
Setelah selesai membersihkan diri, Bryan berjalan menuruni tangga untuk makan malam bersama keluarganya. Setibanya di sana, ia menarik kursi yang berada di depan mamanya dan mendudukkan dirinya di sana.
“Loh papa nggak ikut makan bersama ma?”, tanya Bryan.
“Nggak, tadi mama juga udah ambilin nasi buat papa kok”, jelas sang mama (Ratna).
“Ouhh. Terus tukang urutnya udah datang?”, tanyanya lagi.
“Tuh papamu lagi diurut di kamar”, sambung Ratna.
Kegiatan makan malam berjalan dengan lancar. Setelah acara makan malam bersama, Bryan berniat untuk memasuki kamar orang tuanya untuk melihat kondisi papanya. Ia membuka knop pintu kamar orang tuanya dengan pelan-pelan, takut jika papanya sedang tertidur dan ia malah mengganggunya. Bryan berjalan menghampiri ranjang papanya dan mendudukkan dirinya di samping papanya yang sedang berbaring. Papa Bryan (Rio) berbaring di kasurnya dengan mata terpejam, ia membuka matanya ketika merasakan pergerakan di kasurnya.
“Eh papa keganggu Bryan ya?, yaudah Bryan keluar aja dulu, papa lanjutin tidurnya lagi”, ucap Bryan sambil beranjak dari duduknya.
“Papa nggak tidur kok, ada apa?”
Setelah mendengar perkataan papanya, Bryan kembali mendudukkan dirinya di pinggiran kasur.
“Gapapa kok pa, Bryan Cuma mau tanya-tanya aja?”
“Yaudah mau tanya apa?mau tanya keadaan papa? Papa sehat kok, wajah ganteng papa juga masih utuh nih”, jawab Rio dengan PD sambil memajukan wajahnya ke arah Bryan.
Bryan yang mendengar itu langsung memutar bola matanya malas. Selalu saja papanya membanggakan wajah tampannya tanpa mengenal waktu. Sang papa yang melihat perubahan raut wajah anaknya hanya mengeluarkan tawa geli.
Memang sang papa mempunyai wajah yang rupawan dari ia masih kecil sampai ia punya dua anak seperti sekarang ini. Gen wajah rupawan itu ia wariskan kepada kedua anaknya, Bryan dan Riko. Jadi tak heran jika wajah rupawan Bryan selalu dipuja-puja oleh kaum hawa yang melihatnya.
Setelah meredakan tawanya, Rio mulai menceritakan kejadian yang telah menimpanya tadi kepada Bryan. Ia menceritakannya dengan runtut dari awal mula penyebab ia bisa terpeleset dan orang yang telah membantunya tadi.
“Oh jadi papa jatuh waktu naik motor temen papa....terus yang bantu papa perempuan seumuran papa?”
“Iya”
“Papa udah bilang makasih sama orang itu?”, tanya Bryan.
“Papa belum bilang makasih sama orangnya, orang tadi kelihatannya dia juga lagi buru-buru. Jadi habis minta tolong ke orang sekitar, terus orangnya pergi dijemput ojek”
“Ya berarti lain kali kalau ketemu orangnya bilang makasih pa. Mama juga udah tahu?”
“Udahlah tadi papa ceritain pertama kali”
“Hmm...yaudah pa, lanjutin aja tidurnya. Bryan mau pergi main bentar”
“Jangan pulang malam-malam kayak kemarin!!”, ucap Rio saat Bryan berjalan ke arah pintu kamar.
Setelah keluar dari kamar papanya, Bryan mencari keberadaan mamanya untuk berpamitan pergi main keluar sebentar. Mamanya Bryan sudah melarang Bryan untuk pergi tetapi memang anak laki-laki, kalau dilarang malah semangat buat lakuin larangannya.
“Dasar kakak”, gumam Ratna (mama Bryan).
__ADS_1
“Kak mama nitip beliin sayuran bayam atau kangkung waktu pulang!!”, teriak Ratna.
Bryan yang mendengar teriakan mamanya hanya mengangkat tinggi jompol tangannya ke udara.
...----------------...
“Nana kamu beli keperluan bulanan ya, mama banyak tugas dari kantor hari ini dan harus dikumpulkan lusa. Kamu bisa kan?”, tanya Devi (mama Nana).
“Ah iya ma”
“Kamu gak ada PR dari sekolahkan?”, tanyanya lagi.
“Nggak ada kok ma, sini biar Nana yang belanja, mama buat catatan apa aja yang perlu dibeli ya”
“Ini, mama udah buat catatan belanjanya. Kalau udah selesai langsung pulang jangan pergi kemana-mana udah malam”
“Siap bu bos”, jawabnya sambil mengangkat tangannya seperti hormat kepada bendera merah putih.
Supermarket
Nana celingak-celinguk di bagian rak susu, ia bingung di mana letak susu yang biasanya mamanya beli. Karena terlalu fokus untuk mencari letak susu itu, Nana sampai tidak tahu jika ada orang yang berjalan di belakangnya.
“Ah maaf saya tidak melihat tadi”, ucapnya sambil menundukkan kepalanya setelah merasa menabrak seseorang yang berada di belakangnya.
Merasa tidak ada sahutan dari orang itu, Nana mendongakkan kepalanya untuk melihat orang yang berada di depannya. Nana terkejut kenapa ia sering sekali bertemu dengan orang yang selalu membuat moodnya buruk. Bryan hanya memasang muka datarnya, tapi muka datar itu berubah menjadi senyum devil setelah ia mengingat rencana apa yang akan ia lakukan besok.
Saat mengetahui ternyata di depannya adalah Nana, Bryan dengan isengnya membisikkan sebuah sesuatu di telinga Nana.
“Jangan lupa besok ke taman belakang, kalau kau tidak datang.....”
Setelah mendengar itu Nana seketika menjadi tegang, Bryan yang melihat antrean di depan Nana kosong segera menempati antrean itu.
“Kenapa harus mendapat masalah lagi?”, gumamnya dengan cemas.
Nana dalam perjalanan pulang dengan berjalan kaki, saat tiba di gang gelap Nana merasa seperti ada yang tidak beres. Kepanikan Nana semakin meningkat saat ia mendengar suara langkah kaki, ia mencoba menenangkan dirinya dan berbalik menghadap ke arah belakang. Betapa terkejutnya ia saat mendapati dua orang lelaki tengah berjalan ke arahnya berdiri sekarang. Nana merasa tidak asing dengan orang itu, wajahnya seperti tetangga yang tinggal cukup jauh dari lokasi rumah Nana. Kedua orang itu berjalan mendekati Nana, Nana yang didekati seperti itu segera melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan orang-orang itu. Tapi nahas, belum sempat Nana berlari, tangan dari salah satu orang itu berhasil menggenggam pergelangan tangan kirinya. Nana meronta-ronta dan berteriak meminta tolong, berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya dan membantu dirinya agar terlepas dari orang-orang itu.
“Tolong-tolong!!!”
“Lepas, lepaskan tangan saya, hiks....hiks...”, teriak Nana ketakutan.
“Tenanglah anak manis, kami berdua nggak akan nyakitin kamu kok. Kami cuma mau main-main sebentar”, ujar salah satu orang itu tepat di depan muka Nana dengan ekspresi menyeramkan.
Setelah mengatakan itu, aroma alkohol menyeruak di indra penciuman Nana. Nana yang mencium bau alkohol itu merasa ingin muntah. Nana masih berusaha menggerakkan tangan dan kakinya untuk melepaskan diri, meski ia tahu kemungkinan untuk bisa lepas dari orang-orang itu hanya sedikit, ia hanya bisa berharap semoga ada orang yang mendengar teriakannya.
“Ya Allah semoga ada yang mendengar teriakanku”, mohon Nana dalam batinnya.
Bryan baru mengingat sayur yang disuruh beli oleh mamanya ternyata ada yang stoknya habis, ia berniat untuk memberitahu mamanya sehingga ia memberhentikan laju motornya dan berhenti dipinggiran jalan yang sepi.
__ADS_1
“Ma tadi cuma ada sayur kangkung, bayamnya nggak ada”, ujar Bryan dari sambungan teleponnya dengan mamanya.
“Yaudah, Bryan pulang sekarang. Iya ini udah di jalan kok, iy ma. Bryan tutup dulu teleponnya ma”, ucap Bryan.
Saat tengah menelepon mamanya, Bryan mendengar samar-samar suara perempuan berteriak meminta tolong. Karena suara itu terdengar cukup lama Bryan pun merasa penasaran dan mematikan teleponnya dengan sang mama. Bryan melajukan motornya ke arah sumber suara itu. Ia membelokkan motornya ke arah gang yang gelap karena suara itu semakin terdengar jelas berasal dari dalam gang itu. Ia menyipitkan matanya untuk menangkap sosok gerombolan itu yang berada di sudut gang itu. Ia turun dari motornya dan berjalan ke arah gerombolan orang itu.
“Njir mainnya kroyokan, udah bapak-bapak lagi, cih”, gumamku.
Bryan pov
Aku berjalan menghampiri orang-orang itu dengan santai, mencoba bicara dengan mereka baik-baik. Tetapi respon mereka sangat buruk, ditambah lagi orang-orang itu sedang mabuk. Ku lirik sekilas siapa perempuan yang sedang mereka ganggu, dan ternyata dia cewek tadi, cewek yang akan ku kerjai besok.
“Heh ngadi-ngadi nih dua orang, dia udah gue tandai kalau yang ganggu dia tuh gue kok malah kalian duluan yang ganggu”, batinku dengan menatap dua orang itu dengan kesal.
Tanpa babibu lagi, kuarahkan tendangan ke salah satu kaki dari mereka. Terdengar ringisan setelah kulayangkan tendangan kaki tadi.
“Cih gitu aja udah kesakitan”
“Heh lu, rasain nih”, ucap orang yang ku tendang tadi.
Ia melayangkan sebuah pukulan ke arahku, untungnya aku masih bisa menghindar darinya kalau tidak wajah rupawan ini akan mendapat hiasan warna ungu biru nanti.
“Pak udah tua tuh jangan aneh-aneh mainnya, nanti kalau dijemput sama malaikat waktu asik main gimana? Seremkan ....”
“Persetan dengan omonganmu bocah”
Bug, bug, bug.
Orang yang tadinya memegangi tangan Nana kini telah melepaskan cekalan tangannya saat melihat temannya tengah terkapar di jalan karena ulahku.
“Hei bocah rasakan ini”, sambil melayangkan sebuah balok kayu ke arahku.
.......
.......
.......
.......
......Hai👋......
Jangan lupa kritik, saran, dan suka ya,,,,,
...See you🌻🌻...
...💜💜...
__ADS_1