Wedding Chaos

Wedding Chaos
Euforia Bahagia


__ADS_3

"Ibu senang karena akhirnya pernikahanmu tidak jadi dibatalkan dan terlaksana juga," ucap istri dari pemilik Brawiyaja Grup kepada putranya yang sedang duduk di meja makan sambil sesekali melirik penyanyi yang sedang membawakan lagu city of star di perjamuan tamu malam itu.


Satya hanya melemparkan sebuah senyuman kepada ibunya. Sebuah senyuman palsu yang lagi dan lagi Satya tampakkan hanya untuk menutupi kekacauan yang memenuhi isi kepalanya.


"Dan terima kasih untuk kamu, Nak Bella. Aku sangat bahagia kamu menjadi istri dari Satya dan menjadi menantu di keluarga kami. Aku sangat bersyukur hari ini, Sayang."


Reva—ibu dari Satya —kali ini mengalihkan perhatiannya ke arah Bella yang sejak tadi diam di samping Satya dan melontarkan kalimat bahagianya setelah pernikahan antara Satya dan Bella terlaksana.


Bella yang sejak tadi tengah bergelayut dengan pikirannya sendiri seketika tersentak saat mendengar ibu Reva—mertuanya—tengah mengajaknya berbicara.


Bella mendongak dan mengulas senyum tipis. "Iya, Ibu. Aku juga sangat senang menjadi bagian dari keluarga Anda."


Seketika semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Bella yang tergolong begitu kaku. Semua orang tertawa, tetapi tidak bagi Satya dan Bella. Mereka berdua seakan tenggelam dalam pikiran masing-masing dan merasa tidak ada yang lucu dari kalimat barusan.


"Jangan terlalu kaku seperti itu dong, Nak," ucap ibu Reva kembali di sela-sela kekehannya.


Sekali lagi Bella hanya tersenyum malu-malu, dan sama sekali tak bisa berkata-kata. Entahlah, ia merasa begitu canggung berada di tengah-tengah keluarga Satya.


Sedangkan Satya sendiri sekali lagi hanya tersenyum tipis. Senyum yang berarti senyuman sakit hati, senyuman luka, atau yang lainnya. Dia masih berandai-andai, andai kata Aluna yang berada di tengah-tengah obrolan hangat itu bersama keluarganya. Pasti ia akan lebih banyak tertawa dan tersenyum. Dan pastinya ia akan berbahagia, bukannya muram seperti saat ini.


Tetapi tetap saja, rasa marah kepada Luna masih dirasakan oleh Satya. Ingin rasanya ia mencecar habis-habisan perempuan itu, bertanya apa alasan terbaik yang dimiliki oleh Luna hingga memilih pergi di hari pernikahan mereka?


Satya tidak mengerti mengapa kekasihnya itu meminta Satya melaksanakan pernikahan sebagai bukti dari keseriusannya, jika pada akhirnya perempuan itu sendiri tidak menginginkan pernikahan.


Apa Luna tidak pernah mencintainya? Apakah hubungan yang mereka bangun selama bertahun-tahun hanyalah lelucon baginya? Sungguh! Satya ingin tahu semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu dari mulut Luna.


Sungguh, dalam situasi ini Satya tidak tahu harus meletakkan dirinya di mana. Pada Luna kekasihnya yang menghilang di hari pernikahan mereka atau istrinya yang sedang duduk di sebelahnya tanpa mengatakan apa pun.

__ADS_1


Perempuan bermata coklat itu sejak tadi hanya diam, tampak fokus pada makanan penutup yang berada di hadapannya.


Meskipun begitu, Satya tahu betul bahwa wanita itu juga sedang berpura-pura sama seperti dirinya.


Mereka memang sudah menikah dan mengambil sumpah untuk memulai hari yang baru bersama. Tetapi bukan berarti semuanya langsung berubah begitu saja, 'kan? Satya tahu betul bahwa masalahnya tidak sesederhana itu.


Ada banyak hal yang tidak bisa menjadi sederhana terutama saat mereka melibatkan dua hati dan dua kehidupan di dalamnya.


"Aku berhutang banyak padamu, Jeng Shena," ucap ibu Reva pada ibu Bella yang juga berada di sana.


"Jangan berkata seperti itu, Jeng Reva. Aku akan melakukan untukmu," balas Shena, ibu dari Bella.


"Aku sangat senang akhirnya kita besanan juga. Akhirnya keinginan kita di masa lalu dapat terwujud," balasnya kembali.


Shena terkekeh dengan anggun. "Aku pun seperti itu, Jeng. Aku tidak pernah menyangka bahwa kita akan besanan seperti itu dan persahabatan antar keluarga kita akan semakin erat."


Sementara itu, Satya melihat dengan baik bagaimana kedua orang tuanya merasa sangat bahagia dengan pernikahannya dan Bella. Meskipun itu tidak direncanakan, tetapi tetap saja hal yang pernah menjadi impian kedua orang tuanya akhirnya tercapai.


Dulu, Satya sungguh berpikir bahwa dia tidak mungkin bisa menikah sesuai dengan keinginan orang tuanya. Bukan karena dia tidak menyukai Bella, perempuan itu memiliki daya tarik tersendiri yang tidak akan bisa dilewatkan oleh kaum Adam.


Dan meskipun sedikit, Satya sangat yakin bahwa Bella menjadi satu-satunya perempuan yang menarik perhatiannya di masa sekolah dulu. Namun sayangnya, sejak dulu Satya tidak pernah percaya terhadap cinta, karena dia meyakini cinta selalu berakhir dengan hal-hal yang menyakitkan dan Satya benci perasaan seperti itu.


Benar saja, kini rasa sakit itu benar-benar dialaminya. Terpatahkan dan dihancurkan oleh cinta.


Satya bahkan tidak tahu mengapa dia akhirnya memilih Luna sebagai perempuan yang akan dinikahi, dan menghabiskan seumur hidupnya hanya bersamanya. Saat itu, dia hanya berpikir Luna adalah satu-satunya perempuan yang berada di sisinya beberapa tahun terakhir dan hanya itu yang dia butuhkan.


Terlebih lagi, Luna adalah perempuan lembut dan sangat penyayang. Dan Satya akhirnya menjatuhkan hatinya hanya kepadanya.

__ADS_1


Selama Luna berjanji untuk tetap setia dan berada di sisinya, Satya akan memberi segalanya untuk perempuan itu. Tetapi lagi-lagi takdir membawa kenyataan pahit, Luna memilih menyerah dan pergi. Bahkan setelah semua yang Satya berikan untuk kebahagiaan perempuan itu.


Hampir seluruh keluarga termasuk kedua orang tuanya tidak menampakkan kebahagiaan di saat Satya membawa Luna untuk diperkenalkan sebagai calon menantu.


Meskipun Luna memperlakukan Satya seperti sekarang, tetapi dia tidak pernah menyesal pernah berjuang untuk mempertahankan perempuan itu di sisinya. Satya rasa apa pun yang dia lakukan untuk Luna sebanding dengan pengorbanan Luna bersama dengannya. Setidaknya Satya sudah berusaha memperjuangkan Luna, pikirnya.


"Permisi, Nyonya. Ini waktunya tuan muda dan nona Bella untuk beristirahat," ucap sang kepala pelayan pribadi di keluarga Satya.


Mendengar kata istirahat, mata Bella langsung berbinar senang. Itu tandanya dia akan segera mengakhiri pesta yang membosankan ini dan terbebas secepatnya dari tempat ini.


"Artinya kita sudah bisa pulang 'kan, Ibu?"


Pertanyaan Bella membuat Nyonya Reva hanya tersenyum maklum.


"Kau ingin pulang ke mana, Sayang? Ini kan juga rumahmu sekarang. Tidak baik meninggalkan suami kamu sendirian, bukan?" Wanita itu berkedip nakal pada Bella kemudian pada Satya.


Apa maksudnya itu? tanya Bella dalam hati sebab dia tidak mengerti arah pembicaraan nyonya besar keluar Brawiyaja itu.


"Satya, ajak istrimu untuk beristirahat. Kalian berdua pasti sangat kelelahan hari ini."


Satya mengangguk, kemudian segera meraih tangan Bella untuk mengikutinya. "Saatnya beristirahat, Bella!"


Entah kenapa, tetapi Bella langsung patuh begitu saja dengan apa pun yang dikatakan Satya —suaminya. Seolah perintah Satya adalah titah seorang raja yang tak bisa dibantah.


Bella bahkan tidak mencoba protes atau bertanya mengenai apa pun, dia hanya ikut melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju sebuah ruangan yang sepertinya akan menjadi kamar mereka.


Astaga! Apakah malam ini dia harus berperan menjadi istri yang sesungguhnya?

__ADS_1


__ADS_2