WHEN I KNOW YOU

WHEN I KNOW YOU
4


__ADS_3

To :


Aisya


Hai, gue Arsyad. Lo pasti udah tau gue siapa kan? Gue cuman pengen kenalan aja sama lo. Kenapa lo ngehindar dari gue? Padahal waktu lo ke rumah gue, gue lagi di kamar main sama temen-temen gue. Gue mau ngomong sesuatu sama lo, kalo gue suka sama lo.Tapi gue tau lo pasti nggak akan mau pacaran sama gue. So, kalau nantinya kita berjodohn ke depannya. Gue Arsyad, bakalan happy banget. Ok segitu aja dari gue. So, bye. Thank you. Have a nice day, Aisya!!!


*From : *


Arsyad Absyar


Aisya langsung menutup surat itu, kemudian menyimpannya di tasnya. Namun tanpa disadari bahwa surat itu tidak masuk ke tasnya melainkan jatuh ke lantai.


“Astaghfirullah. Ini anak dibilangin jangan ganggu malah bikin surat nggak jelas.” kata Aisya.


“Gimana tadi suratnya?” kata Syafa.


“Hmm… Arsyad suka sama aku, tapi percuma juga.” kata Aisya.


“Cie..Aisya ada yang suka nih.” Kata Raisya.


“Percuma kalau suka karna fisik bukan karena Allah. Yuk makan laper aku.” Kata Syafa.


“Sebagian cowok tuh nyari yang good looking bukan yang good attitude.” kata Kayra.


“Bener tuh Syafa, mending kita makan. Aku juga laper banget.” kata Aisya.


Kayra hanya menggelengkan kepala saja, kemudian kita berempat berjalan menuju ke kantin.


Sesampainya di kantin, terlihat Bella dan dua temannya yang sedang melihat ke arah Aisya.


“Kenapa sih Bella ngelihatinnya gitu banget?” kata Raisya.


“Iri dia. Secara kita lebih daripada mereka. Canda.” Kata Syafa.


“Biarin aja. Nggak usah lihat balik.” Kata Kayra.


Setelah mengantri makanan, kita langsung memilih duduk yang kosong. Kita makan dengan tenang tanpa adanya kata-kata apapun. Setelah selesai makan, Aisya dan tiga temanku kembali ke kamar.


Di jalan, kita bertemu dengan Bella dan dua temannya.


“Ada Bella tuh.” kata Syafa.

__ADS_1


“Biarin aja. Toh, kita nggak cari gara-gara sama mereka.” kata Aisya.


Akhirnya Aisya dan tiga temannya hanya melewati mereka, tapi Bella memanggil dan menghampiri Aisya dan tiga temannya.


“Aisya! Gue boleh ngomong sebentar nggak sama lo?” kata Bella.


Aisya sempat melirik ke tiga temannya. Syafa menggeleng pelan kepalanya tapi Aisya mengangguk nggak akan terjadi apapun.


“Boleh kok. Kenapa Bel?” tanya Aisya memberanikan diri.


“Tapi cuma kita berdua aja. Penting soalnya.” kata Bella.


“Kok berdua aja sih. Lo mau apain temen gue? Awas lo macam-macam sama temen gue!” kata Syafa yang biasanya ia berkata aku kamu dengan temannya, tapi kalau setiap dia marah akan memakai kata “lo gue” di setiap katanya.


“Oh yaudah. Ayo. Udah nggapa Syaf. Kamu tau aku harus apa?" kata Aisya. Syafa pun menganggukan kepalanya.


Aisya dan Bella pergi ke tempat yang agak jauh dari teman mereka


“Kenapa Bel? Kamu mau ngomong apa?” tanya Aisya.


“Gini Sya. Lo tau sendiri kan kalau gue suka sama Arsyad. Bisa nggak lo jauhin dia? Gue suka sama Arsyad udah dari SMP sampai sekarang.” kata Bella.


“Oh cuma mau ngomong gitu. Iya kok aku tau kamu suka sama Arsyad. Aku juga nggak kenal apalagi deketin Arsyad. Itu bukan urusanku Bel. Oh iya, aku balik duluan ya.Assalamualaikum.” kata Aisya.


Aisya dan tiga temannya langsung kembali ke kamar.


“Kenapa tadi Sya? Kamu nggak gapapa?” tanya


Kayra.


“Iya, Kay.” kata Aisya.


“Ngomongin apa kalian?” tanya Raisya.


“Bella nyuruh aku buat jauhin Arsyad soalnya dia suka sama Arsyad.” kata Aisya.


“Dia nggak berhak dong atur kamu buat jauhin Arsyad. Toh, Arsyad sukanya sama kamu buka si Mak Lampir itu.” Kata Syafa.


“Kali ini aku setuju dengan Syafa. Bella nggak boleh egois. Percuma juga kalau kamu disuruh buat ngejauhin Arsyad. Kalau kamu memang jodohnya Arsyad gimana?” kata Kayra.


“Mana sempat keburu iya.” Kata Raisya.

__ADS_1


“Heeh mana sempat. Keburu iya.” kata Syafa. Mereka pun tertawa sampai terdengar bunyi langkah kaki.


Tok..tok..tok..


Aisya yang mendengar suara ketukan pintu kamar langsung membuka pintu kamar.


“Assalamualaikum, Aisya. Kita akan sidak kamar kalian sekarang.” kata salah satu Ustadzah.


“Waalaikumussalam, silahkan ustadzah.” kata Aisya mempersilahkan masuk ke kamar kita berempat.


Tiba-tiba ustadzah menemukan selembar kertas dan membacanya. Aisya tidak sadar bahwa surat tersebut adalah surat dari Arsyad. Sebelumnya, Aisya sudah memasukkan ke dalam tasnya.


“Aisya!!!” ucap ustadzah.


“I..iya ustadzah” jawab Aisya yang sedikit panik.


“Ini apa Aisya. Bukannya kamu tidak mau pacaran. Kenapa sekarang ada surat cinta untuk kamu? Tolong jelaskan maksudnya!” titah ustadzah.


“Baik. Akan saya jelaskan. Sebelumnya, saya belum percaya kalau itu benar-benar dari Arsyad. Saya pun tidak membalas surat tersebut. Jadi, saya simpan saja ustadzah. Saya pun tidak berani untuk pacaran dan ustadzah mengetahui itu. Kalau pun memang benar Arsyad menyukai saya? Belum tentu saya menyukainya karena percuma kalau mencintai hanya dari fisik saja bukan yang lainnya seperti agama, hati dan perilaku saya.” jelasku.


“Hmm… baik kalau begitu. Jangan sampai setelah ini, ada yang masih mendapatkan surat kemudian berpacaran tanpa sepengetahuan saya. Jika ada yang berani seperti ingat-ingat saja hukumannya, dan terakhir dari saya kalau mendapatkan surat seperti baca saja tidak apa-apa, tapi langsung buang dan tidak usah berpikiran untuk membalas surat. Mengerti?” kata ustadzah.


“Baik, ustadzah.” jawab kita berempat sambil menundukkan kepala.


“Ya sudah kalau begitu, kalian istirahat. Assalamualaikum.” kata ustadzah.


“Waalaikumussalam, ustadzah.” jawab Aisya dan tiga temannya, kemudian ustadzah pun keluar dari kamar.


Aku dan teman-temanku menghela napas bersamaan. “Kok bisa nggak kamu masukin aja ke dalam tas, Sya?” tanya Kayra.


“Iya, kok nggak kamu masukin ?” tanya Syafa.


“Padahal aku sudah masukkin ke tas, mungkin jatuh. Maaf ya, gara-gara aku kalian juga kena omel ustadzah.” kata Aisya tak enak dengan teman-teman.


“Udahlah, gapapa. Ini yang namanya sahabat, kalau kena satu harus kena semua. HAHAHA.” kata Raisya.


“Udah yuk tidur. Aku ngantuk banget banget banget.” Kata Syafa.


“Raisya…Raisya…” kata Kayra sembari menggelengkan kepala dan tersenyum karena perkataan Raisya.


Keesokkan harinya sebelum subuh, Aisya merasakan perutnya sakit sekali. Aisya langsung buru-buru ke kamar mandi. Ternyata oh ternyata!!! Aisya halangan. Aisya langsung keluar kamar mandi untuk mengambil pembalutnya.

__ADS_1


“Mana sih... Padahal aku sudah jaga-jaga bawa, tapi kok nggak ada.” kata Aisya yang sedikit pelan agar tidak membangunkan teman-temannya. Kayra bangun, dan melihatnya yang sedang mencari sesuatu yang tak kunjung ketemu.


“Kenapa Sya?” tanyanya. “Oh, Hai Kay. Aku lagi cari …..”


__ADS_2