Wedding Chaos

Wedding Chaos
Memutus Segalanya


__ADS_3

Hanya sebuah permohonan maaf yang bisa Bella ucapkan di depan Rayhan. Karena jika ada kata yang lebih baik untuk menebus semua rasa bersalahnya selain kata maaf, mungkin Bella akan menggunakannya sebanyak yang dia bisa.


Karena dia tahu seberapa banyak kesalahannya kepada pria yang sudah sebaik itu padanya selama ini. Bella benar-benar telah menghancurkan hati sebaik Rayhan.


"Aku harus pergi! Rayhan, hiduplah dengan baik. Kau harus selalu menjaga kesehatan dan jangan terlalu memforsir tubuh untuk bekerja. Makan yang baik dan beristirahatlah. Karena mulai sekarang aku tidak akan cerewet lagi dengan hidupmu, Ray."


Bella membungkuk sejenak memberi salam sebelum melangkah keluar meninggalkan studio bioskop tersebut. Mengeraskan hati agar tidak berbalik memeluk tubuh yang terlihat rapuh itu dan tengah menatapnya dengan sorot kepedihan. Seakan memintanya terus bertahan di sisinya dan melawan kerasnya dunia.


Tetapi tidak, Bella sudah memutuskan segalanya. Memang takdirnya tidak akan pernah bersama, karena selamanya tidak ada 'kita' di antara mereka.


Sementara di belakangnya, Rayhan diam saja dan hanya bisa menatap nanar kepergian orang yang sangat dicintainya. Meskipun begitu, dia sama sekali tidak mencoba untuk menahan Bella untuk terus bertahan disisinya. Sungguh, bukan karena dia tidak ingin, tetapi karena dia juga menyadari bahwa ada banyak hal yang tidak lagi sama jika dipaksakan.


Dengan menahan Bella untuk tetap bertahan di sisinya, bukanlah sesuatu yang bisa diatur. Rayhan tentu saja tidak akan bisa memaksakan kehendaknya, karena ia tahu apa yang dipaksakan tidak akan pernah berjalan dengan baik.


Hubungan membutuhkan dua orang saling mencintai, sama-sama bertahan, dan berbagi suka dan duka. Tetapi jika salah satu sangat ingin pergi, dan menyerah dengan hubungan itu. Maka, apalagi yang bisa dilakukannya?


Jawabannya, mencoba melupakan meskipun itu sulit.


Tepat saat perempuan itu keluar dari ruangan bioskop dan meninggalkannya seorang diri. Serta merta tangisan yang sejak tadi Rayhan susah payah tahan pecah begitu saja. Berbaur dengan suara film yang masih terputar di layar lebar di depannya. Terdengar sangat memilukan dan menyakitkan lebih dari kejadian 'tiga belas tahun yang lalu'.


Jika dulu, Rayhan bisa mengobati rasa sakit itu dengan permen gulali sebanyak-banyaknya, sampai dia mual karena rasa manisnya atau bermain hingga dia kelelahan dan tertidur, kemudian keesokan harinya akan melupakan rasa sakit tersebut.


Tetapi, kali ini entah kenapa lebih menyakitkan lagi. Kehilangan orang yang dicintai untuk kedua kalinya ternyata sangat menyakitkan, seperti sebuah penyakit yang menggerogoti tubuh dan seolah tak memiliki obat penawar dari rasa sakit tersebut.

__ADS_1


Bahkan jika Rayhan menangis semalam suntuk, atau menyibukkan diri dengan kertas-kertas kerjaan yang memuakkan, rasa sakit itu tidak akan berkurang, apalagi hilang.


Bayangan wajah cantik Bella terus saja melekat di dalam pikirannya. Sementara hatinya sesak karena rasa pilu yang terlampau dalam. Untuk pertama kalinya mencintai seseorang, tetapi dia harus kehilangan dengan cara yang seperti ini.


Untuk pertama kalinya Rayhan berani memimpikan banyak hal bersama Bella. Kemudian ia disadarkan oleh kenyataan, bahwa takdir tidak berpihak kepadanya.


Mimpi-mimpinya selama ini tidak lebih dari kepingan-kepingan luka yang berserakan dan terbang bersama pekatnya langit abu-abu hari itu.


Semuanya hancur diluluh lantakkan oleh badai yang berembus ke arah matahari beku di ujung langit.


Setelah ini, hidup Rayhan tidak akan sama lagi. Tanpa kehadiran Bella di sampingnya, dan tidak akan lagi mendengar mulut cerewet perempuan mungil itu.


Ah, mulai sekarang ia akan mempersiapkan diri untuk kesepian.


Bella bergegas melangkah masuk ke dalam kamar setelah memberikan mantel yang sedikit basah pada salah satu pelayan yang menyambutnya saat pertama kali masuk ke dalam rumah.


Sebelum masuk, Bella berharap bahwa Satya tidak berlalu lalang di area ruang tamu dan tidur lebih cepat. Karena dengan begitu, Bella tidak perlu repot-repot mencari alasan ketika lelaki itu bertanya habis dari mana dia selama beberapa jam.


"Apa Satya mencariku?" bisik Bella pada salah satu pelayan yang membawakan handuk untuk membersihkan tubuh Bella yang basah terkena cipratan air.


Pelayan tersebut menggeleng sopan. "Tidak, Nyonya. Tuan muda sama sekali tidak keluar kamar. Sejak sore tadi, tuan muda terus mengurung diri dan melarang siapa pun untuk mengganggunya."


Tumben sekali, batin Bella keheranan dengan tingkah pria itu yang tidak biasanya.

__ADS_1


Karena tidak ingin banyak tanya, Bella balas mengangguk. "Baiklah, kalau begitu aku masuk ke dalam kamar terlebih dahulu."


"Iya, Nyonya. Selamat beristirahat!" ucap pelayan itu dengan ramah, sebelum menjauh meninggalkan Bella di depan pintu kamar bercat putih itu.


Setelah pelayan tersebut pergi, Bella menarik gagang pintu kemudian melangkah masuk ke dalam dengan hati-hati. Seperti biasa, ia langsung disambut dengan suasana yang remang-remang. Kamar mereka memang tampak selalu kekurangan cahaya karena keduanya memang tidak suka jika ruangan itu terlalu terang. Satu kesamaan sifat yang mungkin sebagian banyak orang akan dianggap aneh.


Tetapi meskipun begitu, Bella dan Satya menyukai hal tersebut. Karena ada banyak hal yang bisa disembunyikan dalam gelap. Baik itu senyuman, kesedihan, kemarahan, kekecewaan atau tangisan tanpa suara.


Setidaknya dalam gelap, ada banyak hal yang tidak tampak jelas terlihat dan sepertinya mereka berdua adalah orang yang sama-sama suka bersembunyi dibalik semua itu.


Setelah berada dalam ruangan yang lumayan luas itu, Bella mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Satya, namun nihil pria itu tidak ada di mana-mana. Bella kemudian beralih menatap tempat tidur dan juga di sana kosong, sama sekali tidak ada tanda-tanda ada yang menidurinya. Terlihat sepi dan kosong.


Di mana pria itu sekarang? Bukankah kata pelayan, Satya justru tak pernah keluar kamar sejak sore, tetapi kalau tidak ada di dalam kamar dia mana dia sekarang?


Tidak mendapati pria itu di mana-mana, sejujurnya hal itu malah menambah kecemasan dalam dada Bella. Terlebih lagi dia belum memikirkan jawaban apa pun untuk dikatakan pada Satya saat lelaki itu bertanya. Haruskah dia jujur atau sebaiknya tidak? Lagi pula semuanya sudah selesai, hubungannya dengan Rayhan sudah putus.


Dengan begitu, Bella tak lagi memiliki beban apa pun lagi untuk terus disimpan, atau mungkin saja kejujurannya tak akan berarti apa pun untuk Satya.


Perlahan Bella melangkah menuju balkon dan ternyata lelaki yang sedang dicarinya sedang berada di sana sembari menikmati satu gelas yang berisi cairan kekuningan. Sepertinya pria itu sedang mencari ketenangan dengan menenggak minuman keras.


Dari balik pintu kaca, Bella berdecih sembari tersenyum dengan sinis melihat betapa menyedihkannya pria yang sedang berdiri di sana dan ditemani dengan wine untuk menemaninya mabuk.


Lihatlah bagaimana Satya terus-menerus bersedih dan kali ini pria itu tidak akan berpura-pura lagi di hadapannya. Toh, Bella tahu semuanya. Pria itu masih menggila karena kehilangan Luna. ****!

__ADS_1


__ADS_2