
Alvin Chandrawinata adalah sahabat baik Satya, juga salah satu pengusaha muda yang sangat sukses, sama seperti Satya. Bedanya Alvin tidak mewarisi perusahaan orang tuanya, dia membangun perusahaannya dari nol. Tentu saja dengan sedikit campur tangan Satya di dalamnya.
Di usia yang sama-sama muda, Alvin dan Satya sama-sama berhasil merintis perusahaan di tangan mereka sehingga menjadi sebesar sekarang. Satya dan Alvin juga sangat terkenal dalam dunia bisnis, dan banyak perusahaan yang berlomba-lomba untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan mereka satu sama lain.
Alvin adalah anak kedua dari seorang aktor dan aktris terkenal di zamannya. Namun, karena banyaknya skandal buruk mengenai perselingkuhan ayahnya dengan seorang model yang menyebabkan karier ayahnya hancur begitu saja. Hal itulah yang mendasari Alvin tidak terjun ke dunia yang sama. Padahal visual seorang Alvin sangat memungkinkan untuk terjun ke dunia Entertainment. Tetapi menurut Alvin, terlalu banyak sandiwara di dalamnya sehingga membuat Alvin semakin tidak tertarik untuk mendalami dunia peran ataupun dunia Entertainment lainnya.
Sehingga dia lebih memilih terjun ke dunia bisnis, mengikuti sahabatnya yang lebih dahulu terjun ke sana—Satya. Dan dengan bantuan pria itu pada akhirnya ia bisa membangun perusahaannya sendiri. Jadi bisa dikatakan Satya bukan hanya sekedar orang yang kebetulan dikenal. Tetapi lebih dari itu, baginya Satya adalah sahabat, teman, keluarga dan juga partner bisnis.
“Apa yang membuat pengantin baru sepertimu datang menemuiku?”
Alvin meletakkan berkas yang sempat tadi dibacanya kembali ke atas meja kerjanya saat tiba-tiba saja Satya masuk dan duduk di sofa ruangannya.
Satya sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu, justru ia terkesan acuh tak acuh. Dan seakan-akan menganggap tempat ini adalah ruangan pribadinya sendiri. Tetapi memang seperti itulah seorang Satya jika mengunjungi sahabatnya ... suka seenaknya.
Alvin meninggalkan tempat duduknya, kemudian beralih ke lemari pendingin. Mengambil sebotol minuman berlabel nama merk alkohol terkenal, kemudian meletakkannya di atas meja yang terletak di hadapan Satya yang masih bersandar di sana, sembari merenggangkan bahunya.
“Aku peringatkan untuk tidak minum terlalu banyak, Sat!”
Alvin mewanti-wanti Satya agar tidak sampai kebablasan dan mabuk. Karena ia tahu, pria itu tidak datang ke sini, bukan sekedar kunjungan semata, seperti membicarakan bisnis atau lainnya. Tetapi sudah pasti ada sesuatu yang lebih penting dari segalanya.
Alvin sudah lama mengenal Satya. Dia tahu betul, Satya sangat tidak suka datang berkunjung ke kantor miliknya. Apalagi saat jam kerja. Jadi, jika pria itu memutuskan untuk datang, berarti sahabatnya itu memang sedang merasa sangat kacau, dan tengah ada masalah.
“Jadi, kau sudah bertemu dengan Luna?” Tanya Alvin to the point.
__ADS_1
Sebenarnya beberapa hari yang lalu, Satya memintanya untuk mencari tahu keberadaan Luna dan Alvin berhasil melacak keberadaannya.
Ya, dialah yang memberitahu keberadaan Aluna pada Satya dan mengatur semuanya, juga membuat kebohongan mengenai perjalanan bisnis Satya selama seminggu padahal hanya tiga hari.
“Aku sudah menyelesaikan urusanku dengannya. Aku rasa, dia tidak bisa menerima pernikahanku.”
Alvin tersenyum sinis mendengar perkataan Satya. “Lalu kenapa dia pergi di hari pernikahan kalian?"
“Dia telah menandatangani kontrak dengan sebuah agency modelling terkenal di London. Aku tahu, agency itu melarang modelnya untuk menikah dalam tiga tahun pertama kontrak kerja mereka. Aku yakin hal itulah yang mempengaruhi Luna sampai harus memilih pergi saat itu.”
Alvin mengerutkan keningnya dan menatap Satya dengan lekat. “Jadi, maksudmu Luna memilih pergi karena mendapat berita mengenai kontrak kerja itu?”
Satya mengangguk. Kali ini, dia menuangkan sedikit minuman beralkohol itu ke dalam gelasnya dan meminumnya dengan sekali teguk. “Aku benar-benar tidak menyangka Luna tega melepaskanku setelah semua yang kuberikan untuknya.”
Kali ini Alvin mengambil langkah, mendekat ke arah Satya dan duduk di sebelahnya kemudian menepuk bahu pria itu . “Kau harus berhenti khawatir dan mulai menjalani kehidupanmu dengan istrimu tanpa beban apa pun lagi. Lupakan Luna dan belajarlah mencintai Bella.
Satya mengangkat kepalanya dan balik menatap Alvin. “Apakah aku bisa?”
Alvin memberikan sebuah anggukan penuh keyakinan. “Kau harus mencoba. Awalnya, kau juga tidak menyukai Luna, bukan? Tapi lihatlah sekarang, kau bahkan tidak bisa melupakannya. Kau hanya harus melakukan hal itu sekali lagi dan tentu saja bersama orang yang tepat dan kau tak perlu takut terluka.”
Satya terdiam, tampak tengah mencerna perkataan sahabatnya. Sejujurnya dia juga tidak pernah ada keinginan untuk melukai dan mengecewakan perasaan Bella. Dan ia sangat yakin, jika perempuan itu tahu kalau Satya ke luar negeri untuk menemui Luna, pasti Bella akan merasa sakit hati dan juga merasa dibohongi.
Padahal tidak pernah terlintas sedikit pun di dalam pikiran Satya untuk menyakiti wanita itu dan menyeretnya ke dalam permasalahan ini. Terlebih lagi di malam pertama pernikahan mereka, Satya sudah menjanjikan kalau dia akan mewujudkan pernikahan keduanya menjadi nyata, tetapi ternyata semuanya hanyalah bualan semata. Karena pada kenyataannya, Satya malah masih memikirkan tentang Luna dan parahnya datang menemuinya sampai ke London.
__ADS_1
Satya jahat sekali, bukan?
Jadi, saat mendengar Alvin memintanya untuk belajar mencintai Bella, entah kenapa ia merasa tidak yakin.
“Apa menurutmu Bella orang yang tepat?” tanya Satya, lebih tepat pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya sendiri.
Pertanyaan tentang apakah Bella tepat untuknya? Atau sebaliknya, apakah Satya tepat untuk perempuan seperti Bella?
“Sejujurnya, aku belum pernah bertemu Bella dan tidak bisa memastikan jawaban dari pertanyaanmu apakah dia tepat atau tidak. Hanya saja kau yang bisa memastikannya sendiri, Sat. Aku dengar beberapa artikel membahas status keluarganya, dan dia dari keluarga yang biasa-biasa saja mungkin karakternya juga akan jauh berbeda dengan kita. Aku pikir wanita sederhana akan cocok untukmu setidaknya kau lebih ahli daripada dia dalam urusan ranjang,” ucapan terakhir Alvin disertai tawa yang mengolok-olok.
Kedua mata Satya seketika membola sempurna mendengar kalimat akhir Alvin. “Yak … jangan berbicara sembarangan! Meskipun Bella dari keluarga biasa-biasa saja, tetapi dia cantik. Karakternya juga sangat unik dan dia tergolong perempuan yang tidak banyak menuntut. Aku tidak percaya wanita itu tidak memiliki kekasih apa lagi ibuku pernah mengatakan Bella adalah mahasiswa terpintar di kampusnya. Bisa saja dia lebih ahli dari perkiraanmu.”
Seketika Alvin tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Satya tentang istrinya. “Kalau begitu pulang dan buktikan sendiri, Sat!”
“Kau menantangku?”
Alvin tersenyum menyeringai. “Bukannya kau memang selalu suka dengan tantangan? Aku dengar sebuah brand ternama mengeluarkan koleksi terbaru. Jika aku benar, kau bisa membelikan setelan jas dari brand itu sebagai hadiah untukku.”
“Kalau kalah?”
“Kau tahu, aku akan selalu menuruti permintaanmu termasuk memberikan lahan yang tidak ingin dijual oleh keluargaku. Bagaimana?”
“Baiklah. Deal.”
__ADS_1