WHEN I KNOW YOU

WHEN I KNOW YOU
14


__ADS_3


ARSYILA -



"Kenapa Arsyad mau dihukum lagi?" tanya Arsyila.


"Padahal capek banget tadi siang, dua halaman." kata Arsyad.


Memang melelahkan karena mereka sudah dihukum menyapu halaman depan dan belakang.


"Arsyad, Ayah hukum tidur disini sampai besok pagi. Tidak boleh pergi kemanapun! " tegas Ayah.


"Hah Maksudnya, Yah?" kata Arsyila dan Arsyad bersamaan.


"Itu saja, Ayah?" tanya Arsyila.


"Iya, tetapi tidak boleh keluar kamar sama sekali. Terhitung dari Isya." kata Ayah.


"Arsyad aja, Yah? Yang lainnya?" tanya Arsyad bingung tak percaya.


"Iya hanya kamu saja! Ayah mau masuk dulu ke rumah udah mau maghrib." kata Ayah yang beranjak dari kursi dan masuk ke dalam rumah.


"Bunda? Ini beneran?" tanya Arsyad.


"Iya, Nak. Sekarang kamu ke masjid dulu, udah mau masuk sholat maghrib. Arsyila kamu buruan mandi, keburu telat nanti sholatnya!" kata Bunda yang sembari masuk ke dalam rumah.


"Iya, bunda." kata Arsyila.


Arsyad yang hendak berjalan menuju masjid, dihadang oleh Arsyila.


"STOP!!" kata Arsyila.


"Apa?" tanya Arsyad.


"Kenapa tiba-tiba, Ayah hukum kamu?" tanya Arsyila.


"Ngga tahu." jawab Arsyad dengan melanjutkan jalannya menuju masjid.


"Tunggu, Syad! Ada yang nggak beres nggak sih?" kata Arsyila yang menjajarkan jalannya dengan Arsyad.


"Apanya? Ya sudahlah, sehari saja kok." kata Arsyad yang masih berjalan.


"Nggak mungkin. Ayah sama Bunda pasti menyembunyikan sesuatu. Aku yakin itu!" kata Arsyila yang curiga dengan kedua orang tuanya.


"Nggak usah suudzon, Arsyi. Sudah kamu pulang mandi sana! Bau kamu." kata Arsyad yang membuat Arsyila melongo.


"Awas ya nanti kalau ada apa-apa. Aku nggak mau bantuin!" kata Arsyila.

__ADS_1


Arsyad tidak menghiraukan perkataan Arsyila. Arsyila kembali ke rumah untuk membersihkan diri dan sholat.


- ARSYAD -


Di perjalan menuju masjid, Arsyad masih bertanya-tanya. Ia harus dihukum harus menginap di rumah hingga menjelang pagi.


"Kenapa gue harus dihukum lagi? Kenapa cuma gue aja? Kesel banget!" kata Arsyad sambil menendang kerikil yang ada disekitarnya.


Tak sadar, Arsyad menendang kerikil dengan sedikit keras dan tak sengaja mengenai kepala seorang santriwati.


"Aduh.." kata santriwati tersebut.


"Eh, sorry, gue nggak sengaja tadi...Aisya?" kata Arsyad.


"Iya, nggak papa. Arsyad?" kata Aisya.


"Lo nggak papa? Yakin?" kata Arsyad sembari melihat kepala Aisya.


"Aku nggak papa. Permisi Arsyad, Assalamualaikum." kata Aisya yang langsung melanjutkan jalannya.


"Kenapa sih lo ngehindarin gue terus? Gue salah apa sama lo? Gue itu suka sama lo, Aisya?" kata Arsyad yang membuat Aisya menghentikan jalannya tanpa berbalik menghadap Arsyad.


"Harusnya kamu tahu Arsyad. Kenapa aku harus ngehindarin kamu? Aku sama kamu itu bukan mahrom. Kamu nggak ada salah sama aku. Aku harus ke masjid, karena sudah mau maghrib. Assalamualaikum." kata Aisya.


"Waalaikumussalam." jawab Arsyad dengan menundukkan kepala.


"Harusnya gue tahu. Kalau Aisya nggak suka sama gue." kata Arsyad yang juga berjalan menuju Masjid.


"Lo kenapa, Syad? Lemes banget gue lihat?" tanya Abyan.


"Kenapa lagi lo? Aisya?" tanya Syafiq.


"Nggak tahu. Gue bingung banget sama diri gue. Sudah tahu Aisya nggak suka sama gue, tapi gue ngejar dia terus. Dan Ayah suruh gue tidur di rumah, bukan di kamar ini." kata Arsyad.


Rumah yang dimaksud adalah rumah dekat pondok pesantren ini. "


"Kenapa lagi si Syad?" tanya Rifqi.


"Gue dihukum lagi. Nggak jelas pokoknya." kata Arsyad.


"Lo sudah tahu Aisya nggak suka sama lo. Kenapa lo kejar dia terus? Atau jangan-jangan dia risih sama lo, Syad." kata Kasya.


"Bisa jadi tuh." kata Rifqi.


"Ya sudah mending sholat maghrib dulu. Yuk wudhu dulu!" kata Abyan sembari merangkul Arsyad serta mengajaknya wudhu.


- AISYA -


Aisya berjalan menuju ke masjid dengan istighfar agar ia tenang. Sebelumnya Aisya sempat bertemu dengan Arsyad saat menuju ke masjid. Arsyad tidak sengaja menendang kerikil hingga mengenai kepala Aisya.

__ADS_1


Sesampainya di depan masjid, terlihat tiga orang sahabatnya sedang menunggunya.


"Assalamualaikum. Maaf ya teman-teman, aku tadi sedikit telat. Tadi ada masalah saat hendak ke masjid tapi sudah teratasi kok." jelas Aisya.


"Ada apa, Aisya?" tanya Kayra.


"Oh nggak kok. Hanya masalah kecil saja." jelas Aisya.


"Oh ok. Ayo wudhu dulu! Keburu antri wudhunya nanti." kata Syafa.


"Ayo." kata Aisya.


Aisya menutupi kejadian tadi, agar teman-temannya tidak mengkhawatirkannya.


Selesai sholat maghrib dan isya'  Aisya dan teman-temannya menuju ke kantin untuk makan malam. Setelah mereka makan malam, mereka berjalan keluar dari kantin dan menuju ke kamarnya. Aisya sempat melihat teman-teman Arsyad duduk di bawah pohon, tetapi tidak terlihat Arsyad disana.


Dalam hati Aisya, Apa mungkin perkataanku tadi menyakiti hatinya? Atau memang Arsyad masih makan di dalam kantin? Sudahlah, kenapa aku jadi memikirkannya?Aisya sampai menggelengkan kepala agar tidak memikirkan Arsyad.


"Kenapa Aisya?" tanya Syafa.


"Oh enggak. Kepalaku pusing banget." kata Aisya bohong.


"Kamu sakit lagi? Yasudah, ayo kita kembali ke kamar." kata Raisya.


"Iya iya. Ayo." kata Aisya.


Padahal Aisya sama sekali tidak merasakan pusing di kepalanya.


Dalam hati, Maafin aku ya teman-teman, aku sudah bohong sama kalian bertiga.


Sesampainya di kamar, Aisya langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Aisya masih memikirkan perkataannya ke Arsyad tadi. Dalam hati Aisya, Apakah ucapanku ini menyakiti hati Arsyad? Ya Allah, maafkan hambamu ini yang telah menyakiti hati seseorang dengan ucapan. Tanpa sadar, Syafa menghampiri ranjang Aisya.


"Kenapa Sya? Kok kayaknya kamu banyak pikiran gitu sih?" tanya Syafa.


"Nggak kok, Syaf. Aku nggak papa." kata Aisya.


"Yakin? Aku tahu kok kamu lagi memikirkan seseorang. Arsyad kan?" tanya Syafa.


"Hah? Nggak kok." kata Aisya.


"Aku ini temanmu, Sya. Aku hafal sifatmu, sifat Raisya dan sifat Kayra. Aku tahu juga kamu lagi ada masalah dengan Arsyad. Jujur saja, Aisya. Aku nggak akan marah kok. Raisya juga, Kayra juga nggak bakalan marah kok kalau kamu jujur." kata Syafa.


Aisya yang mendengar perkataan Syafa langsung menunduk.


"Benar, Aisya. Memang nggak semua harus diceritakan, tapi kalau memang perlu diceritakan, cerita saja. Kita bertiga siap kok dengar curahan hati kamu." jelas Kayra.


"Iya benar tuh, Aisya." kata Raisya.


"Ya sudah. Akan aku beritahu. Tadi aku berpapasan dengan Arsyad dan dia menendang kerikil yang tidak sengaja mengenai kepalaku. Setelah itu, dia tanya sama aku, alasan aku menghindarinya dan harusnya dia paham aku menghindarinya karena kita berdua bukan mahrom." jelas Aisya.

__ADS_1


"Lalu?" tanya Syafa.


"Iya dan aku takut perkataanku menyakiti hatinya." kata Aisya yang menundukkan kepalanya.


__ADS_2