
Nana pulang dengan menaiki sepedah kesayangannya (Aja), ia mengayuh sepedahnya dengan sangat pelan karena hari ini ia merasa sangat capek. Di tengah perjalanan, ia tidak sengaja melihat penjual es degan di pinggir jalan. Ia pun memberhentikan sepedahnya untuk membeli es degan itu.
“Pak es degannya satu ya”, pesannya.
“Diminum di sini apa bungkus neng?”, tanya bapak penjual es itu.
“Bungkus aja pak, gulanya gula putih aja pak nggak pakai jeruk”
“Siap neng”, jawab penjual itu lalu membuatkan pesanan Nana.
...----------------...
Sedari tadi Bryan mengikuti Nana karena merasa penasaran oleh gadis itu. Dari ia yang tidak terpesona dengan ketampanan Bryan, sampai tingkah laku gadis itu yang berbeda jika berada di sekolah dengan di luar sekolah. Selama mengikuti dari tadi, Bryan merasa haus karena saat ini sang surya berada tepat di atas kepalanya.
“Di mana sih rumah tuh cewek, mana ngayuh sepedah kayak siput”, gerutu Bryan sambil terus memperhatikan Nana.
Bryan menghentikan kendaraannya ketika ia mendapati Nana berhenti di depan gerobak penjual es degan. Sebenarnya ia tidak berniat untuk beli es juga di sana, tetapi karena keadaan yang memaksa ia untuk beli es itu.
“Emang lu doang yang haus, gue juga ngap”, ucapnya lalu menjalankan motornya dan berhenti disebelah Nana.
“Pak bungkus satu”, ucapnya sambil menunjukkan jari telunjuknya yang memberi arti angka satu.
“Siap den”, sambil menunjukkan jempolnya.
Nana yang sedari tadi duduk, merasakan seseorang tengah mengambil duduk di sebelahnya. Ia melirik sinis kepada pemuda yang berada di sampingnya. Pemuda yang dilirik seperti itu hanya mengangkat bahunya acuh.
“Ini neng, den, esnya”, penjual itu menyodorkan es degan kepada mereka berdua.
“Makasih pak”, ucap mereka bersamaan.
“Berapa pak harganya?”, tanya Nana sambil mengeluarkan uang dari sakunya.
“6.000 neng”, jawab bapak penjual es.
Bryan yang mendengar harga es itu segera merogoh saku celananya sambil menyeruput es yang berada di tangan kanannya, tetapi ia tidak mendapati uang di saku celananya. Bryan yang tidak mendapati uang di saku celananya menjadi resah, sesekali ia melirik ke arah gadis itu.
“Uang gue habis? Mana ni es udah gue minum”, batin Bryan.
“Ini pak”, ucap Nana sambil mennyodorkan uang sepuluh ribu.
Nana sedari tadi mengetahui gelagat aneh dari Bryan tetapi ia mencoba untuk tidak memperdulikannya, hingga ia mendengar dehaman dari Bryan. Nana merogoh sakunya lagi dan mengeluarkan satu lembar uang lima ribu.
“Ini pak, buat bayar es yang itu yah”, sambil menunjuk es yang berada di tangan Bryan.
“Iya neng, bentar saya ambil kembaliannya dulu”, ujar penjual es.
__ADS_1
“Eh nggak usah pak, kembaliannya buat bapak aja. Saya permisi pak”, pamit Nana dengan berjalan ke arah sepedahnya yang ia perkirkan tadi.
Bryan yang sedari tadi melihat percakapan Nana dan bapak itu hanya diam, saat Nana pergi Bryan juga memutuskan untuk pamit pergi.
“Saya juga permisi pak”, pamit Bryan.
Sedari tadi Bryan mengikuti Nana. Pasalnya Bryan ingin berterima kasih kepada Nana karena mau meminjaminya uang, tetapi Nana seakan tuli ketika disuruh Bryan untuk berhenti. Bryan yang tidak mendapat respon apa pun dari Nana merasa kesal. Padahal niat Bryan baik kepada Nana.
Ia ingin melajukan motornya mendahului Nana dan mencegat Nana dengan paksa, tetapi keinginannya itu harus ia lupakan ketika mengingat tujuan awal ia mengikuti Nana. Ia kembali memelankan motornya dan mengikuti Nana dengan tenang.
Nana merasa risih karena Bryan tetap saja mengikutinya meskipun ia tidak merespon satupun ucapan Bryan. Nana masih merasa kesal kepada Bryan karena sikapnya beberapa hari lalu, dari ia yang tidak merasa bersalah karena telah membuat Nana jatuh dari sepedahnya sampai tidak menghargai ucapan terima kasih Nana kepada Bryan karena telah membayarkan uang saat di bengkel. Nana merasa kesal, meskipun ia diperlakukan kurang baik di sekolah oleh beberapa murid, tetapi entah mengapa jika Bryan yang melakukannya ia merasa sangat kesal.
Nana mempercepat mengayuh sepedahnya supaya jaraknya dengan Bryan semakin jauh, tapi bagaimanapun yang namanya sepedah dengan motor ya tetap saja motor bisa mengikuti kencangnya laju sepedah. Nana memberhentikan laju sepedahnya ketika ia telah tiba di depan rumahnya. Ia turun dari sepedah dan menata posisi sepedahnya dengan benar, setelah itu ia berjalan menghampiri Bryan yang berhenti tidak jauh dari ia menata sepedahnya.
“Kenapa sih kamu ngikutin aku? Gara-gara uang yang di bengkel? Iya nanti aku bayar kok, sekarang lagi nggak bawa uang”, tukas Nana sambil berkacak pinggang.
Bryan yang melihat itu hanya tersenyum tipis, sangat tipis bahkan tidak bisa dilihat oleh mata.
“Lucu”, batin Bryan.
“Hei, malah nglamun”, ucap Nana sambil mengibaskan tangan di depan wajah Bryan.
Bryan kembali sadar setelah mendengar ucapan Nana.
“Ck, gue mikir apaan sih”, batinnya.
'Hufff'
Nana membuang nafas kasar.
Nana memasuki rumahnya yang sepi dan langsung berjalan ke arah kamarnya.
...****************...
Bryan tiba di rumahnya sekitar pukul 17:30, sebelumnya ia pergi main ke rumah Fandi terlebih dahulu.
“Bryan pulang”, teriak Bryan ketika memasuki rumahnya.
“Salam dulu kak”, jawab sang mama sambil menggendong adik Bryan.
“Assalamualaikum, Bryan pulang”
“Kakakkk”, teriak sang adik setelah berusaha turun dari gendongan mamanya.
"Kamu dari mana aja kak?, dari tadi mama telfon kamu nggak kamu angkat. Papa kamu juga nyariin dari tadi", ujar mama Bryan.
__ADS_1
"Emmm, maaf ma. Tadi Bian main ke rumah Fandi dulu, nggak kabarin orang rumah karena HP Bian mati", jawab Bryan sambil menggendong adiknya.
Ya memang sebelum membuntuti Nana dirinya sempat ke rumah Fandi sebentar.
"Kak Bian kak Bian, tadi Iko habis dibuatin mama kue coklat enak bangettt", ucap Riko adik Bryan dengan wajah polosnya.
"Masih ada?", tanyanya.
"Masihh", jawab Riko dengan semangat.
"Good, kakak juga mau. Ayo kita ambil", sambil berjalan ke arah dapur.
Mama Bryan yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat interaksi antara kedua anaknya.
"Kak setelah itu langsung mandi terus kita makan bersama, papa kamu mau bicara sama kamu", teriak sang mama.
"Siap", jawab Bryan.
...----------------...
Acara makan malam di rumah Bryan berlangsung dengan hening. Bukan karena suarananya suram atau canggung. Tetapi di keluarga Bryan, kegiatan makan itu tidak boleh sambil berbicara. Kalau makan sambil berbicara itu sama saja dengan tidak menghargai makanan yang berada di meja makan.
Setelah selesai makan semua, akhirnya Bryan bertanya kepada papanya tentang apa yang mau papanya bicarakan kepada dirinya.
"Pa, tadi kata mama ada yang mau papa omongin ke Bryan?", tanyanya.
"Kamu dari mana saja kok hari ini pulang sore?”, tanya sang papa.
"Tadi Bian ke rumah temen pa", jawabnya.
"Ditelfon nggak dijawab, kamu tahu. Dari tadi mama kamu tuh mikirin kamu"
Bryan langsung menatap ke arah tempat duduk sang mama. Mendapati sang mama tengah menyuapi sang adik akhirnya ia tersenyum lega.
"Maaf pa, tadi HP Bian mati jadi nggak bisa ngabarin orang rumah. Tadi mau pinjem HP Fandi tapi katanya Hpnya lagi di konter", jelas Bryan yakin dengan melihat ke arah papanya.
Adi (papa Bryan) melihat ke arah mata anaknya untuk mencari kebohongan di sana, tetapi ia tidak melihat kebohongan itu. Ia hanya takut jika anaknya bertindak nakal sampai di luar batasan, ia takut jika Bryan salah dalam pergaulan.
"Huffff, besok-besok kalau mau main terus HP kamu mati pinjem HP orang lain buat hubungin orang rumah".
"Siap", jawab Bryan semangat, membuat orang yang berada di meja makan tertawa bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
🌼Ay ay🌼
__ADS_1
Man teman kasih saran dan kritik ya, biar aku bisa perbaiki lagi tulisan aku
Oh iya jangan lupa kasih like ya, biar aku semangat menulisnya🌷🌷