
Namaku Aisya Syaffira, panggil saja Aisya. Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Aku tinggal dengan Abi, Umi dan Kakak perempuanku. Abi ku bernama Arman, Umiku bernama Rania, dan kakak perempuanku bernama Aliya.
Pagi ini, aku sarapan dengan abi, umi dan kak Aliya. Aku sudah berpakaian rapi, memakai pashmina yang menutup bagian dada serta gamis coklat polos. Setelah libur sebulan dari pondok pesantrenku, aku dan kakakku akan kembali lagi kesana.
"Abi anterin Aisya sama Kakak kan? Biasanya abi nggak bisa anterin ke ponpes.” tanyaku sembari sarapan.
“Iya Aisya, kali ini Abi ikut antar kalian. Tahun lalu Abi kan ada kerjaan di luar kota. Alhamdulillah sekarang Abi bisa ambil cuti satu bulan buat ketemu anak-anak Abi.” Kata Abi. Aku dan kakakku pun tersenyum bahagia, apalagi umi ku.
“Ya sudah, dihabiskan sarapannya, habis gini kita berangkat biar nggak telat” kata Umi.
“Iya Umi.” Kataku dan kakakku kompak menjawab.
Setelah selesai sarapan, kita langsung menuju ke pondok pesantren. Jujur, aku juga kangen banget sama sahabat-sahabatku. Oh iya, aku mempunyai tiga orang sahabat. Pertama, Syafa Asiyah panggil saja Syafa. Kedua, Raisya Assyifa, panggil saja Raisya. Ketiga, Kayra Syafiiqah. Setiap sahabatku mempunyai sifat-sifat yang berbeda. Syafa, orangnya lebih suka menasehati, kadang emosian, dan jago beladiri sama sepertiku. Kalau Raisya, orangnya kadang tegas, kadang lemot dan kadang juga suka ngomel sama seperti Syafa. Sedangkan, Kayra orangnya lebih ke lemah lembut jarang marah. Ya kalau aku sih, kata tiga orang sahabatku ini, aku baik, kadang usil, kadang juga ngeyel, tapi tenang aku tidak nakal kok…
Akhirnya, aku dan kakakku sudah sampai di pondok pesantren. Abi dan Umi langsung menuju pulang ke rumah, dan umi pun sudah mengantarku serta kak Aliya sampai depan kamar kita. Sedangkan Abi berbincang dengan ustad pemilik pondok pesantren ini.
Tiba-tiba, terdengar dari kamar ada empat orang laki-laki yang datang dengan menggunakan motor ninjanya. Aku dan tiga sahabatku langsung bergegas melihatnya.
“Siapa itu? Berani banget mereka datang ke ponpes pakai motor miliknya.” Kata Raisya. Aku hanya diam saja menatap ke salah satu laki-laki yang masih memakai helmnya.
“Tau tuh, mana boleh bawa motor sendiri. Pasti bakalan disita tuh motor-motornya!” kata Syafa.
Aku hanya melihat laki-laki paling depan tersebut dengan masih memakai helmnya.
Saat laki-laki itu membuka helmnya, otomatis aku langung menundukan wajahku dan berkata, “Astahfirullahal adzim”.
“Kenapa Aisya?” tanya Kayra.
“Oh. Gapapa kok Kay. Kaget aja tadi ada debu.” bohongku. Aisya hanya mengangguk mengerti.
Tiba-tiba, speakers pemberitahuan untuk menuju ke aula berbunyi. “Ayo, kita ke aula.” Kata Syafa.
Aku dan teman-temanku langsung menuju ke aula. Saat kami berempat berjalan, ada empat orang laki-laki dari belakang langsung menyenggolku dan akupun terjatuh.
__ADS_1
“Astaghfirullah” kataku.
“Hei! Kalo jalan hati-hati dong! Temanku jatuh nih gara-gara kalian.” Kata Syafa.
“Udah Syaf, gapapa kok” kataku sambil dibantu berdiri oleh Kayra.
“Kamu berdarah tuh Sya, ini nggak bisa dibiarin mereka harus minta maaf.” Kata Syafa.
Kayra pun mencegah tangan Syafa karena kalau tidak dicegah tangan mereka berempat bisa-bisa patah semua.
“Nggak semua harus dibalas dendamin, Syafa. Yuk! Kita udah ditunggu.” kata Kayra. Setelah kita berjalan lagi, aku melihat laki-laki menoleh ke belakang dan menatapku, lalu aku langsung menundukkan kepalaku.
Dalam hatiku, “Kenapa sih dia melihatku terus?”.
Sesampainya di aula, ustad pemilik pondok pesantren ini membacakan aturan-aturan yang ada di ponpes pada santriwan dan santriwati baru saja masuk ke ponpes ini. Setelah selesai, para santriwan dan santriwati kembali ke kamar masing-masing. Tiba-tiba ada yang memegang tanganku, aku terkejut hingga menoleh ke arah belakang.
“Hei, sorry ya gue tadi nyenggol lo sampai jatuh.” Kata laki-laki itu. Tanganku masih di pegangnya hingga Syafa menarik tanganku untuk menjauhkan tangan dari laki-laki. Aku sadar dan langsung beristighfar.
“Oh tadi kamu yang menyenggol temanku. Sekarang minta maaf!” kata Syafa. Laki-laki itu langsung menjulurkan tangannya. Aku langsung berkata tanpa menyentuh tangannya,
Dari kejauhan, santriwan itu langsung berteriak dan menyebut namanya, “MAAF YA!! NAMAKU ARSYAD.
GUE BAKALAN CARI TAU NAMA LO!”.
“Kenapa sih dia? Aneh banget.” kata Raisya.
“Iya aneh. Tapi katanya sih dia anak pemilik pondok pesantren ini.” Kata Raisya lagi.
“Kok kamu tahu Rai?” tanya Kayra.
“Tau dong. Dengar dari santriwati yang fans nya si siapa tadi ? Arsyad? Ya itulah pokoknya.” Kata Raisya.
Saat aku tiba di kamar, aku langsung memasukkan semua pakaianku ke lemari yang ada di samping kasurku.
__ADS_1
“Oh iya, Aisya. Apa kamu bawa novelnya?” kata Syafa.
“Bawa kok. Aku cari dulu ya.” kataku sambil mencari novel titipan Syafa.
“Oke. Aku toilet sebentar. Biasa panggilan alam. HAHAHA.” kata Syafa sambil tertawa.
“Kebiasaan deh tuh anak.” kata Kayra.
Setelah selesai berberes, aku duduk dengan teman-temanku di kamar dan bercerita.
“Oh iya. Aisya. Kayaknya nih ya, Siapa itu tadi ? Arsyad? Suka deh sama kamu?” kata Raisya.
“Enggaklah. Aku aja nggak kenal dia siapa?” kataku.
“Tapi dia tuh nyebelin parah. Masa sih anak pemilik pondok tapi dia nggak punya attitude yang baik kayak Ustadz Ammar.” kata Syafa.
“Syaf, nggak boleh ngomong kayak gitu. Istighfar yuk.” Kata Kayra.
“Kalau dia anak pemilik pondok harusnya kenal sama kamu Aisya. Abimu sama Ustad Ammar sahabatan. Masa, kamu nggak kenal dia sih ?” kata Syafa.
“Iya juga ya? Kenapa kamu nggak kenal dia, Sya?” Tanya Raisya.
“Hmm, aku juga kurang tahu. Sudahlah jangan bahas dia. Bosen dengernya.” Kataku yang langsung merebahkan tubuhku di kasur.
Baru saja aku ingin tidur siang, ada tiga orang perempuan masuk ke kamar yang aku tempati, dan menarik dengan kasar serta tiga orang temanku pun langsung kaget.
“Lo Aisya kan ?” kata dia yang tidak ku kenali.
“Iya, aku Aisya. Ada apa ya?” kataku. Syafa langsung berteriak dan berkata, "Kalau mau masuk kamar orang, salam dulu dong. Jangan asal masuk!".
"Diem deh lo” kata salah satu perempuan ini.
“Gini ya. Gue Sarah. Gue suka sama Arsyad. Jadi, lo nggak berhak buat deketin dia. Ngerti?” katanya sambil mencengkram lengan kananku.
__ADS_1
“Aku nggak tau siapa Arsyad. Kenapa kamu tiba-tiba datang terus marah-marah?” kataku langsung melepas kan tanganku.