
Sepuluh menit telah berlalu aku melewati jalan ini dengan perasaan yang damai, tetapi sedetik kemudian rasa damai itu digantikan dengan perasaan kesal.
'Bruummm'
Terdengar suara kenalpot dari arah belakangku. Aku yang mendengar suara itu secara tiba-tiba pun terkejut dan karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhku, aku pun terjatuh bersama dengan sepedahku.
"Hei hati-hati kalau mengendarai motor!", teriakku sambil melihat ke arah pengendara motor itu.
Sedangkan dia yang mendengar teriakanku hanya menoleh sekilas ke arahku tanpa ada niatan untuk berhenti melihat keadaanku.
"Dasar anak sekarang udah tahu salah tapi tidak mau bertanggung jawab", gerutuku sambil berusaha berdirikan sepedahku.
Setelah itu aku mengecek setiap sudut dari sepedahku takut-takut nanti ada yang rusak, dan benar saja. Rantai sepedahku kini putus menjadi dua bagian.
"Apa? bagaimana bisa rantai ini putus salam keadaan seperti ini. Sebentar lagi sekolah akan masuk, ya Tuhan aku pasti akan terlambat ke sekolah", ucapku.
Akhirnya aku memutuskan untuk menuntun sepedahku sampai ke sekolahan dan untungnya jarak sekolah dengan tempat kejadian tadi tidak terlalu jauh.
Sesampainya di parkiran sekolah.
"Aja kamu di sini dulu ya, nanti waktu pulang sekolah baru aku bawa kamu ke bengkel", kataku sambil memarkirkan sepedah.
Baru beberapa langkah aku berjalan keluar parkiran, tidak sengaja indra penglihatanku menangkap sebuah motor yang sama persis dengan motor tadi yang telah mengagetkanku hingga membuatku terjatuh.
"Kok motor itu sama ya dengan motor tadi?", tenyaku pada diriku sendiri.
"Hei kamu!, kenapa masih di parkiran", teriak seorang guru yang sedang berdiri di ujung koridor.
"Cepat ke sini", teriak guru itu.
Aku yang mendengar itu langsung menghampiri guru tersebut.
"Iya pak?", tanyaku padanya dengan takut-takut.
"Eh kamu Nana, saya kira siapa. Kenapa kamu jam segini masih di sini?", tanyanya kembali dengan nada suara yang lebih ramah.
"Emm itu pak, tadi saya terlambat", jawabku sambil menundukkan kepala.
"Terlambat? tidak biasanya kamu terlambat", tanyanya padaku.
"Eh, tadi ada masalah kecil pak", jawabku masih dengan kepala menunduk.
"Baiklah, lain kali jangan sampai terlambat lagi", ujarnya.
"Iya pak, saya permisi untuk ke kelas dulu pak", pamitku dengan menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Sebentar Nana, berhubung bertemu dengan kamu di sini. Tolong antar murid baru ini ke kelasnya. Saya ada urusan sebentar", katanya sambil berjalan terburu-buru.
Aku yang mendengar penuturan pak guru itu langsung mengangkat kepalaku untuk melihatnya, tetapi tidak sempat karena kedahuluan ia telah pergi. Dan sekarang yang berada di hadapanku hanya seorang murid yang berdiri dengan memasukkan kedua tangan di saku celananya. Wajah dan penampilan yang menurutku cukup keren, membuatku terkesima seperkian detik.
"Ehem", dehamnya memecahkan keheningan.
Aku yang kedapatan mengaguminya buru-buru menundukkan kepala karena malu.
"Mari aku antar ke kelas kamu, kamu kelas berapa?", tanyaku padanya.
"XI IPA2", jawabnya sambil terus berjalan.
Kami berdua berjalan dengan keadaan yang hening, tidak ada percakapan di antara kami. Hingga tibalah kami di depan ruang kelas XI IPA2.
"Ini ruang kelasnya, aku pergi dulu", ucapku sebelum meninggalkannya.
'Tok tok tok'
Terdengar suara ketukan pintu dari ruang kelas XI IPA2.
"Permisi", ucap Bryan setelah membuka pintu ruang kelas.
"Iya silahkan masuk, ada apa?", tanya guru itu ketika Bryan tiba di dekat meja guru itu.
"Jadi kamu murid barunya. Ayo perkenalkan diri kamu di depan teman sekelas", sambil mempersilahkan Bryan untuk memperkenalkan diri.
"Gue Bryan Alanka", ucapnya dengan cuek.
'Woi ganteng banget gila'
'Cogan'
'Minta nomor HP dong'
'Udah punya pacar belum?'
'Cih biasa aja'
Teriak seisi kelas
"Sudah-sudah semuanya diam, Bryan kamu bisa duduk di samping Fandi. Fandi angkat tangan kamu", kata guru itu.
Fandi yang merasa namanya dipanggil pun mengangkat tangannya. Bryan yang telah mengetahui letak tempat duduknya langsung menuju ke sana tanpa berpamitan pada guru itu terlebih dahulu.
"Jiahhh lo beneran pindah sekolah ternyata Bry, gue kira kemarin lo cuma bohong", ucap Fandi setelah Bryan tiba di tempat duduknya.
__ADS_1
"Gak lah, gue kan gak pernah bohong", jawabnya dengan tampang sok imutnya.
"Tai lo", jawab Fandi kemudian mereka berdua tertawa.
Di lain tempat
'Tok tok tok'
Terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk", suara teriakan dari dalam ruang kelas.
Nana yang mendengarnya langsung memasuki ruang kelas dengan kepala menunduk dengan jarinya meremas kuat roknya.
"Kamu dari mana saja jam segini baru masuk kelas?", tanya guru itu dengan garang setelah Nana berada di depannya.
"Ma maaf pak, tadi saya terlambat", jawab Nana dengan suara bergetar.
Pasalnya guru itu terkenal pemarah dan tidak bisa menahan emosinya. Gracia membuat suasana semakin panas karena mengatakan bahwa Nana hanya mencari-cari alasan saja agar tidak mengikuti pelajaran guru itu. Guru itu semakin naik pitam dan menghukum Nana agar hormat di bawah tiang bendera sampai jam istirahat selesai. Nana tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya terjadi kepada guru itu karena terlalu takut, ia pun bergegas pergi ke lapangan untuk melaksanakan hukumannya.
Kurang lebih sudah 40 menit Nana hormat di lapangan, ia merasa tangannya mulai pegal. Ia pun mengecek jam yang berada di pergelangan tangannya.
"Jam 09:55, kurang 5 menit lagi", gumam Nana sambil mengusap keringat yang ada di pelipisnya.
Saat jam istirahat berlangsung, Bryan dan Fandi tengah berada di kantin, di meja paling pojok sambil menikmati semangkuk bakso.
"Kenapa lo pindah ke sini? gue kira kemarin lo cuma boong aja", kata Fandi sambil meminum es jeruknya.
"Emang gue pernah boong? gue pindah karena papa gue dipindahin tugas ke daerah sini. Makanya gue sekeluarga pindah kesini", jelas Bryan.
Fandi yang mendengar penjelasan Bryan hanya ber oh ria menanggapinya. Bryan melihat-lihat ke sekeliling bangunan yang berada di dekatnya dari tempat duduknya. Ia mengedarkan pandangannya ke arah lapangan, ia melihat sosok gadis yang tadi pagi telah membantunya tengah dihukum di bawah tiang bendera.
"Napa lo tadi di kelas sok cool segala?", tanya Fandi.
"Males gue sama cewek-ceweknya, palingan sama kayak di sekolah lama gue dulu", jelasnya.
"Mentang-mentang punya wajah cakep lo", ujar Fandi, lalu keduanya saling tertawa.
Bryan mengedarkan pandangannya lagi ke lapangan tetapi gadis tadi telah pergi dari sana. Bryan pun melanjutkan makannya, setelah selesai ia dan Fandi kembali ke kelas mereka.
...****************...
...Jangan lupa kasih saran dan kritik...
...Terima kasih...
__ADS_1