
“Assalamualaikum..huh huh huh.” ucap Aisya.
“Kenapa Aisya? Tumber banget ngajinya cepet biasanya juga lama.” tanya Kayra.
“Tadi aku ketemu sama dia?” kata Aisya yang sambil ngos-ngosan.
“Siapa Sya?” tanya Kayra.
“Arsyad” kata Aisya.
“Kamu nggak papa kan Sya?” tanya Syafa.
“Dia sempat megang tanganku dan aku minta lepaskan.” kata Aisya.
“Beraninya dia pegang tangan yang bukan mahromnya. Akan ku balas nanti” kata Syafa.
“Nggak usah Syaf, nanti jadi kamu dosa.”kata Kayra.
"Iya juga sih." kata Syafa.
“Makan yuk aku lapar banget.” Raisya.
“Oh iya. Pantas perutku bunyi terus.” Kata Syafa.
“Ayo." kata Aisya.
Di pondok pesantren ini mewajibkan santriwan dan santriwatinya membawa piring, sendok, dan gelas sendiri untuk makan di kantin.
“Yasudah. Yuk.” kata Kayra. Aisya dan tiga temannya berjalan menuju kantin untuk mengambil makanan.
Pada saat mengantri makanan, Kayra melihat ke arah meja ada lauk udang.
“Kayra. Ada nggak selain udang?" bisik Aisya di belakang Kayra.
“Ada. Nanti kamu ambil lauk tempe dan ayam saja.” kata Kayra.
“Oke makasih.” jawab Aisya. Tiga teman Aisya tahu bahwa Aisya tidak bisa makan udang dan segala jenis ikan.
Setelah kita makan dan menyelesaikan makan, Aisya dan tiga temannya langsung mencuci piring dan kembali ke kamar.
Lagi-lagi, ada Arsyad yang menyapa Aisya dan Aisya hanya menjawab “Iya” tanpa menoleh ke arahnya.
“Siapa Sya?” tanya Syafa. “Arsyad.” Bisik Aisya
Sesampainya di kamar, Aisya dan tiga temannya sedang berbincang sebentar dan langsung tidur siang. Setelah Aisya tidur siang, Aisya bangun tepat di jam 2.30 siang. Aisya bangun dan langsung membangunkan tiga temannya.
__ADS_1
“Syafa bangun.” kata Aisya sambil menepuk pelan Syafa. Syafa pun bangun dan duduk selama 10 menit untuk sadar sepenuhnya.
“Kayra bangun” kata Aisya sambil menepuk pelan Kayra. Kayra pun bangun dan duduk selama 10 menit untuk sadar sepenuhnya.
“Raisya bangun.” kata Aisya sambil menepuk lengan Raisya. Raisya juga bangun dan duduk selama 10 menit untuk sadar sepenuhnya.
Setelah 10 menit Aisya dan tiga temannya duduk, Aisya pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi
kemudian menuju masjid untuk sholat Ashar.
“Yuk” kata Aisya.
“Kalau Aisya udah kuliah ke luar negeri mungkin nggak ada lagi ya yang bangunin kita.” kata Raisya.
“HAHAHA… Pakai alarm aja Rai.” kata Aisya.
“Tapi kamu bangun aja nggak pakai alarm Sya.” Kata Kayra.
“Eh iya juga sih. Mungkin aku sudah terbiasa bangun sendiri tanpa alarm.” kata Aisya
Setelah sholat Ashar, aku dan tiga temannya kembali ke kamar untuk bersih diri atau mandi sore. Di setiap
kamar ada kamar mandi sendiri dan setiap kamar berisi empat orang. Setelah Aisya mandi dan berpakaian, Aisya langsung membaca novel sembari menunggu teman-temannya yang masih mandi.
“Eh, itu novelmu judul baru Sya?” kata Syafa.
“Kalau aku sudah baca novelmu yang kupinjam di awal. Aku pinjam yang itu ya.” kata Syafa.
“Iya. Buruan mandi. Nanti telat loh.” Kata Aisya.
“Oke siap.” Kata Syafa.
Waktu menunjukkan pukul 17.30, Aisya dan tiga temannya menuju ke masjid. Tiba-tiba Aisya merasakan sebelah kanannya ada seseorang. Aisya menoleh ke kanan, ternyata benar, ada Arsyad di samping Aisya. Aisya berhenti, tiga teman Aisya dan si Arsyad pun ikut berhenti.
“Kamu bisa nggak sih nggak ganggu aku terus. Dari pagi sampai sore pun masih aja ganggu.” kata Aisya yang udah memang terlanjur emosi.
“Nggak bisa. Gue pengen kenalan sama lo.” katanya. “Tapi aku nggak! Paham? Minggir aku sama temanku mau sholat Maghrib.” kata Aisya.
“Nggak mau.” katanya yang masih kekeh tidak mau minggir.
“Oh kamu nggak mau minggir? Ok? Sini maju kamu!” kata Syafa sambil mengepal tangannya hendak memukul Arsyad.
“Syaf..Syafa..Sabar Syaf Sabar.” kata Kayra menahan Syafa yang hendak memukul Arsyad.
Dari kejauhan, “HEI KALIAN NGAPAIN!” kata seseorang dari jauh, laki-laki juga seangkatan juga. Kemudian dia dan 2 temannya datang menghampiri.
__ADS_1
“Ada apa ini? Kenapa santriwan dan santriwati bertemu? Eh, Aisya kamu nggak papa kan ?” katanya.
“Lo kenal sama Aisya? Lo siapanya?” tanya Arsyad.
“Ternyata dia belum tahu aku. Kenalin aku Faizal Ramadhan. Panggil saja Faiz.” Jelas Faiz.
“Gue nggak tanya.” Kata Arsyad cuek.
“Kamu itu nggak berhak buat deketin Aisyah. Aisyah itu calonku! Paham?” kata Faiz.
“Nggak percaya gue. Coba lo tanya si Aisyah, mau gitu sama lo?” kata Arsyad.
“Gimana Aisyah? Be---. Loh mana Aisyah?” kata Faiz.
Sembari mereka berbicara, aku dan teman-temanku mundur pelan-pelan lalu menuju masjid dengan jalan cepat.
Sesampainya di depan masjid, “Huh..Gila ya mereka, tapi seru. Kayak lagi ngerebutin kamu Aisyah.” Kata Raisya.
“Apa sih Raisya ini? Percuma juga kalau mereka mau jadi pacarnya Aisyah. Toh, Aisyah nggak mau pacaran tapi taaruf dan kamu tau sendiri kan tadi Faiz bilang kayak gitu jijik banget tau nggak.” Kata Syafa.
“Hus, Syafa nggak boleh gitu. Faiz juga manusia kali.” kata Kayra.
“Yuk ambil wudhu waktunya Sholat!” Kata Kayra.
Aisya masih melamun karena hal tadi hingga Kayra menyadarkanku dengan menepuk pelan bahuku.
“Sya, Yuk ambil wudhu! Kenapa Sya? Masih mikirin yang tadi ya? Nggak usah dipikir, nggak ada untungnya juga.” Kata Kayra.
Aku hanya menganggukan kepalaku dan berjalan menuju tempat wudhu. Setelah selesai wudhu, Aisya dan teman - temannya sholat maghrib berjamaah.
Setelah selesai sholat maghrib, kita semua mengaji sambil menunggu sholat Isya’. Semuanya berwudhu kembali untuk sholat Isya’. Setelah sholat Isya’, semua santriwan dan santriwati kembali ke kamar masing - masing. Sesampainya di kamar, kita berempat kaget karena ada surat saat Raisya membuka pintu kamar.
“Eh, ada surat nih. Dari siapa ya? Aku baca ya?” kata Raisya.
“Baca pengirimnya aja Rai. Isinya jangan.” Kata Kayra.
“Oh ok. Sebentar, aku lihat dulu. Oh dari Arsyad.” kata Raisya.
“Hah? Arsyad? Buat sapa itu? Pasti buat Aisyah.” kata Syafa.
Raisya mengangguk dan memberikan ke Aisyah. Syafa, Raisya dan Kayra masuk ke kamar. Aisya membaca surat itu di luar kamar, isi suratnya adalah
Hai, gue Arsyad. Lo pasti udah tau gue
siapa kan? Gue cuman pengen kenalan aja sama lo. Kenapa lo terus-terusan
__ADS_1
ngehindar dari gue? Padahal waktu lo ke rumah gue, gue lagi di kamar main sama
temen-temen gue. Gue mau ngomong sesuatu sama lo, kalo gue …