
Hari Senin merupakan hari yang sangat tidak diminati oleh sebagian besar murid, karena mereka harus melaksanakan upacara bendera yang membuat kaki mereka pegal. Belum lagi jika matahari sedang tidak bersahabat dan juga pembina upacara yang menyampaikan banyak sekali amanat. Tetapi beda lagi ceritanya jika Nana yang ditanya tentang pendapatnya, ia sangat senang jika melaksanakan upacara bendera. Menurutya, hanya menahan pegal di kaki sebentar dan panas matahari tidak sebanding dengan perjuangan para pahlawan terdahulu. Kita harus menghargai perjuangan mereka, setidaknya dengan mengikuti upacara bendera dengan penuh kesadaran dan ketertiban.
"Ahh gila panas banget", ucap Gracia ketika tiba di tempat duduknya.
"Iya, astaga. Itu guru nggak tau apa ya, apa sengaja mungkin?", sahut Kristal sambil mengibas-ibaskan buku di depan wajahnya.
Gracia yang melihat itu langsung menyambar buku yang berada di tangan Kristal, lalu mengibas-ibaskan ke arah wajahnya sendiri.
"Ih apaan sih Grac, itu kan ada buku lu di meja. Pakek buku lu sendiri aja", ujar Kristal sambil melihat ke arah Gracia.
"Apa lu? lu mau ngelawan gue? lu mau dipindahin ke kelas IPS?", tukas Gracia dengan ketus.
"Eh, nggak gitu Grac. Ya udah lu pakek aja buku gue, gue pakek buku yang lain. Hehe", sambil mengambil buku yang berada di dalam tasnya.
Laura yang melihat perdebatan keduanya hanya menatap mereka jengah lalu melanjutkan memoles wajahnya dengan bedak.
"Lu gak kepanasan tadi Ra?", tanya Kristal.
"Panas sih tapi gue lebih fokus buat benerin make up gue nih", masih fokus dengan memoles lip blam di bibirnya.
Gracia dan Kristal hanya mencibir pelan Laura, sedangkan Laura tidak menggubris cibiran mereka berdua dan tetap melanjutkan kegiatannya.
"Ah capek banget ya hari ini, biasanya nggak lama kayak gini amanatnya", gumam Nana sambil berjalan menuju ruang kelasnya.
Baru beberapa langkah Nana memasuki ruang kelasnya, ia sudah disambut dengan tatapan yang menyorotkan kebencian. Gracia dkk tengah melakukan kesibukannya masing-masing sebelum melihat kedatangan Nana ke ruang kelas.
"Eh Grac, tuh si cupu udah masuk tuh", ucap Kristal sambil melirik ke arah Nana berdiri tadi.
Laura yang mendengar itu langsung memberhentikan kegiatannya dan melihat ke arah yang dimaksud temannya tadi. Ia melihat Nana tengah berdiri sambil menundukkan kepalanya.
"Iya Grac, kita apain enaknya?", tanya Laura.
"Tenang aja, gue udah mikirin cara kali ini. Kalian lihat aja nanti", ujar Gracia sambil menatap Nana seolah Nana adalah seekor mangsa yang sangat pas untuk singa yang kelaparan.
Nana tetap melangkahkan kakinya ke arah tempat duduknya meskipun ia merasa tidak nyaman dengan tatapan yang diberikan Gracia dkk. Setibanya di tempat duduk ia langsung mendudukkan dirinya dan tidak berselang berapa detik, guru mata pelajaran telah tiba di kelas itu. Semua murid mengambil posisi ke tempat duduknya masing-masing.
"Assalamualaikum anak-anak"
"Waalaikumussalam buuu", jawab seisi kelas.
"Baik, silahkan keluarkan buku pendamping kalian. Kali ini kita akan membahas materi tentang resensi buku", ucap guru itu.
__ADS_1
Nana merogoh tasnya yang berada di loker bangkunya. Sebenarnya ia merasa ada yang tidak beres setelah memegang bagian luar tas miliknya, dan yah. Ketika ia mengambil beberapa buku, yang ia dapati adalah buku yang telah basah. Ia mencoba mengeluarkan semua buku yang berada di dalam tasnya, semuanya basah. Tidak ada yang selamat.
Nana menghembuskan nafasnya panjang.
Sang guru tengah menjelaskan materi di depan kelas, ditengah-tengah penjelasannya. Indra penglihatannya menangkap Nana tengah sibuk mengipasi sesuatu di atas meja.
"Nana, apa yang kamu lakukan?", tanyanya.
Nana yang mendengar namanya dipanggil kelabakan sendiri, apalagi sekarang teman sekelasnya melihat ke arah dirinya.
"Ah tidak ada bu", jawabnya.
"Di bangku kamu ada apa?", tanyanya lagi.
"Bukunya basah bu", ujar teman yang duduk di depannya.
"Kenapa buku kamu basah Nana?", tanya guru itu sambil berjalan ke bangku Nana.
"Itu bu, saya kurang rapat saat menutup botol minum. Jadi airnya tumpah", ucap Nana menyakinkan guru itu.
"Lain kali kamu jangan ceroh lagi, sana kamu jemur buku-buku kamu di bangku depan ruang kelas", ujar sang guru sambil berjalan ke arah depan.
"Baik bu", ucap Nana.
"Woi Bry, anterin gue ke kamar mandi dong", bisik Fandi yang duduk di sebelah Bryan.
"Sana minta izin sama Pak Aan, nanti kalau dikasih izin baru deh gue anter", balas Bryan.
Fandi yang sudah tidak kuat menahan rasa ingin ke kamar mandi pun memberanikan diri untuk meminta izin kepada guru yang sedang mengajar mereka. Pasalnya guru yang mengajar mereka ini adalah guru yang tidak pernah memberikan izin kepada semua murid untuk keluar kelas apa pun alasannya saat kegiatan belajr mengajar tengah berlangsung.
"Pak", panggil Fandi sambil mengangkat tangannya.
Sang guru memberhentikan penjelasannya dan melihat ke arah tempat duduk Fandi.
"Ya, ada apa?", tanyanya.
"Tuh udah ditanyain, langsung izin aja", bisik Bryan.
"Emm anu pak, saya izin mau ke kamar mandi sebentar", jawab Fandi sambil menahan sesuatu yang ingin keluar.
"Apa kamu sudah lupa tentang peraturan pembelajaran saya!? Tidak ada yang boleh keluar dari kelas saat kegiatan pembelajaran saya berlangsung!", jelas guru itu.
__ADS_1
"Tapi pak, ini keadaannya sangat darurat", sambil mengusap keringat yang mulai bercucuran di pelipisnya.
"Saya bilang tidak, ya tidak", balasnya.
"Pak teman saya sudah tidak bisa menahannya lagi. Apa bapak berkenan untuk membersihkannya jika dia mengeluarkannya di sini?", sahut Bryan dengan santai.
Guru yang mendapat pertanyaan seperti itu menatap Bryan cengo, siapa juga yang mau membersihkan kotoran orang lain. Membayangkannya saja sudah membuat guru itu bergidik ngeri.
"Oke, kamu bisa keluar", ucapnya.
Fandi yang mendengar keputusan gurunya merasa sangat senang, ia bergegas untuk berdiri dan menarik tangan Bryan.
"Tapi ingat, setelah selesai harus langsung kembali", tukasnya.
"Siap pak", teriak Fandi sambil berlari keluar kelas.
...****************...
"Ah gilak, lega banget rasanya", ujar Fandi ketika keluar dari bilik toilet.
Ia menengok kanan kiri untuk mencari keberadaan Bryan, tapi keberadaan sang empu tak kunjung terlihat. Ia pun keluar dari kamar mandi untuk mencari temannya. Ternyata Bryan tengah duduk di kursi sambil melihat ke salah satu arah ruang kelas. Fandi mencoba mengikuti arah pandang Bryan. Fandi menyipitkan matanya ketika ia mendapati gadis cupu yang selalu menjadi korban bully Gracia dkk tengah menata sesuatu di kursi depan kelasnya.
"Ahhh, jadi nih anak suka sama cewek itu?", gumam Fandi sambil melihat bergantian ke arah Bryan dan murid perempuan itu.
"Ehemm", dehamnya.
"Eh lu udah selesai?", tanya Bryan sambil mengalihkan pandangannya.
"Lu suka sama cewek itu ya?", tanya Fandi.
"Mana ada, tuh cewek nyebelin"
"Emang lu kenal sama dia?", tanya Fandi lagi.
"Emm beberapa kali pernah ketemu di luar area sekolah sih", jawabnya sambil berjalan.
"Eh tapi kok kayaknya dia beda banget deh", sambungnya.
"Beda gimana?", tanyanya lagi.
"Ya beda aja, di luar tuh dia nyebelin banget. Tapi kalok di sekolah gue kasihan sama dia, apa lagi waktu itu gue lihat dia dibully", ujar Bryan.
__ADS_1
Fandi hanya ber oh ria menanggapi cerita dari Bryan.