
“Apasih ma, Bryan udah gede. Jangan kaya gitu, nanti kalau temen-temen Bryan lihat malah Bryan dikira anak mama”
“Ya kan kamu emang anak mama”
“Ya iya sih ma, tapi bukan gitu konsepnya ma....”, langsung berjalan meninggalkan mamanya.
...****************...
“Hoamm”
Pagi hari yang cerah menjadi awal hari yang indah bagi siapa saja. Langit timur yang memancarkan semburat warna kuning indah, suara burung-burung mulai terdengar menambah kesan tersendiri untuk pagi hari ini. Siapa yang tidak terpesona dengan pemandangan seperti itu bukan?
Tapi tidak kali ini untuk seorang gadis yang baru saja terbangun dari tidurnya. Ingatan tentang kejadian tadi malam masih membekas di dalam benaknya. Semakin lama napasnya mulai tidak beraturan. Di dalam ingatannya kejadian kemarin malam terlihat seperti video yang diputar berulang-ulang. Sebulir air mata berhasil lolos dari salah satu matanya.
‘Ceklek’
“Sayang ayo bangun, mama bikinin nasi goreng kesukaan kamu nih”, sambil berjalan memasuki kamar anaknya.
Saat melihat ke arah tempat tidur Nana, ia mendapati Nana tengah menyandarkan dirinya di sandaran kasur dengan air mata yang mengalir. Menangis tanpa suara hanya air mata yang keluar. Devi buru-buru meletakkan nampan berisikan piring dan segelas susu di atas nakas samping tempat tidur. Ia buru-buru menghampiri anaknya dan merangkulnya penuh dengan kasih sayang, seakan menyalurkan kekuatan untuk anaknya. Nana yang mendapat pelukan dari mamanya tidak membalas pelukan itu, pandangannya masih lurus ke depan dengan air mata yang mengalir mulai sedikit berkurang. Devi yang merasa anaknya hanya diam saya pun melepas pelukannya.
“Udah kamu tenang aja ya. Sekarang kamu udah aman, ada mama di sini. Untuk urusan sekolah udah mama izinin ke guru wali kelas kamu”
Nana menggerakkan kepalanya untuk melihat ke arah mamanya. Devi yang tahu maksud dari tatapan Nana pun menjelaskan maksud dari perkataannya sebelumnya.
“Mama udah ceritain semuanya ke wali kelas kamu, mama suruh dia buat nggak ceritain kesiapa-siapa. Terus mama bilang ke dia kalau kamu nggak masuk sekolah karena kamu sedang sakit, dia juga udah paham kondisi kamu kok. Tadi katanya kamu masuk sekolahnya kalau kamu udah bener-bener baikan aja”, terangnya.
Nana menganggukkan kepalanya sebagai balasan dari ucapan sang mama.
“Kamu makan dulu ya”, sambil mengambil piring yang berada di atas nakas.
Masih tidak ada sahutan suara dari Nana, hanya gelengan kepala yang menjadi jawabannya.
“Sedikit aja ya, biar perut kamu nggak kosong. Aaaaa”, menyodorkan sesendok nasi ke arah mulut Nana.
Nana tetap diam, ia tidak ingin membuka mulutnya barang satu milimeterpun.
“Kamu harus makan sayang. Kamu harus kuat, kamu harus lawan rasa takut itu. Kalau kamu kayak gini terus kamu juga bakal mama larang untuk masuk sekolah lebih lama lagi, atau bahkan kamu akan mama homeschoolingin aja"
Setelah mendengar ucapan mamanya, akhirnya Nana mau membuka mulutnya.
...****************...
“Duh Nana kemana sih kok belum datang? Masa iya gegara nggak gue jemput? Tapi kan dari kemaren malem udah gue kabarin lewat chat kalau nggak bisa jemput hari ini. Lagian di telpon HP juga nggak aktif. Duh bikin orang khawatir aja”, gumam Chelsea.
Kondisi kelas sekarang sudah cukup ramai, apalagi tinggal lima menit lagi bel masuk akan berbunyi, tetapi Nana belum juga tiba di kelas sehingga membuat Chelsea semakin khawatir. Chelsea mencoba untuk menelpon nomor Nana, tetapi nomornya tetap tidak aktif dari kemarin malam. Hingga akhirnya bel masuk berbunyi dan Nana masih belum datang juga.
“Duh ni anak kemana sih?”, batin Chelsea khawatir.
Seorang guru matapelajaran memasuki ruang kelas XI IPA1, ia mulai mengabsen murid yang hadir di jam pelajarannya saat ini.
“Florensana Aqila”, panggilnya.
Tidak ada sahutan dari seisi kelas.
__ADS_1
“Florensana Aqila?’, panggilnya sekali lagi.
Chelsea yang baru menyadari nama Nana dipanggil guru itu langsung menjawabnya.
“Tidak hadir bu”, ucapnya.
“Ada yang tahu anaknya kemana? Florensana itu yang panggilannya Nana bukan?’’, tanyanya.
“Iya bu”, jawab seorang siswi bangku paling depan.
Gracia dkk melihat ke arah tempat duduk Nana yang biasanya ditempati setelah mendengar bahwa Nana hari ini tidak masuk sekolah.
“Gak biasanya tuh bocah nggak masuk, tanpa keterangan lagi”
“Dih apaansih, ga penting juga”, sambungnya, lalu membuang muka menghadap ke papan tulis.
“Oh, berarti yang tidak masuk satu orang ya?, oke sekarang kalian buka buku halaman 32. Materi kali ini tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.....”
...****************...
‘Sttt’, sambil menyenggol lengan Bryan.
Bryan yang merasa ada sentuhan di lengannya mencoba melihat ke arah orang yang duduk di sampingnya dari ekor mata miliknya.
“Napa tuh muka dari masuk kelas udah kusut amat?”
Bryan hanya membuang napasnya panjang, tidak berniat untuk menjawab pertanyaan temannya.
“Lu ke kantin gak? Kalok iya ayok buruan sekarang berangkat mumpung bel istirahat baru aja bunyi”
Bryan langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu kelas mendahului Fandi yang masih berada di belakangnya.
...****************...
“Tuh anak kemana sih!”, Chelsea masih sibuk untuk menghubungi nomor Nana.
Baru beberapa kali ia mencoba menghubungi Nana, ia dikejutkan dengan seseorang yang menggebrak meja yang ada di depannya.
“Allahhuakbar!!”
Chelsea memegang dadanya dengan tangan sebelah kanannya. Lalu ia dongakkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang tidak punya sopan santun tiba-tiba menggebrak meja miliknya. Setelah melihat siapa orang yang menggebrak mejanya, emosinya semakin tersulut.
“Heh lu, lu, lu. Punya sopan santun nggak sih? Udah tahu ada orang lagi telepon main gebrak-gebrak meja. Kalau gue kena serangan jantung emang lu semua mau tanggung jawab? Nggak kan!!”, ujarnya dengan nada yang naik satu oktaf.
Gracia hanya memutar bola matanya malas.
“Kalau lu kena serangan jantung gue malah senenglah, tuh cupu nanti nggak ada yang bantuin lagi”, sahut Kristal.
“Heem, makin bagus deh”, tambah Laura.
“Wah ngajak berantem nih orang”, ucap Chelsea sambil menggulung lengan baju kanannya.
“Mau apa lu?!”, kata Laura saat melihat Chelsea mulai menggulung lengan kanan bajunya.
__ADS_1
“Ya mau berantemlah, sini maju lu satu-satu”, sambil mengambil ancang-ancang untuk meninju sasarannya.
“Ck, gak usah sok lu di sini”, ucap Gracia yang sedari tadi hanya menyimak percakapan mereka.
“Heh, yang sok belagu di sini siapa sih? Lu gak punya kaca ya di rumah? Eh, nggak mungkin dong nggak punya kaca, kan anak orang kaya”, sambil menatap sinis Gracia.
“Udah nggak usah banyak bacot deh lu”, kata Kristal.
“Ngapain temen lu nggak masuk sekolah, gak pakek keterangan lagi. Emang ini sekolah milik bokapnya apa?”
Chelsea menggertakkan giginya yang menunjukkan emosinya akan keluar. Gracia yang melihat itu langsung memajukan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telinga Chelsea.
“Dan satu lagi, jangan macem-macem lu di sini. Nggak usah ikut campur antara urusan gue sama si cupu, kalau lu ikut campur. Gue akan buat lu rasain hal yang sama kayak apa yang dirasain cupu selama sekolah di sini”, sambil memundurkan kepalanya kembali.
“Kita cabut sekarang”
Sebelum pergi dari sana, Gracia menunjukkan senyum smirknya kepada Chelsea, yang ditanggapi Chelsea dengan wajah datarnya.
“Anjirrr, gue diancem? Chelsea diancem, ya gak takutlah”
“Pokoknya nanti pulang sekolah suruh pak supir buat anter ke rumah Nana”
“’Terima kasih untuk kegiatan belajarnya hari ini, semoga apa yang ibu terangkan hari ini bisa bermanfaat untuk kalian semuanya”
“Amin”, jawab seisi kelas.
Semua murid membersihkan mejanya masing-masing. Memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Ada yang masih bermalas-malasan untuk membersihkan mejanya, ada yang menyiapkan diri untuk forum ekstranya.
Bryan kini masih duduk di bangkunya setelah memasukkan buku-bukunya. Fandi? Fandi telah keluar dari kelas lebih dahulu karena ada forum basket hari ini. Bryan tidak ikut? Ia berencana ikut ekstra basket kok, tapi belum daftar aja. Pengumpulan formulir ekstranya aja ia titipkan kepada Fandi. Oke balik lagi ke topik.
...****************...
“Kok gue penasaran sama keadaan tuh cewek terus ya? Bukan karena apa sih sebenarnya, cuman kasihan aja sama nasibnya. Di sekolah selalu dibully kata Fandi, terus kemarin,”
Bryan masih kepikiran tentang Nana, cewek yang kemarin ia tolong dari orang-orang mabuk. Ia masih penasaran dengan keadaannya hingga ia akhirnya memutuskan untuk melihat keadaannya.
...****************...
‘Tok tok tok’
“Assalamualaikum, Nana. Tante Devi, ini Chelsea!”, teriak Chelsea tepat di depan pintu rumah Nana.
“Iya bentar”, suara jawaban dari dalam rumah.
‘Ceklek’
“Eh Chelsea, kemana aja nggak pernah main ke sini. Eh ayo masuk-masuk”
“Tumben main ke sini, ada apa?”, tanya mama Nana.
Chelsea melihat ke arah tangga dan dapur, untuk mencari keberadaan Nana.
“Eh itu tante, mau ketemu sama Nana. Soalnya hari ini Nana nggak masuk, Hpnya juga nggak aktif dari kemarin malem tante, saya jadi khawatir. Nananya gapapakan tante?’
__ADS_1