata tuan dan nyonya besar mereka harus segera kembali menempati rumah utama. Kata tuan Arga, akan lebih baik jika tuan muda dan nona Bella tinggal berdua dan lebih mengakrabkan diri."


Meskipun masih tidak bisa menerima keputusan dari orang tuanya, Satya tetap mengangguk-angguk mengerti. Toh, kedua orang tuanya itu sudah pasti tetap akan pindah meskipun Satya melarang.


"Oh iya, bagaimana dengan schedule ku untuk beberapa hari ke depan? Apa sekretarisku sudah menghubungimu?" tanya Satya kemudian.


Pasalnya sebelumnya Satya memang meminta sekretarisnya tersebut untuk tidak mengganggunya karena dia dan Luna berencana untuk mengambil cuti setelah menikah untuk honeymoon. Tetapi sepertinya, semua planning-nya gagal total.


"Iya, Tuan. Seperti perintah tuan besar beliau yang akan menghandle kantor dalam seminggu ini beliau ingin tuan muda beristirahat sejenak dari rutinitas kantor dan melakukan honeymoon bersama sang istri."


"Ah … benarkah? Sepertinya ayahku sudah mengaturnya dengan baik. Tetapi sepertinya cuti selama seminggu terlalu lama, tiga hari sepertinya sudah cukup. Beritahu sekretarisku untuk meng-schedule ulang pekerjaanku setelah tiga hari ini."


"Baik, Tuan," ucap pelayan itu dan bersiap untuk pergi dari sana karena merasa bahwa tidak ada lagi yang akan dibicarakan oleh tuannya tersebut.


"Oh iya, kamu sudah bisa kembali dan tolong jangan biarkan siapa pun masuk ke area kamar utama. Kamu mengerti, 'kan?"


Sang kepala pelayan mengangguk mengerti.


"Tentu, Tuan!"

__ADS_1


****


Satya melangkah masuk dalam ruangan dengan pencahayaan yang remang-remang itu saat dia sudah memastikan kepala pelayan telah pergi. Namun, saat kakinya sudah menjejaki lantai kamar, ia hanya mendapati kekosongan.


Di mana Bella?


Karena tidak menemukan Bella, dan muncul perasaan khawatir karena beberapa menit yang lalu dia yakin bahwa perempuan itu masuk lebih dulu ke dalam kamar.


Satya kemudian menghidupkan lampu dan sebuah bayangan yang tengah berada di balkon mengambil perhatiannya. Satya kemudian bergerak mendekat, dan benar saja Bella berada di sana, bertumpu di teralis besi sambil memunggunginya. Rambut panjangnya terlihat beterbangan di sapu oleh angin-angin malam. Dan Satya langsung menghembuskan napas pelan saat menyadari kalau kekhawatiran yang sebelumnya dirasakan itu tidak mendasar, dan Bella terlihat baik-baik saja.


Ternyata Bella berada di balkon, ucap Satya dalam hati. Merasa sedikit lega karena perempuan itu tidak mengalami hal yang buruk seperti apa yang sebelumnya berada di dalam pikirannya.


Satya berdeham setelah berdiri di sebelah Bella yang masih tampak fokus pada langit malam tanpa bintang. Cuacanya juga lumayan lembab karena tidak lama lagi musim dingin akan segera tiba.


"Kamu akan sakit jika berdiri di luar dengan pakaian seperti itu, Bella!"


Satya lebih dahulu membuka suara, menyuarakan kekhawatirannya saat mendapati Bella masih mengenakan gaun pestanya yang cukup terbuka di tempat yang begitu terbuka ini, dan langsung terkena angin malam. Perempuan itu pasti akan masuk angin jika dibiarkan terlalu lama.


"Masuklah ke dalam, Bella. Berpakaian seperti itu dan terkena angin malam bisa membuatmu sakit." Meskipun terdengar kaku, Satya berusaha menampakkan kepeduliannya pada Bella.


Bella hanya beralih menatap Satya sekilas, kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke mana saja. Asal tidak langsung menatap kedua bola mata pria yang saat ini sudah berstatus suaminya.


"Berhentilah bersandiwara, Satya. Hanya ada kita berdua di dalam kamar ini. Apa kau tidak lelah sepanjang hari ini terus bersandiwara di depan keluarga kita?"

__ADS_1


Sungguh, Bella merasa kalimatnya barusan adalah yang paling tepat. Tetapi kenapa Satya menatapnya dengan pandangan seperti itu? Pandangan pria yang seperti tengah … terluka.


__ADS_2