
Satya sudah berdiri di altar pernikahan sejak setengah jam yang lalu. Pria tampan itu terus saja berusaha mempertahankan senyumnya di tengah semua kekacauan yang terjadi.
Saat Satya mengetahui bahwa mempelai wanitanya yang merupakan kekasihnya sejak tiga tahun yang lalu menghilang begitu saja di hari penting keduanya. Satya tidak menyangka kalau perempuan yang sangat dicintainya yang berjanji sehidup semati dalam mahligai pernikahan bersamanya itu memilih pergi dan meninggalkannya.
Tentu saja semuanya tidak akan sekacau ini bila kekasihnya itu memutuskan hubungan dari jauh-jauh hari, dan bukannya memutuskan secara sepihak di hari pernikahan mereka. Sementara di sisi lain, para tamu penting dan hampir seluruh keluarga besarnya sudah duduk di kursi tamu sambil menunggu mempelai wanita yang mungkin tidak akan pernah datang … sampai kapan pun.
Satya tahu, semuanya sudah berakhir hari ini juga. Apa lagi yang dia harapkan?
Hingga kemudian musik pengiring mulai terdengar, yang menandakan bahwa mempelai wanita sudah tiba tepat saat langkah kaki Satya baru saja akan beranjak meninggalkan altar pernikahan.
Apakah kekasihnya tiba-tiba datang? Apa dia akan menikah hari ini bersama wanita yang dicintainya?
Namun, rasa bahagia itu tidak bertahan lama. Karena berselang beberapa menit kemudian, perlahan-lahan pintu penghubung terbuka. Satya dan para tamu seketika menoleh ke arah mempelai wanita yang terlihat sangat cantik dengan gaun pengantinnya ditemani sang ayah di ujung pintu.
Dia bukan Aluna.
Wanita yang sepertinya tidak asing baginya itu kemudian melangkah menuju tempat Satya berdiri menunggu sang pengantin wanita. Satya sangat yakin dia mengenali wajah dibalik veil itu.
Sekali lagi mempelai wanita yang datang bukan Aluna—kekasihnya—melainkan perempuan lain.
Sementara Bella terus berusaha menguatkan diri bahwa pilihannya kali ini tidaklah salah, meskipun ia sadar bahwa dirinya sendiri yang telah membawanya bermain-main ke dalam kekacauan yang sangat besar ini.
__ADS_1
Di samping itu, ia juga berusaha menahan rasa gugupnya mati-matian. Dengan gaun pengantin yang tidak sesuai ukuran tubuh menambah sesak di dalam dadanya, sepatu heels yang dikenakan cukup tinggi dan tidak nyaman. Bella bahkan tidak yakin akan sampai ke altar dengan heels setinggi itu jika saja ayahnya tidak di sana untuk memeganginya.
Ketika Bella dan ayahnya tiba di atas altar, perempuan itu merasa napasnya semakin sesak. Dia tidak pernah tahu bahwa pernikahan bisa terasa seperti upacara pemakaman untuk dirinya sendiri.
Perlahan ayah Bella menyerahkan tangan putrinya kepada Satya sambil tersenyum penuh kelembutan ke arahnya. Tangan Bella terasa dingin dan gemetar saat Satya meraih tangan lentik itu ke dalam genggamannya. Kedua mata itu saling bertemu, namun tak ada yang bisa dikatakan pada satu sama lain. Satya hanya buru-buru mengalihkan pandangannya, begitu pun dengan Bella.
Saat ayah Bella sudah turun dari altar, barulah Satya melontarkan tanya atas rasa penasaran yang sejak tadi menggerogoti tubuhnya.
"Kenapa kau di sini?" tanyanya dengan sinis.
Bella mendongak, sebelum menjawab pertanyaan dari pria itu dengan nada datar.
"Aku hanya ingin menyelamatkan dirimu dan keluargamu dari rasa malu. Bagaimana mungkin pemilik perusahaan besar harus batal menikah hanya karena alasan sang mempelai wanita kabur. Orang-orang akan bergunjing akan hal ini, Satya."
Sungguh, dalam mimpi dan masa depan Satya, tidak pernah terbersit sedikit pun menjadikan Bella istrinya. Tidak akan pernah!
"Tetapi bagaimana mungkin? Aku tidak pernah memintamu untuk menjadi istriku agar terhindar dari rasa malu, Bella!" desis Satya dengan nada suara naik satu oktaf.
"Husttt … kamu hanya akan semakin mengundang tatapan aneh dari para tamu jika berteriak seperti itu!" Bella menghela napas pelan, sebelum kembali melanjutkan perkataannya, "Kalau begitu, sekarang pilihan ada di tanganmu. Bawa aku ke depan pendeta dan melanjutkan pernikahan ini, atau kau bisa mengumumkan kepada para tamu bahwa pernikahan dibatalkan. Tetapi kamu hanya akan melihat wajah-wajah kecewa dari kedua orang tuamu yang saat ini tengah tersenyum bahagia, terlebih lagi kamu hanya akan mematahkan hati ayahku karena mencampakkan aku seperti ini."
Sungguh, Bella tidak tahu dapat keberanian dari mana ia sampai mengatakan kalimat panjang itu. Tetapi biarlah ia semakin menenggelamkan dirinya saja, jangan sampai ia melihat wajah-wajah kecewa dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
Sekali lagi Satya terdiam dan tampak mencerna perkataan Bella yang cukup masuk akal itu. Sudah untung ada perempuan bodoh yang bersiap mengeluarkannya dari rasa malu karena batal menikah, tetapi tetap saja menikah dengan seorang Arabella Sky tidaklah masuk akal.
Tetapi ini pilihan perempuan itu sendiri, toh Satya tidak memaksa. Jadi, tidak ada salahnya ia melanjutkan pernikahan ini dan terbebas dari rasa malu. Urusan menikah dan Bella, bakal dia urus setelah ini.
"Baiklah, aku berharap kau tidak menyesal setelah ini, Bella!"
Setelah mengatakan kalimat itu, Satya kemudian membawa Bella ke depan pendeta untuk melangsungkan sumpah pernikahan.
Hingga kemudian ada banyak suara yang seolah berbisik di telinganya.
"Pernikahan ini gila!"
Ya, memang cukup gila untuk diterima sebagai kenyataan. Pernikahan yang begitu sakral, yang diputuskan oleh kedua mempelai untuk menyempurnakan cinta mereka harus terjadi dengan cara yang tidak wajar seperti ini. Belum lagi banyaknya mata yang melihat ke arah Bella dengan tatapan tak suka.
Percayalah, 80% dari tamu wanita yang hadir di sana menatap Bella dengan tatapan tak suka. Baiklah, menikah dengan lelaki tampan dan mapan seperti Prasatya mungkin adalah impian banyak wanita seperti mereka, tetapi itu menjadi pengecualian untuk Bella. Karena meskipun dia pernah menjadi salah satu wanita yang menyukai seorang Prasatya Brawijaya. Percayalah, menyukai Satya dan menjadi kekasihnya adalah hal yang sia-sia. Lelaki itu terlalu sempurna untuk perempuan seperti dirinya.
Bukannya merasa insecure, tetapi fakta berbicara lebih jelas dengan kenyataan yang ada. Bella paham mengenai hal itu karena dia pernah merasakan bagaimana menyakitkannya menyukai orang yang tidak mungkin untuk dimiliki.
Entahlah, Bella hanya merasa Satya masih sama saja seperti Satya yang pernah sekelas dengannya dulu. Lelaki itu masih terlalu jauh untuk digapai dan rasanya tetap tidak mungkin sekalipun bersamanyalah Bella harus mengambil sumpah sehidup semati.
Dengan satu tarikan napas, Satya dan Bella mengambil sumpah sehidup semati mereka.
__ADS_1
"Until death do us part!" ucap mereka berdua bersamaan untuk beberapa saat setelah mengambil sumpah pernikahan, Bella dan Satya hanya menatap satu sama lain.
Mereka berdua telah bersumpah akan saling mencintai seumur hidup. Menemaninya di waktu bahagia maupun di kala sedih. Di waktu sehat, maupun sakit dan itu selamanya. Sampai maut memisahkan mereka berdua.