WHEN I KNOW YOU

WHEN I KNOW YOU
5


__ADS_3

Arsyad Maghfirah Absyar atau Arsyad. Arsyad adalah anak dari pemilik pondok pesantren Al Kautsar yaitu Ustad Ammar. Arsyad berangkat dari Jakarta bersama dengan tiga temannya ke pondok pesantren.


Pertama, Shaquille Syafiq panggil saja Syafiq. Kedua, Rifqi Wahyudi, panggil saja Rifqi. Ketiga, Kasyafani Musyaffa. Ketiga sahabat Arsyad ini idaman para santriwati dan jago bela diri.


“Bun, Aku berangkat dulu ya. Kalau Arsyila datang kasih tau aku. Assalamualaikum.” kata Arsyad sambil salam tangan ke bunda.


Arsyila Maghfirah Absyar adalah kembaran Arsyad yang masih bersekolah di luar negeri tetapi hanya sebentar saja. Arsyad tidak, meskipun disana ada keluarga kami tapi aku tidak berminat.


“Waalaikumussalam. Kamu yakin mau pakai motor saja ke pesantren? Bunda khawatir soalnya.” kata Bunda.


“Aku lebih suka naik motor daripada mobil, Bun.” kata Arsyad sambil memakai sepatu.


“Iya Bunda tau kok. Maksud bunda mending bareng sama bunda ke ponpes. Gini kan jadi bunda sendiri sama supir.” kata Bunda yang duduk di sofa ruang tamu.


"Nanti kita bertemu disana. Berangkat dulu ya, Bun." kata Arsyad.


“Hati-hati ya nak. Baca doa dulu sebelum berangkat.” Kata Bunda.


Arsyad langsung posisi bersiap seperti orang sedang upacara, “Oke siap Bunda, Assalamualaikum.” kata Arsyad.


“Waalaikumussalam.” jawab Bunda. Arsyad pun langsung menuju ke pondok pesantren bersama ketiga sahabat Arsyad.


Sesampainya di pondok pesantren, semua orang tertuju pada Arsyad dan teman-temannya.


Ada yang bilang, “Berani banget dia bawa motor sendiri ke pesantren ini?”, ada juga yang bilang “Wah… bagus banget motornya. Jadi, pengen gue.”, “Keren ya?”, “Siapa dia?”.


Dari sekian banyaknya orangnya, Arsyad hanya tertuju pada salah satu santriwati. Arsyad langsung melepas helm dan melihatnya, sungguh Arsyad tidak bisa berbohong.


Dalam hati Arsyad berkata, “Ma Shaa Allah.”, tapi Rifqi menepuk bahu Arsyad.


“Liat apa sih?” kata Rifqi.


“Oh. Enggak.” kata Arsyad.


“Yuk parkir motor dulu!" kata Kasya.


“Yuk!” kata Rifqi.


Kita memarkirkan motor dan menuju rumah yang ada di pondok pesantren ini.


“Assalamuakum, Ayah.” kata Arsyad.


“Waalaikumussalam. Loh kamu kok nggak bareng sama Bunda?” tanya Ayah yang seperti sedang mencari keberadaan Bunda.


”Oh iya Yah, aku tadi naik motor sama temen-teman aku.” jawab Arsyad sambil duduk di sofa.

__ADS_1


“Maksudnya?” tanya Ayahnya bingung.


“Ya, Syafiq, Rifqi, sama Kasya. Naik motor barengan." jawab Arsyad.


“Kalian semua di hukum! karena melanggar aturan yang sudah di tetapkan!” kata Ayah.


“Tapi Yah, masa anak sendiri di hukum.” kata Arsyad


“Walaupun anak Ayah, tetap menjalankan hukuman.” Kata Ayah.


Saat hendak berdiri, ada sosok santriwati yang familiar bagi Arsyad dan ternyata benar dia adalah santriwati yang Arsyad lihat saat sampai di pondok pesantren ini. Arsyad lihat dari tadi, sampai ketahuan oleh Ayahnya, dipukulnya paha kaki Arsyad.


“Assalamualaikum, Ustad. Maaf menganggu. Saya kemari ingin memberitahukan bahwa ada santriwati yang bertengkar.” kata Ustadzah yang berdiri di samping santriwati itu.


“Benar itu, Aisya?” tanya Ayah.


Dalam hati Arsyad, Oh jadi namanya Aisya. Aku melihatnya sedaritadi dan Arsyad lihat dia tidak fokus sampai teman sebelahnya menyenggol pelan lengannya.


“Aisya.” Kata Syafa sambil menyenggol pelan lengan tangan Arsyad.


“Oh iya. Om eh iya Ustad, ada apa? Maaf saya tidak mendengar.” kata Arsyad.


“Benar, kalau kamu bertengkar dengan Bella?” tanya Ayah Arsyad. lagi.


“Sebelumnya mohon maaf ustad, saya beritahu kronologinya. Begini….” kata Aisya sambil menjelaskan kronologinya.


Santriwati bernama Bella ini menyukai Arsyad, tetapi Arsyad lebih menyukai Aisya.


“Tapi ingat jangan cinta terlalu dalam, karena menyebabkan masalah yang serius. Kalaupun memang suka yang sewajarnya saja.” Kata Ayah lagi.


Akhirnya santriwati bernama Bella tersebut meminta maaf dan menunduk malu.


“Kalau begitu, kalian boleh kembali ke kamar kalian masing-masing” kata Ustadzah.


Mereka kembali ke kamar masing-masing, tetapi saat mereka keluar dari rumah ini Arsyad memanggil, “Tunggu Aisya.”.


Aisya pun menoleh dan berkata “iya?”.


“Gue udah tau nama lo sekarang. Aisya kan?.” kata Arsyad.


Dia pun langsung berbalik dan berjalan cepat sambil menggandeng lengan temannya yang tidak Arsyad ketahui juga namanya.


“Syad, santriwati sebelah si Aisya itu. Ma Shaa Allah ya.” kata Syafiq.


“Lo suka sama dia?” tanya Arsyad.

__ADS_1


“Mungkin. Pada pandangan pertama.” kata Syafiq.


“Hei kalian buruan ganti baju dan menjalankan hukuman.” kata Ayah.


Kupikir ayah lupa dengan hukuman yang diberikan kepada Arsyad. Akhirnya, Arsyad dan ketiga teman Arsyad dihukum dengan 1 buku tebal di letakkan di atas kepala kemudian berdiri di tengah lapangan. Arsyad tidak peduli dengan keadaan sekitar, toh mereka juga merasakan ini nantinya bila di hukum.


“Gilak, panas banget.” Kata Syafiq yang sudah berkeringat.


“Iya nih. Berapa menit lagi sih?” tanya Rifqi.


“Satu jam.” jawab Arsyad bersamaan dengan Kasya.


“HAH? Yang bener aja!” kesal Rifqi dan Syafiq bersamaan.


“Udahlah. Namanya juga hukuman. Jalanin aja.” Kata Kasya yang tetap berdiri tenang.


Kasya memang begitu kalau memang salah ya salah, benar ya benar.


Setelah selesai menjalan hukuman, Arsyad dan ketiga temanku kembali ke kamar.


“Parah sih. Panas banget.” Kata Rifqi.


“Udahlah gue mau mandi lagi.” Kata Syafiq.


“Hei!! Gue duluan dong!” kata Rifqi yang sedang berebut kamar mandi.


“Udah-udah gue aja. Kalian lamaa!” kata Kasya.


“Lah dia duluan. Lo sih Qi.” Kata Syafiq yang menyalahkan Rifqi padahal mereka berdua yang salah.


“Kok gue sih? Ya lo lah Fiq.” Kata Rifqi yang menyalahkan Syafiq.


“UDAH UDAH KALIAN BERDUA BERISIK GUE MAU REBAHAN.” kata Arsyad karena mereka masih saling menyalahkan.


Dengan Arsyad mengeluarkan suara langsung deh mereka diam dan duduknya tidak saling berhadapan satu sama lain.


Setelah kita semua selesai bersih diri, kita berjalan menuju masjid karena mendengar pengumuman bahwa semua santriwan dan santriwati harus datang ke aula. Tak sengaja Arsyad menyenggol lengan santriwati dan ternyata itu santriwati yang bernama Aisya.


“Astaghfirullah” katanya saat terjatuh.


“Hei! Kalo jalan hati-hati dong. Temanku jatuh nih gara-gara kalian.” Kata teman sebelah kanannya.


“Udah Syaf, gapapa kok” katanya sambil dibantu berdiri oleh teman disamping kirinya juga.


Arsyad belum sempat untuk meminta maaf karena bahunya sudah dirangkul Syafiq sambil berjalan. Saat Arsyad berjalan, Arsyad masih melihatnya dengan menoleh ke belakang, lalu dia langsung menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Dalam hati Arsyad, “Maaf ya Aisya. Setelah selesai pengumuman ini, aku bakalan minta ke kamu.”. Arsyad pun tidak tau apa yang ada di dalam pikirannya, hingga tidak tega melihat tangan Aisya terdapat luka.


__ADS_2