
-AISYA-
Setelah teman-temannya keluar dari kamar dan menuju ke masjid. Aisya mengambil wudhu untuk sholat Ashar. Ia berdoa agar diberikan petunjukkan mengenai perjodohannya hingga bercucuran air mata. Ia bingung harus menjawab apa nantinya saat pertemuan kembali.
Setelah Aisya sholat dan merapikan mukenahnya, ia langsung merebahkam tubuhnya ke ranjang. Tak lama, pintu kamar terbuka lebar dan membuat Aisya terkejut, ternyata orang itu adalah Arsyila. Ia datang untuk menemui Aisya.
"Assalamualaikum, Aisya. Loh mana yang lainnya?" tanya Arsyila yang sedang melihat ke sekitar kamar.
"Waalaikumussalam. Mereka sholat di masjid." kata Aisya yang menjawabnya dengan datar.
"Oh iya, Aisya. Aku ingin tanya ke kamu." kata Arsyila.
"Silahkan." kata Aisya yang membenarkan bantalnya.
"Kamu marah sama aku ya?" tanya Arsyila sembari menatap Aisya.
"Nggak kok." kata Aisya yang menengok ke arah Arsyila.
"Nggak mungkin. Terlihat dari raut wajahmu Aisya." kata Arsyila.
"Nggak kok. Aku nggak marah sama kamu." kata Aisya.
"Beneran? Maaf ya, Aisya. Kalau perkataanku tadi siang menyakiti hatimu. Aku nggak bermaksud begitu kok. Beneran deh!" jelas Arsyila.
"Iya nggak papa. Aku memang mau sendiri aja, memikirkan keputusanku kelak. Aku mohon sama kamu ya, jangan beritahu siapapun. Aku tidak mau menjadi bahan pembicaran sama orang lain." pinta Aisya.
"Siap, Aisya! Aku nggak akan bilang ke siapapun!" kata Arsyila sembari gerakan hormat. Aisya yang melihatnya tersenyum.
Tak sadar mereka berdua, terdapat tiga orang yang sedaritadi melihat percakapan mereka.
"Kenapa Aisya?" kata orang itu. Aisya dan Arsyila yang sedang tertawa, terkejut karena terdengar suara dari dekat pintu yang terbuka.
"Kenapa Aisya? Apa yang sedang kalian sembunyikan dari kita? Kenapa tidak boleh siapapun mengetahuinya? Apakah termasuk kita juga?" kata Syafa.
Mereka adalah sahabat Aisya yaitu Syafa, Kayra dan Raisya.
"Syafa?" kata Aisya pelan.
"Apa yang kalian sembunyikan? Kita bertiga sahabatmu Aisya. Kenapa kita bertiga nggak boleh mengetahuinya juga?" kata Kayra.
"Syafa, Kayra, Raisya. Aku bisa jelasin kok tapi nanti ya. Ini masalah keluargaku." kata Aisya sembari tersenyum manis.
"Masalah keluarga? Kenapa bisa diceritakan ke Arsyila kalau itu masalah keluarga? dan kenapa tidak cerita ke kita juga? Bukankah kita juga teman-temanmu Aisya?" kata Raisya sedih.
__ADS_1
"Maaf banget, teman-teman, masalahnya itu juga menyang-" kata Aisya yang terpotong dengan ucapan Syafa.
"Sudahlah Aisya. Semenjak kamu berteman dengan Arsyila, kamu lupa dengan sahabat-sahabatmu. Kamu selalu bersama Arsyila, bercerita dengan Arsyila, pokoknya selalu dengan Arsyila. Aisya! Kita ini juga sahabatmu! Arsyila hanya pendatang baru di persahabatan kita! Kalau kita tidak boleh mengetahui masalah keluargamu, Arsyila pun juga tidak berhak untum mengetahui masalah keluargamu!" kata Syafa yang sudah benar-benar marah ke Aisya dan Arsyila, memilih pergi meninggalkan kamar.
"Syafa!" kata Aisya dan Arsyila yang memanggil Syafa sembari beranjak dari ranjang.
"Maaf, Aisya. Aku berpendapat seperti Syafa. Kamu berubah, Aisya!" kata Kayra yang juga memilih pergi meninggalkan kamar.
"Aku juga!" kata Raisya yang juga mengikuti Syafa dan Kayra.
Aisya pun kembali duduk dengan perasaan kesal dan marah pada dirinya sendiri. Ia menangis sembari menutup wajahnya.
"Aisya aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuat kalian menjadi seperti ini." kata Arsyila sembari menenangkan Aisya.
"Nggak, Arsyi. Kamu nggak salah! Mereka salah paham, memang seharusnya aku memberitahu mereka karena mereka sahabatku tapi kamu adalah anak dari teman Ayahku. Ya Allah, aku tidak bermaksud membuat teman-temanku menjauhi ku. Aku mohon kepadaMu Ya Allah." kata Aisya sembari menangis sesegukan.
"Sabar ya Aisya. Aku yakin mereka pasti akan mengerti dan kembali ke kamu." kata Arsyila.
"Semoga begitu." kata Aisya.
"Kalau gitu. Aku pulang dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa samperin aja ke rumah, nggak usah sungkan. Ok." kata Arsyila.
"Iya Arsyila. Terima kasih ya!" kata Aisya.
"Waalaikumussalam." kata Aisya.
Aisya pun menuju ke kamar mandi.
-SYAFA-
Ketiga teman Aisya yaitu Syafa, Kayra dan Raisya pergi dari kamarnya karena kesal dengan Aisya. Mereka pergi menuju taman belakang pondok pesantren ini.
"Kesel banget sama Aisya. Semenjak dia berteman dengan Arsyila, dia sudah berubah." kata Syafa yang kesal dengan Aisya.
"Benar. Aisya berubah, tidak seperti dulu." kata Kayra yang juga ikut kesal.
"Iya ya. Kenapa sih Aisya berubah seperti itu? Aku juga nggak habis pikir." kata Raisya.
"Terus, kapan kita balik ke kamarnya? Pasti disana masih ada Aisya dan Arsyila. Malas banget aku ketemu mereka, masih kesal pakai banget!" kata Syafa.
"Bagaimana kita cuekin mereka? Biar mereka jera. Sebenarnya aku penasaranbanget sama rahasia itu. Apa yang sudah mereka sembunyikan dari kita bertiga?" kata Raisya.
"Bagaimana kalau kita bertiga cari tahu sendiri? Aku penasaran juga sih." kata Kayra.
__ADS_1
"Ya sudah kita cari tahu sendiri, apa yang mereka sembunyikan dari kita?" kata Syafa yang juga ikut penasaran.
"Ok. Kalau begitu kita balik saja ke kamar. Aku ingin mandi, gerah banget soalnya." kata Kayra.
"Iya, aku juga gerah banget. Hari ini tidak seperti biasanya. Panas banget! Apa karena sudah tidak hujan lagi?" kata Raisya.
- ABYAN -
Sesampainya di kamarnya, Abyan mengucapkan salam, "Assalamualaikum.".
"Waalaikumussalam." jawab ketiga temannya itu.
"Habis darimana, By?" tanya Kasya.
"Gue habis dari keliling pondok, sekalian merasakan angin segar." jawab asal Abyan.
"Mana ada angin segar. Orang angin segar di pondok pesantren ini panas." jawa Syafiq yang membuat semua tertawa.
"Kayaknya habis nemuin bidadari tak bersayapnya. Biasalah sudah terlanjur mencinta dia." goda Rizky.
"Apaan sih, Ky! Gue beneran kok nyari angin segar. Pengap disini." kata Abyan.
"Iya deh. Percaya gue, biar lo senang aja." kata Syafiq yang masih menggoda Abyan.
"Oh iya gue lupa kasih tahu, By." kata Kasya.
"Apa?" tanya Abyan sembari membenarkan bantalnya. "Waktu sholat maghrib nanti. Lo di amanahkan buat adzan sama ustadz Ammar." kata Kasya.
"Oh iya. Ok. Kalau gitu gue mandi dulu ya. Gerah banget, Asli." kata Abyan.
"Iya sana deh lo. Bau banget." goda Syafiq membuat semua tertawa termasuk Abyan.
-ARSYAD-
"Assalamualaikum." kata Arsyad yang masuk ke dalam rumahnya.
"Waalaikumussalam. Darimana, kak?" tanya Bunda sembari membenarkan rambut Arsyad.
"Habis ngobrol dengan Abyan, Bun. Oh iya, Bunda. Arsyad bisa minta tolong ke Bunda sama Ayah. Jangan beritahu siapapun ya tentang perjodohanku dengan Aisya!" pinta Arsyad.
"Kenapa memangnya?" tanya Bunda sembari duduk di kursi makan.
Arsyad yang melihat bundanya duduk di kursi makan, Arsyad ikut duduk di kursi makan juga.
__ADS_1