
Bella tidak ingat sudah berapa lama dia berendam dalam bath up karena ketika dia membuka matanya sepertinya langit malam telah datang bersama ribuan bintang di luar sana.
Bella menghabiskan banyak waktu untuk bercerita pada Joy beberapa hari ini mengenai kesulitannya dan seperti yang selalu diharapkan, sahabatnya itu selalu mampu membuatnya merasa lebih baik. Sebenarnya, Satya memberi kabar bahwa dia akan segera pulang sore tadi, tetapi sepertinya Bella belum mendengar siapa pun masuk ke dalam kamar mereka. Itu tandanya pria itu belum juga datang, entah pria itu berbohong atau apa.
Ingatan tentang perkataan Joy tentang Satya yang ke London demi menemui Luna begitu mengganggunya beberapa hari ini. Entah kenapa ada perasaan tidak suka mengetahui bahwa apa yang dipikirkannya selama ini bahwa Satya memang tidak pernah bersungguh-sungguh dengan perkataannya di malam pertama mereka, karena pada kenyataannya pria itu memang belum sepenuhnya move on. Atau dengan kata lain, Satya belum bisa melupakan dan melepaskan Luna dari hati dan pikirannya.
Bukankah Bella sangat menyedihkan?
Bella kembali menenggelamkan tubuhnya di dalam air penuh busa itu. Tangannya bergerak untuk memberikan pijatan ringan pada bagian tubuh yang lelah. Belakangan hari ini, Bella mengalami gangguan tidur. Bagaimana tidak, wanita itu terus-terusan memikirkan pernikahan mereka, memikirkan Satya dan tentu saja keluarganya.
Ada rasa takut yang diam-diam menyelinap bersama kabar kepulangan Satya. Jika benar lelaki itu pergi menemui mantan kekasihnya. Mungkin saja, rencana mengenai fokus pada pernikahan mereka tidak akan pernah berguna lagi.
Lelaki itu sangat mencintai mantan kekasihnya dan dengan mudah Satya bisa saja menerima wanita itu kembali. Itulah sebuah kemungkinan yang saat ini memiliki peluang besar untuk terjadi.
Bella hanya tidak siap menghadapi kenyataan pahit itu sekarang. Rasanya, itu terlalu cepat. Pemberitaan di luar sana telah menelanjangi harga dirinya berulang kali hanya karena perbedaan kasta antara dirinya dengan Satya sangat jelas terlihat. Jika mereka memutuskan berpisah sebelum pernikahan mereka menginjak satu bulan, Bella dan keluarganya akan kembali menjadi korban dan Bella tidak ingin itu terjadi. Membuat orang tuanya bersedih adalah satu-satunya hal yang tidak ingin Bella lakukan.
Memikirkan permasalahan tersebut yang semakin runyam, Bella benar-benar dilanda kebingungan. Wanita itu kemudian memijat-mijat bahunya yang lagi dan lagi terasa keram. Meskipun sedikit sepertinya dia merasa lebih baik setelah tertidur. Wanita itu lalu menyimpratkan air ke wajahnya untuk membuat kesadarannya sepenuhnya kembali. Lalu kembali tenggelam ke dalam air penuh busa itu terus-menerus.
Rasanya nyaman, gumamnya sembari memejamkan kedua bola matanya.
"Kau tahu bahwa berendam terlalu lama itu tidak baik untuk kesehatan."
__ADS_1
Sebuah suara menginterupsi aktivitas berendam Bella. Bersamaan dengan itu, Satya menyalakan lampu dengan cahaya yang sebelumnya remang-remang, menjadi terang.
Kini sambil bersandar di ambang pintu kamar mandi, dia bisa melihat Bella yang masih berendam dalam bath up penuh dengan busa dan air hangat.
Bella agak kaget ketika lelaki itu berjalan masuk dan berdiri di dekatnya. Rambut yang masih konsisten berwarna coklat manis itu jatuh acak-acakan menutupi dahinya. Dua kancing bagian atas kemeja hitam yang digunakannya bahkan sudah terbuka dan lengannya yang tergulung hingga siku.
Cahaya lampu yang cukup terang membuat wajah Satya tampak lebih mempesona dari biasanya. Untuk sesaat Bella bahkan tidak yakin bahwa lelaki yang sedang berada di hadapannya adalah manusia. Satya lebih mirip gugusan bintang yang berpijar di langit malam, membuat siapa pun yang memandangnya seolah tak ingin berpaling. Seperti biasanya, Satya akan terus bersinar di matanya.
"Sampai kapan kau akan terus berendam, Bella?" Pertanyaan Satya kembali membuyarkan lamunan Bella.
Wanita itu memalingkan wajahnya yang tiba-tiba saja terasa panas dan memilih tidak menjawab. Dia benar-benar merasa hampir kehilangan kewarasan yang dia miliki sekarang. Deru napasnya bahkan terdengar tidak karuan seiring dengan detak jantung yang berdetak semakin cepat.
Sungguh, Bella merasa tidak nyaman dengan keberadaan Satya yang satu ruangan bersamanya dalam keadaan seperti ini. Oh God! Bella bahkan tidak mengenakan apa-apa untuk menutupi tubuhnya dan ia hanya bersembunyi di dalam gumpalan busa-busa yang tidak sepenuhnya bisa menjaga pandangan Satya untuk melihat seluruh tubuhnya. Dan dia merasa malu jika Satya melihatnya seperti ini.
Namun, Satya sama sekali tidak mengindahkan pengusiran yang dilontarkan oleh Bella. Pria itu justru melangkah semakin mendekat ke bath up kemudian menunduk dan meletakkan tangannya di pinggiran bath up tersebut. Satya menatap wajah Bella yang terkena cahaya lampu lekat-lekat. Beberapa detik selanjutnya, salah satu tangan Satya menarik dagu Bella agar wajah wanita itu menghadapnya.
Bella masih terus mencoba berpikir secara rasional, tetapi tatapan Satya dan sentuhannya membuatnya tidak bisa berpikir dengan baik. Oh tidak, ini bukan pertanda yang baik.
Sebelum semuanya menjadi semakin kacau, Bella harus segera menjauh dari Satya sekarang ini. Karena ia yakin semuanya akan semakin jadi kacau kalau sampai sesuatu terjadi di antara dirinya dan Satya.
"Kita bisa bicara di sini sekarang, Bella. Aku sama sekali tidak keberatan." Suara Satya yang berbisik di telinga Bella terdengar berat, dan deru napasnya terasa hangat berembus menyentuh kulitnya.
__ADS_1
Seketika seluruh tubuh Bella meremang sempurna. Dia benar-benar ketakutan, terlebih lagi mereka hanya berdua di tempat yang sangat rentan bisa saja terjadi sesuatu yang tidak-tidak. Oh Tuhan!
Bella menatap Satya dalam tatapan memelas. "Sat, kau sudah berjanji tidak akan menuntut apa pun dariku sampai aku bersedia melakukannya, bukan?"
Mendengar hal itu, Satya hanya tersenyum tipis. "Memangnya kau tahu apa yang ingin aku lakukan, Bella? Aku hanya duduk sambil menatapmu bukan melakukan sesuatu yang ada di dalam kepalamu itu."
Untuk beberapa saat suasana kembali hening. Hanya suara napas dua manusia yang saling menatap dan terdengar di sana.
"Selama aku pergi apakah kau sudah menemukan jawaban?" tanya Satya penuh arti.
Bella mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh pria itu. "Jawaban Apa?"
"Jawaban tentang akan jadi seperti apa pernikahan kita?"
Pertanyaan Satya seketika tidak bisa dijawab oleh Bella karena dia sendiri pun tidak tahu harus bagaimana menyikapi pernikahan mereka saat ini.
Dengan berani Bella balas menatap Satya dalam tatapan lekat. "Bagaimana denganmu? Apa kau juga sudah menemukan jawabannya?" Bella bertanya balik membuat Satya sedikit tersenyum, entah kenapa pertanyaan balik yang diberikan oleh Bella terdengar seperti sebuah tantangan baginya.
"Mau mencoba menemukan jawabannya?"
Sekali lagi Bella mengerutkan kening, tidak paham dengan hal yang dibicarakan oleh Satya. Tangan pria itu kemudian beralih memainkan permukaan air sembari menatap busa yang berhamburan karena permainan tangannya, butuh beberapa menit hingga dia berani untuk kembali menatap wajah Bella.
__ADS_1
"Aku membutuhkanmu untuk membuktikan bahwa wanita itu tidak bisa mendapatkanku lagi, Bella!"