
"Huh, sampai kapan aku seperti ini?"
Ucap seorang gadis yang berada di depan kaca kamarnya.
"Nana, ayo turun kita sarapan bersama", terdengar suara teriakan dari lantai bawah.
"Iya ma sebentar", balasnya.
"Huhh semangat Nana, kamu pasti bisa melewati semua ini", ucap gadis itu menyemangati dirinya sendiri.
"Pagi ma", sapa gadis itu ketika tiba di meja makan.
"Pagi sayang, kok tumben turunnya lama?", tanya sang mama.
"Hehe iya ma", jawab gadis itu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Suasana sarapan sangat hening hingga suara sang mama memecahkan keheningan itu. "Sayang nanti mama pulangnya terlambat ya, nanti kalau kamu ngantuk nggak usah nungguin mama pulang ya", ucap sang mama.
"Iya ma", jawab Nana sambil tersenyum.
"Ini uang jajan kamu ya", sambil menaruh uang di atas meja makan.
"Mama berangkat dulu ya, jangan lupa nanti kalau berangkat pintunya dikunci dulu", jelas sang mama sambil mengambil tas kerjanya.
"Iya ma, hati-hati ya", jawab Nana.
...****************...
"Huhhh semangat Nana, masih ada hari esok untuk kamu lewati", ucap Nana saat tiba di depan teras rumahnya.
"Ayo Aja kamu juga semangat ya, kita harus sama-sama semangat", ucapnya kepada sepeda kesayangannya.
"Berangkat", teriaknya sambil mengangkat kepalan tangan kirinya ke atas.
Kurang lebih sekitar sepuluh sampai lima belas menit waktu yang dibutuhkan Nana untuk sampai ke sekolah.
"Pagi Pak Mamat", sapanya ketika melewati gerbang sekolahan.
"Pagi neng", jawab Pak Mamat penjaga gerbang sekolah.
Sesampainya di parkiran ia langsung memarkirkan sepedahnya dan bergegas pergi menuju ruang kelasnya.
Sampailah Nana di depan ruang kelasnya.
"Semangat Na", ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Baru beberapa langkah Nana memasuki ruang kelas, terdengar suara seseorang yang membuat ia menghentikan langkah kakinya.
"Si cupu udah datang nih guys, beri sambutan dong", ucap seorang gadis yang terlihat menjadi ketua gengnya.
"Halo cupu", sapa dua pengikutnya dengan senyum smirk di wajah keduanya.
Nana yang disapa seperti itu hanya diam saja dengan kepala menunduk.
"Eh songong ya ni anak, udah disapa nggak dijawab lagi", ucap gadis yang menjadi ketua geng sambil mendorong bahu Nana.
Nana yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya bisa diam dan merasa takut.
"I iya..", jawab Nana terbata-bata.
__ADS_1
Seisi teman sekelasnya yang menyaksikan itu hanya berdiam diri saja tanpa ada niatan untuk membantu Nana.
"Nah gitu dong, disapa tuh dijawab bukan diam aja", ucapnya sambil melangkah keluar kelas.
"Semangat Nana", ucapnya dalam hati.
Setelah kepergian orang tadi beserta pengikutnya, Nana mulai melangkahkan kakinya kembali menuju meja miliknya.
...****************...
"Eh guys lihat nggak tadi wajahnya si cupu, hahahah", ucap Gracia, ketua geng yang suka membully Nana.
"Hahahaha ngakak banget Grac", sahut Kristal.
"i iya", kata Laura menirukan kata-kata Nana saat ketakutan.
'Tet tet tet'
Suara bel masuk terdengar sangat nyaring.
Keadaan ruang kelas Nana masih ramai meskipun suara bel sudah terdengar. Kurang lebih sepuluh menit berlalu tetapi guru yang mengajar kelas itu tidak datang-datang.
Hingga terdengar derap langkah kaki mendekati pintu kelas, anak-anak yang semula ramai saling bicara mulai hening.
''Sttsss ada yang datang, semuanya diam", ucap salah satu anak yang duduk dekat pintu kelas.
'tok tok tok'
Suara ketukan pintu.
"Pagi murid-murid, maaf saya terlambat memasuki kelas karena ada keperluan sebentar'', jelas guru tersebut setelah memasuki ruang kelas.
''Oke mari kita mulai pembelajaran hari ini", ucap guru itu setelah menaruh beberapa buku di mejanya.
Para murid mulai mengeluarkan buku pelajarannya masing-masing. Dikala mereka sibuk mengeluarkan buku, terdengar suara bisik-bisik dari barisan bangku belakang.
''Sttss, heh cupu siniin buku lu", kata Gracia.
Nana yang mendengar panggilan itu pun menengok ke sumber suara.
''Tapi'', belum sempat Nana meneruskan kalimatnya, buku miliknya sudah diambil oleh Gracia.
''Ck, lama lo'', ucap Gracia setelahnya.
Nana yang mendapat perlakuan seperti itu tidak membalasnya, ia hanya menghembuskan nafasnya gusar.
''Duh gimana nih kalau bu guru tahu'', gumam Nana dengan gelisah.
''Sebelum ibu mulai pembelajaran hari ini, seperti biasa siapa yang tidak membawa buku paket ia harus mengikuti pembelajaran ibu di depan kelas sambil berdiri. Apakah ada yang tidak membawa buku paket?'', tanyanya sambil melihat seisi kelas.
Nana yang mendengar itu dengan sedikit ragu mulai menaikkan tangan kanannya, pasalnya ia termasuk murid yang rajin dan teladan, bahkan ia selalu mengerjakan semua PR dari bapak ibu guru tanpa pernah lupa satu kali pun. Sang guru yang melihat Nana mengangkat tangannya langsung menanyai Nana kenapa ia tidak membawa bukunya.
''Nana, kenapa kamu tidak membawa buku paket?'', tanya guru itu.
Nana menengok ke arah Gracia dengan pelan kemudian menundukkan kepalanya.
''Maaf bu buku saya ketinggalan'', ucap Nana.
''Baiklah kali ini kamu gabung dengan teman yang lain'', tutur guru tersebut.
__ADS_1
''Bu ya nggak boleh gitu dong, masa murid yang lain biasanya disuruh maju ke depan kok si cupu nggak sih, itu namanya nggak adil. Ya kan teman-teman?'', ucap Gracia.
''Iya bu masa ibu pilih kasih sih'', tambah Kristal.
''Iya bu, ibu nggak boleh pilih kasih dong'', ucap Laura.
''Iya bu'', teriak seisi kelas.
''Baik ibu paham, Nana kamu maju ke depan sekarang sesuai peraturan yang telah ibu buat sebelumnya'', terang sang guru.
''Baik bu'', jawab Nana.
''Baik anak-anak buka buku halaman 59, kali ini kita akan membahas tentang Matriks'', ucapnya kemudian menulis di papan tulis.
Nana membereskan peralatannya untuk ia bawa ke depan, ketika Nana berjalan tepat di sebelah bangku Gracia, Gracia dengan sengaja menjulurkan kakinya agar mengenai kaki Nana saat berjalan. Alhasil Nana pun terjatuh.
''Aduh'', aduh Nana ketika lututnya membentur lantai.
''Makanya cupu kalau jalan tuh hati-hati biar nggak jatuh kan'', ucap Gracia saat melihat Nana terjatuh.
Gracia dan kawan-kawannya tertawa melihat itu. Nana tidak memperdulikan mereka dan berjalan lagi ke depan.
...****************...
''Akhirnya sampai juga di rumah'', gumam Nana ketika berada di depan pintu rumahnya.
''Assalamualaikum, Nana pulang'', teriak Nana ketika memasuki rumahnya.
''Uhhh capek banget badan aku, makan dulu apa mandi dulu ya?'', tanyanya pada dirinya sendiri.
''Mandi dulu aja deh baru makan'', katanya.
Setelah memasuki kamar tidurnya, Ia langsung menaruh tasnya di atas meja belajarnya dan pergi ke kamar mandinya.
Setelah selesai mandi ia memutuskan turun ke lantai bawah untuk menyiapkan makanan.
''Emm masak apa ya?'', ucapnya sambil berpikir sejenak.
''Masak oseng-oseng kangkung sama ayam saus manis aja deh'', putusnya setelah menentukan pilihan.
Nana sangat fokus saat memasak hingga dia lupa bahwa waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam.
Setelah selesai memasak ia baru tersadar bahwa ia selesai memasak tepat dengan jam biasanya mamanya pulang.
''Ehh sudah jam tujuh, mama bentar lagi pulang nih. Untung udah selesai aku masaknya'', ucapnya sambil mengusap keringat di pelipisnya.
Ia segera menata piring di meja makan dan duduk di salah satu kursinya.
''Mama kok belum sampai ya?'', gumamnya.
''Tunggu sepuluh menit lagi aja deh'''.
Sepuluh menit telah berlalu namun mama Nana tidak kunjung pulang. Dan Nana baru teringat bahwa sang mama telah berpesan kalau ia akan pulang terlambat.
''Yah bukannya tadi pagi mama bilang ya kalau hari ini mau pulang telat'', ucapnya sambil menepuk keningnya sendiri.
''Yaudah aku makan sendiri aja deh'', gumamnya.
Selesai makan Nana langsung mencuci piringnya dan bergegas masuk ke kamar tidurnya.
__ADS_1