WHEN I KNOW YOU

WHEN I KNOW YOU
20


__ADS_3

-AISYA-


Keesokan paginya, setelah sholat subuh Aisya tengah membereskan tempat tidurnya. Sebelumnya, Aisya baru sempat sholat Istikhoroh dan Aisya pun sudah mendapat jawabannya.


Aisya dan ketiga temannya tengah menunggu Arsyila karena selesai sholat Isya, ia ingin merasakan sarapan di kantin pondok pesantren ini.


Selama di pondok pesantren ini, Arsyila selalu sarapan, makan siang dan makan malam di rumahnya yang berada di dalam kawasan pondok pesantren ini.


Tak lama, Arsyila datang, "Assalamualaikum, semuanya." ucap Arsyila.


"Waalaikumussalam." jawab Aisya dan ketiga temannya.


"Yuk ke kantin! aku lapar banget!" ucap Raisya.


Mereka pun berjalan bersama menuju ke kantin. Aisya dan keempat temannya berpapasan dengan Bella, tetapi Bella tidak ingin menghampiri ataupun mengganggu Aisya dan teman-temannya karena ada Arsyila.


Iya benar, Arsyila merupakan kembaran Arsyad, laki-laki yang disukai oleh Bella, jadi Bella harus terlihat baik agar mendapat restu dari Arsyila.


Namun, Bella masih belum tahu bila sebentar lagi Arsyad memiliki calon pendamping yaitu Aisya.


Sesampainya di kantin, mereka pun mengambil makanan dan mencari tempat bangku yang akan mereka tempati. Mereka sarapan bersama sembari bercerita.


"Hmm, teman-teman. Aku mau kasih tahu ke kalian, kalau aku tidak jadi kuliah di luar negeri." kata Aisya.


"Hah? Kenapa memangnya?" tanya Syafa yang sembari memotong lauk yang akan dimakannya.


"Entah, tiba-tiba saja, aku tidak ingin saja." kata Aisya.


"Oh begitu. Padahal kamu ini pintar banget, Aisya. Sayang sekali tidak melanjutkan kuliah di luar negeri."


kata Raisya.


"Ya sudah. Apapun keputusan, kita sebagai teman sekaligus sahabat kamu akan mendukungmu kok." kata Arsyila.


"Aku setuju dengan Arsyila. Pokoknya kita akan saling mendukung satu sama lain ya." kata Kayra.


Mereka pun saling menganggukkan kepala. Selesai sarapan, mereka kembali ke kamar untuk mempersiapkan Aisya nantinya.


Aisya dan keempat temannya datang ke rumah ustad Ammar.


-ARSYILA-


Sesampainya di rumah, terlihat sudah Abi dan Umi Aisya yang duduk di sofa rumah tengah berbincang dengan Ayah dan Bunda.


"Assalamualaikum." ucap Arsyila dan keempat temannya.


"Waalaikumussalam." jawab kedua orang tua Aisya dan Arsyila.


"Ma Shaa Allah. Calon menantuku cantik sekali. Pantas saja, Arsyad kagum sama kamu, nak. Yuk sebelah sini duduknya." kata Bundanya Arsyila.


"Iya kan, Bun? Sudah baik, sholehah, pintar dan cantik banget. Idaman Arsyad deh pokoknya." kata Arsyila. Aisya menanggapinya dengan tersenyum saja.


"Sudah Arsyila. Sudah sana panggil kakakmu di kamarnya!" titah Ayah.


Arsyila pun berjalan menuju kamar Arsyad. Arsyila pun mengetuk pintu kamar Arsyad, dan pintu pun terbuka tetapi bukannya Arsyad tetapi temannya yaitu Abyan.


Kedua mata Arsyila dan Abyan tak sengaja bertemu, dan Arsyila pun sadar kemudiam menundukkan kepala serta dalam hatinya pun beristighfar.


"Assalamualaikum, aku disuruh sama Ayah buat nyampaiin kalau Arsyad disuruh ke ruang tamu karena mau dimulai." kata Arsyila dengan kondisi gugup.


"Oh iya. Aku sampaiin ke Arsyad sekarang." kata Abyan yang juga menundukkan kepalanya.


"Oke. Terima kasih." kata Arsyila kemudian kembali menuju ke ruang tamu.


-ARSYAD-


Arsyad sangat gugup lantaran beberapa jam atau menit atau mungkin juga detik ini, Aisya akan memberikan keputusan dalam perjodohan ini.


Arsyad pun sudah pasrah dengan keputusan yang akan disampaikan oleh Aisya. Arsyad terus beristighfar agar tidak terlalu gugup.


"Tenang, Syad. Gue yakin si Aisya bakalan nerima lo jadi calon suaminya. Gue yakin 100%!" kata Syafiq.


"Gue udah pasrah banget, Fiq. Gue udah pesimis banget ini. Gue nggak yakin Aisya bakalan nerima gue.." kata Arsyad.


"Pesimis amat sih, Syad. Udah deh kalau lo sampai di terima, lo harus neraktir kita apapun weh." kata Abyan sebagai taruhan.


"Kalau nggak, kalian harus mau gue suruh-suruh. Apapun itu!" taruhan Arsyad.


"Deal!" kata mereka berempat kecuali Arsyad.


Arsyad pun duduk di tengah-tengah Ayah dan Bundanya. Aisya pun juga duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.


"Baik. Bismillahirrahmanirrahim. Mungkin bisa langsung saja ya karena kita juga menunggu Aisya selama 2 hari untuk memberikan keputusannya. Apakah sudah siap, nak?" kata ustad Ammar.

__ADS_1


"Dari Aisya, InShaa Allah sudah siap ustad. Semoga keputusan Aisya nanti dapat diterima baik oleh Arsyad dan keluarga." kata Aisya yang masih menundukkan kepalanya.


-AISYA-


Setelah berbincang-bincang, Aisya pun akan memberikan keputusannya.


"Hari ini, Aisya mau kasih keputusan dalam perjodohan ini. Jadi--" kata Aisya yang terpotong karena Arsyad menyela.


"Tu..tu..tunggu, Aisya." kata Arsyad yang menyela pembicaraan.


"Kenapa, Nak?" tanya Bunda. Arsyad pun menghela napasnya dan berkata, "Silahkan dilanjut Aisya!" titah Arsyad lembut.


"Jadi, In Shaa Allah, Aisya mau menerima perjodohan ini atas izin Allah, Abi, Umi dan kak Aliya.


Namun, masih ada satu hal yang harus Aisya sampaikan ke Arsyad." kata Aisya yang menyerahkan ke pada kedua orang tuanya.


"Apa itu dek?" tanya Ayah.


"Ada satu hal yang harus Aisya sampaikan ke Arsyad. Apa Arsyad mengizinkan Aisya untuk melanjutkan pendidikan kuliah setelah lulus dari pesantren? karena saya ingin mewujudkan cita-cita sebagai psikolog." kata Aisya yang memberi pertanyaan untuk Arsyad.


Arsyad yang mendengar penuturan dari Aisya, bila Aisya ingin melanjutkan pendidikan yaitu kuliah setelah lulus dari pesantren ini.


Arsyad sangat senang lantaran ia juga harus mewujudkan cita-cita juga yaitu menjadi psikolog sama seperti cita-cita Aisya.


"In Shaa Allah. Saya mengizinkan Aisya untuk melanjutkan pendidikan yaitu kuliah untuk menjadi Psikolog, dikarenakan saya juga harus melanjutkan pendidikan yang sama seperti keingin an saya. Mungkin ini kebetulan tetapi ini juga kemauan saya setelah lulus dari pondok pesantren ini." kata Arsyad.


Tak sadar, Aisya tersenyum dengan jawaban Arsyad lantaran ia telah mengizikan Aisya untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus nanti.


Ini masih tahap perjodohan untuk akad nikah akan dilaksanakan setelah lulus dari kuliah nanti.


Aisya tidak diizinkan Abi dan Uminya menikah dulu karena tidak diperbolehkan mendahului kakaknya yaitu kak Aliya.


Kak Aliya sebentar lagi akan lulus dari pesanten ini dan melanjutkan studinya yang sama seperti Aisya. Memang Psikolog adalah cita-cita dari Kak Aliya dan Aisya.


Aisya sangat bersyukur bila ia mendapatkan calon suami yang mengerti dan memahami Aisya.


Kebetulan Arsyad pun ingin juga menjadi Psikolog. Arsyad dan Aisya bisa bersama-sama saat kuliah nanti.


Perjodohan pun selesai dan kedua orang tua Aisya pun pamit untuk pulang.


Aisya dan teman-temannya kembali ke kamarnya untuk beristirahat, sedangkan Arsyad dan teman-temannya juga kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Arsyila pun ikut ke kamar Aisya dan teman-temannya dan membahas perjodohan tadi.


Kak Aliya juga sudah menikah dan melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah bersama dengan suaminya yang berbeda jurusan.


- AISYA -


Aisya dan keempat temannya sedang berjalan menuju ke taman yang menjadi tempat duduk santainya mereka sambil berbincang di waktu istirahat.


"Nggak nyangka ya. Sebentar lagi kita lulus." kata Arsyila sembari membuka jajanannya.


"Iya ya. Apalagi Aisya dan Arsyila sebentar lagi akan menikah." kata Raisya.


"Iya nih. Sudah sold out nih mereka berdua. Jadi pengen!" kata Kayra.


"Setelah ini aku, aku yakin 100%!" kata Syafa yang yakin bila sebentar lagi pasti ada yang melamarnya.


"Aamiin.." ucap Aisya dan tiga temannya kecuali Syafa.


●●●


Hari demi hari, akhirnya Aisya dan empat sahabatnya pun lulus dari pondok pesantren ini. Dalam satu minggu sebelum mendekati akad nikah, Aisya tinggal di rumah orang tuanya di Jakarta. Ia tidak diperbolehkan orang tuanya untuk keluar rumah.


Sedangkan Arsyila tinggal di rumah orang tuanya di Jakarta. Ia juga tidak diperbolekan keluar rumah. Abyan dan Arsyad pun juga tidak diperbolehkan keluar rumah.


Hari itu pun datang, Aisya dan Arsyila mengenakan gaun pernikahan yang sama seperti gambar di bawah ini. Gaun berwarna putih dan indah.



Hari itu pun tiba-tiba, Arsyad dan Abyan bergantian dalam mengucapkan ijab kobul. "Bismillahirrahmanirrahim. Saya terima nikahnya dan kawinnya Aisya Syafira binti Arman Zafran dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.” ucap Arsyad.


"Para Saksi? Sah?" tanya penghulu.


"Sah" ucap orang-orang yang berada di ruang tengah menyaksikan ijab kobul yang diucapkan oleh Arsyad.


Ijab kobul pun bergantian, Abyan pun juga mengucapkan, "Bismillahirrahmanirrahim. Saya terima nikahnya dan kawinnya Arsyila Maghfirah Absyar binti Ammar Absyar dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.” ucap Arsyad.


"Para Saksi? Sah?" tanya penghulu.


"Sah" ucap orang-orang yang berada di ruang tengah menyaksikan ijab kobul yang diucapkan oleh Abyan


Akhirnya, Aisya dan Arsyila keluar dari ruangan secara bersamaan.

__ADS_1


"Aku deg deg an, Sya." kata Aisya.


"Sama, Arsyila. Aku juga. Nggak nyangka kita udah nikah." kata Aisya.


Sesampainya disana, Aisya lebih dulu berpegangan tangan dan menyambut suami yaitu Arsyad. Ia mencium punggung tangan Arsyad, dengan menangis terharu.


Setelah mencium punggung tangan Arsyad, kemudian Arsyad mencium kening Aisya. Ia memegang lengan Arsyad.


Arsyad pun sadar Aisya tengah menangis, diusaplah air mata itu pelan-pelan dengan tisu yang ada disakunya.


"Hei, kenapa nangis, Sayang?" ucap Arsyad yang sangat pelan. Dalam hati Aisya, "Sayang? Nggak salah dengar, aku?".


Aisya mendongakan kepalanya melihat ke arah Arsyad lalu menggelengkan kepala seperti mengkode "Nggak papa". Arsyad dan Aisya berjalan menuju tempatnya untuk duduk di pelaminan.


Sedangkan Arsyila dan Absyar, sama juga begitu seperti Aisya yang mencium punggung tangan suaminya dan mencium kening Aisya.


Berbeda dengan Arsyila, ia tidak menangis tetapi malu untuk berpegangan tangan dan menatap Absyar.


Orang-orang disekitar pun tertawa akan hal itu. Akhirnya, Arsyila dan Absyar pun juga berjalan menuju tempatnya untuk duduk di pelaminan yang bersebelahan dengan Arsyad dan Aisya.


●●●


Setelah selesai, acara pernikahan tadi, Arsyad dan Aisya tampak kelelahan. Aisya dan Arsyad pun sudah berganti baju memakai piyama mereka. Aisya masih memakai kerudung karena malu dengan Arsyad.


"Aisya?" tanya Arsyad.


"Iya?" jawab Aisya.


"Kenapa masih pakai kerudung? Kan kita sudah Sah." kata Arsyad.


"Aku masih malu, Syad. Nanti akan ku coba buka kerudungnya." kata Aisya.


"Iya, nggak papa. Aku juga nggak maksa kok. Kamu kalau ngantuk tidur duluan nggak papa. Aku sakit perut, mau panggilan alam dulu." kata Arsyad.


"Oh iya. Semangat!" kata Aisya. Aisya pun tidur duluan, karena sudah sangat melelahkan untuk acara tadi.


Setelah Arsyad keluar dari kamar mandi, Ia sudah melihat Aisya yang sudah terlelap. Ia pun menghampiri Aisya dengan memakai selimut dan mencium kening Aisya. Arsyad baru sadar bahwa Aisya sudah melepas kerudungnya. "Cantik." kata Arsyad, kemudian Arsyad tidur di samping Aisya karena juga sudah kelelahan.


●●●


Sedangkan di kamar, Arsyila dan Abyan, setelah mereka berganti baju menjadi piyama. Mereka bukannya istirahat, tetapi bermain kartu uno. Mereka tertawa terbahak-bahak.


"Kalah aku." kata Abyan.


"Kamu nggak bisa ya main kartu ini?" tanya Arsyila.


"Bisa kok. Kamunya terlalu bisa." kata Abyan yang sedikit cemberut.


Prinsip Arsyila dan Abyan adalah mengenal satu sama lain terlebih dahulu dan merasakan yang namanya pacaran setelah nikah. Mereka belum memikirkan anak sedikitpun.


"Ya udah kali ini, mungkin aku yang menang." kata Abyan.


"Hmm. Abyan, aku laper pengen nasi kuning." kata Arsyila yang meminta dengan manja ke Abyan.


"Sama sih aku juga. Ya udah yuk, ikut aku. Ada tempat jualan nasi kuning yang enak." kata Abyan.


"Ya udah yuk. Bentar aku ambil kerudung dulu." kata Arsyila. Memang benar, Arsyila langsung berani melepas kerudungnya.


"Aku tunggu di mobil ya." kata Abyan.


"Tunggu! Kamu yakin nggak mau ganti celana? Itu pendek banget, sayang." kata Arsyila yang membuat Abyan sontak kaget.


"Apa? Bilang sekali lagi!" kata Abyan yang ingin mendengar lagi.


"Sayang? Kenapa memangnya?" tanya Arsyila yang mengulang katanya lagi.


"Sayang ngga tuh! Berarti aku juga panggil sayang nggak papa nih?" kata Abyan.


"Iya, nggak papa kan sudah sah. Kalau nggak sah, tapi bilang sayang ya nggak boleh." kata Arsyila yang memberikan celana dengan panjang sampai mata kaki ke Abyan.


"Makasih, Sayang." kata Abyan.


"Sama-sama." kata Arsyila. Akhirnya mereka pun keluar mencari nasi kuning.


Masing-masing pasangan ini, ini menjalan hidup berumah tangga. Saling membagi tugas masing-masing, Arsyad menyapu dan mengepel, sedangkan Aisya memasak, mencuci dan menyetrika ikut dengan laundry. Arsyad dan Aisya memilih tinggal tanpa orang tua, dan memiliki rumah sendiri. Rumah yang ia tinggali adalah rumah pemberian orang tuanya. Meskipun tidak terlalu besar, tapi sangat nyaman untuk ditempati.


Sedangkan Arsyila dan Abyan juga diberikan rumah oleh orang tua Abyan karena mereka juga memilih untuk tinggal di rumah sendiri dan ingin hidup mandiri.


Hari demi hari mereka lewati. Arsyad dan Aisya tengah mengikuti perkuliahan di kampusnya. Mereka mengambil kelas pagi karena sorenya mereka bekerja.


Sedangkan Arsyila tidak kuliah, tetapi ikut menemami suaminya bekerja. Arsyila memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya, karena bukan itu yang ia inginkan. Abyan memilih bekerja karena untuk melanjutkan bisnis yang sudah diberikan oleh orang tuanya.


Mereka pun hidup bahagia...

__ADS_1


__ADS_2