
Aroma khas teh hangat yang disajikan dengan beberapa roti tawar memenuhi seluruh ruangan kamar pagi itu.
Satya saat ini tengah berdiri di balkon kamar sembari menatap pemandangan pagi dalam diam. Sebelumnya, Satya berpikir bahwa dia tidak perlu lagi mencari tahu apa pun mengenai Luna, perempuan itu yang memutuskan mengakhiri semuanya. Hingga panggilan telepon yang diterimanya tepat jam enam pagi tadi memunculkan sebuah pertanyaan yang tidak ingin dia temukan jawabannya kembali memenuhi isi kepalanya.
Rasanya ingin sekali Satya berlari saat itu juga meninggalkan semua ini hanya untuk menemukan jawaban itu.
"Aku ingin kau mengatur semuanya, Vin. Aku percaya kau bisa menyelesaikan semua tanggung jawab yang aku berikan padamu secepatnya. Kau hanya perlu mengatur beberapa perjalanan bisnis."
Satya menoleh saat Bella yang baru saja selesai berganti pakaian sedang berjalan mendekati meja makan. Perempuan itu bahkan menatap balik ke arah Satya untuk beberapa detik, sembari tersenyum tipis. Sebelum akhirnya Bella menyeduh secangkir teh hangat yang sudah berada di atas meja sejak beberapa menit yang lalu.
"Aku tidak ingin kau ikut campur kali ini, Satya. Kau sudah setuju untuk melakukannya, memangnya apa lagi yang akan terjadi, huh?" tanya orang bernama Alvin, yang saat ini tengah mengobrol dengan Satya melalui sambungan seluler.
Lagi dan lagi Satya hanya bisa menghembuskan napas dengan lelah. Dia agak kesal karena Alvin terlalu banyak bertanya padanya. Seharusnya sahabat sekaligus orang kepercayaannya itu diam saja dan mengikuti semua perintahnya.
"Satya?"
Sebuah panggilan dari arah belakang membuat Satya kaget luar biasa. Karena hal itu juga membuat ponsel yang ada dalam genggaman tangannya hampir saja terjatuh.
Satya tidak tahu sejak kapan Bella berjalan menuju ke arahnya. Beberapa saat yang lalu, dia yakin perempuan itu masih sibuk menikmati tehnya di dalam sana.
Sedangkan Bella sendiri juga agak sedikit terhenyak, tidak menyangka Satya akan bereaksi seperti itu hanya karena Bella memanggil namanya. Apa Satya takut karena Bella hampir saja mendengar apa yang dia bicarakan di telepon?
"Ada apa?" tanya Satya dengan nada datar. Dan dengan cepat tangannya menyentuh tombol merah di layar touch ponselnya.
__ADS_1
Bella tidak yakin dengan apa yang dia pikirkan, akan tetapi Satya terlihat sedang menyembunyikan sesuatu. Seperti seorang penjahat yang hampir saja ketahuan. Tetapi apa sebenarnya yang sedang disembunyikan oleh Satya?
"Ibumu baru saja menelepon, dia meminta kita berkunjung ke rumah orang tuaku sore ini."
Drrrttt~
Sekali lagi ponsel Satya berdering, membuat pria itu tidak sempat membalas kalimat Bella. Sedangkan perempuan itu semakin mengerutkan keningnya melihat tingkah Satya yang tampak gelagapan.
Namun, yang tidak disangka oleh pria itu, Bella sempat menangkap nama yang tertera di layar ponsel yang masih berada di dalam genggamannya, Alvin.
Satya hanya menatap Bella sekilas sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkan Bella yang masih menatap kepergian Satya yang kini sudah mengangkat teleponnya dari balik kaca.
Entah kenapa, pria itu bersikap sedikit aneh pagi ini. Tidak seperti semalam saat pria itu mengikrarkan janji untuk membuat pernikahan mereka nyata. Dan Bella yakin semalam mereka masih baik-baik saja. Lalu ada apa kali ini?
Ini tidak seperti mereka sedang berusaha menjalani pernikahan yang seharusnya, seperti keinginan pria itu tadi malam. Hubungan mereka tidak tampak seperti akan berjalan ke arah yang lebih baik.
Berselang beberapa menit kemudian, Satya kembali berjalan menuju balkon kamar setelah mematikan teleponnya. Sementara Bella masih berdiri dan menunggu jawaban dari apa yang beberapa menit lalu di katakan kepada Satya, tentang ke rumah orang tuanya sore ini.
"Maafkan aku, Bel! Ada beberapa masalah di kantor. Jadi, sepertinya aku tidak bisa menemanimu berkunjung ke rumahmu dengan pikiranku yang sekarang ini. Kau tahu, aku tidak ingin tampak terpaksa ke sana hanya karena permintaan ibuku. Situasinya akan sangat tidak nyaman jika aku harus menemui mertuaku dengan pikiran kalut seperti ini."
Bella sebenarnya merasa agak kecewa, bukan karena Satya tidak bisa menemaninya berkunjung ke rumah orang tuanya. Toh hal itu bisa dilakukan kapan saja ketika Satya merasa lebih baik dan siap untuk menemui ayah dan ibunya.
Tetapi Bella merasa kecewa karena Satya sedang membohonginya. Sebenarnya Bella sendiri tidak yakin apakah ini hanya perasannya atau kenyataan lelaki itu memang berkata sejujurnya. Hanya saja semuanya terasa berbeda hari ini.
__ADS_1
Satya yang berbicara semalam dengannya dan pagi ini seperti dua orang yang tidak lagi sama.
Dalam pikiran Bella, pria itu sudah seharusnya tidak perlu menyembunyikan apa pun lagi darinya, apa lagi jika memang benar telepon itu hanyalah sebatas urusan pekerjaan.
Apa yang Satya takutkan mengenai pembicaraan antara dua orang rekan kerja sehingga harus menjauh darinya untuk mengangkat telepon? Kenapa dia terlihat seperti sedang menghindari sesuatu?
Karena tidak ingin memperpanjang perdebatan di pagi hari, Bella lebih memilih menyimpan sendiri rasa penasarannya. Kalau memang pria itu berniat tidak menyembunyikan sesuatu darinya, sudah pasti Satya jujur kepadanya. Tetapi sepertinya, Satya sama sekali tidak pernah serius dengan perkataannya semalam tentang membuat pernikahan mereka nyata.
"Aku bisa mengerti, Satya. Kita bisa berkunjung kapan saja jika kau sudah punya waktu. Aku akan mengabari ibuku kalau kita tidak bisa ke sana hari ini. Kau tidak perlu memikirkannya, Sat."
Bella mengatakan kalimat tersebut dalam nada datar tanpa ekspresi. Biar saja pria itu tahu bahwa sebenarnya Bella sedang kesal sekarang ini. Kesal karena keanehan Satya hari ini.
Satya sendiri hanya bisa kembali menghela napas dengan berat. Sebenarnya dia merasa bersalah karena telah berbohong pada Bella. Seharusnya dia tidak melanggar janjinya semudah ini. Sedangkan baru semalam ia menjanjikan pernikahan yang nyata untuk Bella, tetapi kenapa ia terkesan telah melupakan semua kalimat-kalimatnya semalam.
Dia tidak tahu bahwa ternyata dia masih saja mudah goyah hanya karena mendengar kabar Luna. Ya, kabar yang didengarnya pagi tadi memang tentang Luna, hal itulah yang membuat pikirannya kalut seperti sekarang.
Entah kenapa kepergian Luna di hari pernikahan mereka tidak juga membuatnya sadar bahwa perempuan itu telah lama berpaling darinya. Bahwa perempuan itu memang tidak pernah menganggap dirinya dan hubungannya selama bertahun-tahun. Kenapa?
Lama Satya menatap Bella dalam tatapan lekat, sedangkan perempuan itu juga balas menatapnya. Keduanya seakan terperangkap dalam tatapan satu sama lain.
Sampai kemudian sebuah kalimat meluncur dari bibir Satya yang membuat keduanya kaget secara bersamaan.
"Bella, bisakah aku memelukmu?"
__ADS_1
Deg!