
“Lo berani ya ternyata!” katanya. “Dia belum tau lo siapa Bel.” kata teman se gengnya.
“Oh gitu? Gue Bella. Sabila Azizah Sasmito. Gue anak dari orang yang membantu banyak di pembangunan pondok pesantren ini.” Katanya.
Dalam hatiku, Bella? Sabila Azizah Sasmito? Hmm..Bukannya itu bawahan Abi ya?.
“Diem lo. Nggak berani jawab kan?” katanya. Aisya tersadar dari pikirannya.
“Aku nggak peduli. Lebih baik kamu keluar dari kamar aku dan teman-temanku” kata Aisya.
“Lo usir gue? Ini bangunan bantuan dari Papa gue. Jadi, terserah gue dong mau pergi atau nggak!” kata Bella.
"Aku udah menahan marahku ya! Tapi kamu kelewatan banget. Gini, kalau ini bangunan bantuan dari Papamu. Terus kamu bisa gitu seenaknya masuk ke kamar orang dengar cara nggak sopan. Iya?!” kata Syafa.
Memang, Bella sudah kelewat batas. Aisya pun tadinya mau memarahi tapi Syafa lebih dulu berbicara.
Salah satu ustadzah pun datang menghampiri kami. “Assalamualaikum, ada apa ini? Saya di bawah mendengar suara kebisingan dari kalian.” Kata Ustadzah.
“Waalaikumussalam ustadzah.” kata Aisya dan santriwati yang disekitarnya sekarang.
“Kalian ikut saya semua ke rumah ustadz Ammar!" titah Ustadzah.
"Awas lo ya nanti!” kata Bella. Syafa yang disamping Aisya ingin memukul Bella, tapi terhalang karena di depan mereka ada ustadzah.
Sesampainya di rumah ustadz Ammar, Aisya terkejut terdapat empat laki-laki yang ia lihat sebelumnya. Salah satunya dari mereka sedang menatapku dan ketahuan oleh Ustad Ammar, dipukulah paha kakinya. Ia langsung merasa kesakitan dan mengelus paha kakinya.
“Assalamualaikum, Ustad. Maaf menganggu waktunya. Saya kemari ingin memberitahukan bahwa ada santriwati yang bertengkar.” kata Ustadzah.
“Benar itu, Aisya?” kata Ustadz. Aisya tidak fokus karena sedari tadi laki-laki menatapk dan menundukkan kepalanya.
“Aisya.” kata Syafa sambil menyenggol pelan lengan tangan Aisya.
“Oh iya. Ustad, ada apa? Maaf saya tidakmendengar.” kata Aisya.
“Benar, kalau kamu bertengkar dengan Bella?” tanya Ustad.
“Sebelumnya mohon maaf ustad, saya beritahu kronologinya. Begini….” Jelasku jujur.
__ADS_1
“Owh, jadi begitu. Suka memang boleh Bella tapi kalau menimbulkan masalah seperti ini juga tidak baik.” Kata Ustad.
“Tapi ingat jangan cinta terlalu dalam, karena menyebabkan masalah yang serius. Kalaupun memang suka yang sewajarnya saja.” Kata ustad lagi. Bella pun meminta maaf dan menunduk malu.
“Kalau begitu, kalian boleh kembali ke kamar kalian masing-masing” kata Ustadzah.
Akhirnya, kita berempat kembali ke kamar, tetapi saat keluar dari rumah ustad ada yang memanggil Aisya. Aisya dan tiga temannya menoleh bersamaan, ternyata laki-laki yang menyenggolnya tadi pagi. Namanya Arsyad.
“Gue udah tau nama lo sekarang. Aisya kan?" kata Arsyad. Aisya pun langsung berbalik dan berjalan cepat sambil menggandeng lengan Syafa.
Saat Aisya dan Syafa kembali ke kamar kita, ia berhenti sebentar dan berkata,
“Bentar Sya, Kayaknya Arsyad suka sama kamu deh!” kata Syafa.
“Nggak kok, aku saja nggak kenal sama dia.” kataku.
“Padahal Abimu dan Ustad Ammar itu sahabatan dari kecil loh. Masa kamu nggak kenal sama anaknya ustad Ammar?" kata Syafa.
“Yah, kamu tahu kan Abiku itu seperti apa orangnya? Ingat nggak waktu SMP ada cowok yang deketin aku? Abi langsung marah dan larang aku buat deketan lagi sama cowok itu. Setiap aku lagi online whats@pp gitu. Dia langsung chatting aku, nggak aku balas.” kata Aisya.
"Waktu aku kecil, aku juga pernah diajak Abi ke rumah Ustad Ammar yang ada di Jakarta, tapi anaknya nggak ada di rumah, mungki lagi main di luar rumah. Jadi, begitu deh.” jelas Aisya.
Sesampainya di kamar, Aisya dan Syafa langsung diserbu pertanyaan dengan Raisya dan Kayra. “Gimana tadi? Kalian gapapa?” tanya Kayra.
“Nggak di hukum kan? Atau gimana? Dasar emang nenek lampir satu itu bikin masalah aja.” kata Raisya.
"Raisya, nggak boleh gitu dong!” Kata Kayra sembari menyenggol temannya.
“Habisnya kesel banget aku!" Kata Raisya.
Alhasil kita pun tertawa, “Aku dan Syafa tidak dihukum kok. Malah tadi Bella yang di marahin sama om Ammar.” Kataku.
“Oh gitu. Ya udah bentar lagi kita Sholat Dhuhur. Yuk siap-siap dulu!” kata Kayra.
Saat Aisya dan tiga temannya akan ke masjid, kak Aliya datang menghampiri Aisya dan bertanya masalah tadi pagi,
“Kenapa kamu tadi dek? Aku denger kamu di panggil ke rumah Ustad Ammar. Kenapa? Kamu ada masalah?” tanya kakakku.
__ADS_1
“Eh, kak Alya. Nggak kok kak, cuman salah paham aja.” Kataku.
“Ya sudah, kakak mau kembali ke asrama. Kalau ada apa-apa bilang sama kakak ya! Assalamualaikum." kata kak Aliya.
"Waalaikumussalam." jawab kami berempat.
“Kenapa nggak jujur aja sih, Sya?” tanya Raisya.
“Nggak deh. Kamu tau sendiri kan kakakku seperti apa?” kata Aisya.
“Iya juga sih, di datangi yang namanya Bella.” Kata Raisya.
“Iyaitu tau kamu Rai.” kata Aisya.
Aisya dan tiga temannya menuju ke masjid yang ada di dalam pondok. Setelah selesai sholat berjamaah, Aisya berdzikir kemudian membaca Al-quran. Aisya merasa ada yang melihatnya dibalik tirai pembatas antara laki-laki dan perempuan.
Aisya menoleh sebentar ke arah itu dan ternyata memang benar, ada yang sedang melihatnya dan ternyata itu laki-laki yang menyenggolnya tadi pagi. Aisya secepatnya menyelesaikan bacaan Al-quran dan juga membereskan mukenah, serta berjalan keluar dan kembali ke kamarnya.
Saat Aisya keluar dari masjid, Arsyad sedang mengikutinya dan memegang pergelangan tangan Aisya. Aisya kaget dan menoleh ke arah belakang.
“Tunggu, gue mau kenalan sama lo!" kata Arsyad.
“Lepasin tanganku atau aku teriak.” kata Aisya.
“Oh...oke oke sorry.” katanya sambil melepas tangan Aisya.
“Gini. Gue mau kenalan sama lo. Nama gue Arsyad.” Katanya.
“Aku sudah tau, dan kamu pun sudah tau namaku kan. Aku mau balik ke kamarku.” jawab Aisya.
“Lo anaknya om Arman kan? Gue udah tau kok” tanyanya dan seketika membuat Aisya menghentikan jalannya.
“Gue juga tau lo! Lo juga pernah datang ke rumah gue, tapi gue di kamar, lagi ngaji sama sodara gue. Ternyata lo jadi santriwati disini.” katanya.
Aisya tidak menjawab dan menoleh ke arah Arsyad. Aisya pun langsung berjalam kembali ke kamarnya dengan perasaan yang tidak enak. Aisya juga menaiki tangga dengan cepat dan hampir tersandung.
“Huh huh huh”, Aisya ngos-ngosan di depan pintu kamarku.
__ADS_1
“Assalamualaikum..huh huh huh.” ucap Aisya.
“Kenapa Aisya? Tumber banget ngajinya cepet biasanya juga lama.” Tanya Kayra. “Tadi aku…”