
Selesai menjalani hukumannya, Nana berniat pergi ke kantin sekolah untuk membeli semangkuk bakso, tetapi niatnya ia urungkan karena bel masuk telah berbunyi.
"Yah.....udah bel", ucap Nana dengan lesu.
"Boleh nggak ya beli dulu terus dibungkus?Nggak jadi deh nanti yang ada aku telat terus kena hukuman lagi", ucap Nana sambil menghembuskan nafasnya.
Nana berjalan melewati koridor depan kelas dengan pandangan menatap ke bawah. Ia tidak menyadari jika ternyata di depannya ada Gracia dan teman-temannya sedang berjalan searah dengan dirinya.
"Aww", ringis Nana ketika tubuhnya membentur ubin lantai.
Gracia yang merasa punggungnya ditabrak seseorang merasa geram dan membalikkan tubuhnya. Dan kekesalannya bertambah dua kali lipat setelah ia mengetahui siapa orang yang menabrak dirinya.
"Heh kalau jalan tuh lihat-lihat dong, punya mata nggak sih. Udah tahu ada orang di depan masih aja ditabrak", bentak Gracia pada Nana.
"Bisa jalan nggak sih lu cupu", sahut Laura sambil mendorong bahu Nana ketika Nana baru berdiri dari jatuhnya.
"Udahlah Grac kita balas aja anak kayak gini", sewot Kristal sambil menatap sinis ke arah Nana.
Murid-murid yang berada di koridor, semuanya menatap ke arah mereka dengan pandangan yang berbeda-beda dan saling berbisik.
'Ngapain lagi tuh cupu sama Gracia dkk?'
'Habis tuh cupu'
'Kasihan ya Nana'
'Ada apaan tuh'
__ADS_1
'Bakal ada tontonan nih kayaknya'
Bryan dan Fandi tengah berjalan ke arah kelasnya. Tetapi langkah mereka terhenti ketika Bryan melihat kerumunan di koridor depan kelas XI IPS1. Bryan menyipitkan matanya untuk melihat kerumunan itu tetapi nihil ia hanya bisa melihat kerumunan murid-murid tanpa tahu apa yang mereka kerumuni. Ketika ada seorang siswa laki-laki yang berlari di depannya, Bryan menghentikan lelaki itu dan bertanya apa yang terjadi di sana. Lelaki itu mengatakan bahwa Gracia dkk sedang membully seorang siswi. Setelah mengatakan itu, siswa itu segera berlari ke arah kerumunan meninggalkan Bryan dan Fandi di tempat itu.
"Gracia dkk? bully? ada apaan Fan sebenarnya?", tanya Bryan.
"Biasa Bry kayak di sekolah lu yang dulu nggak ada aja", jawab Fandi dengan santai.
"Apaan sih, maksud lu ada geng bully gitu?", ucap Bryan sambil menoleh ke arah Fandi.
Fandi membenarkan perkataan Bryan dengan menganggukkan kepalanya dengan masih melihat ke arah krumunan. Bryan tidak percaya ketika melihat temannya biasa-biasa saja padahal ada seorang murid yang sedang di tindas. Bryan langsung berlari ke arah kerumunan itu meninggalkan Fandi sendirian.
Fandi yang melihat Bryan meninggalkan dirinya, ia langsung berlari mengikuti dan berteriak.
"Woi tunggu woi", teriak Fandi sambil berlari mengikuti Bryan.
Guru perempuan itu menyuruh Nana dan Gracia untuk mengikutinya ke ruang BK.
"Udah ditangani sama guru kan, ayo ke kelas", ajak Fandi setelah tiba di sebelah Bryan.
Bryan hanya melirik ke arah Fandi dan langsung berjalan mendahuluinya.
"Udah capek-capek ngejar sekarang ditinggal lagi. Kayak cinta gue sama doi yang nggak tau kapan dibalas", gerutu Fandi, kemudian berlari menyusul Bryan.
Setibanya Nana dan Gracia di ruang BK, mereka dipersilahkan duduk oleh guru BK yang ada di sana. Guru itu mulai menanyakan awal kejadiannya seperti apa sampai terjadi keributan seperti tadi kepada mereka berdua, tetapi tidak ada yang menjawab. Nana tetap menatap ke arah bawah dengan menggenggam erat rok seragamnya. Sedangkan Gracia, matanya melihat-lihat isi ruang BK tanpa ada perasaan takut kepada guru BK itu. Guru itu mencoba bertanya sekali lagi kepada mereka berdua, tetapi hasilnya tetap sama saja. Guru BK itu mengusap wajahnya gusar kemudian melihat ke arah Gracia dan Nana.
"Gracia, Nana, coba kalian ceritakan kejadiannya seperti apa", kata guru itu dengan lembut.
__ADS_1
Alih-alih menjawab gurunya, mereka tetap diam saja dengan kegiatannya masing-masing.
"Nana coba kamu cerita kejadiannya seperti apa tadi", bujuk guru itu pada Nana.
Nana mulai mengangkat kepalanya dan melihat ke arah guru itu. Dengan perasaan yang masih takut, Nana mencoba untuk menceritakan kejadian tadi.
"Sa-saya yang salah bu, tadi saya berjalan tidak melihat ke arah jalan", kata Nana sambil menatap ke arah bawah.
"Tuh bu, si cupu udah jelasinkan. Saya boleh pergikan sekarang?", ucap Gracia sambil menatap guru itu.
Guru itu hanya menghembuskan nafasnya.
"Nana, lain kali kamu kalau jalan harus fokus ya. Dilihat jalanannya", tutur guru itu sambil menatap Nana lembut.
Gracia yang melihat kejadian itu semakin kesal dengan Nana, ia langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan guru dan Nana begitu saja. Guru BK yang melihat itu langsung meneriaki Gracia, namun sang empu tidak menghiraukan teriakan guru itu. Nana yang melihat itu hanya diam membisu, tidak mengatakan apa-apa.
"Ya sudah kamu sekarang boleh kembali ke kelas", ucap guru itu.
"Permisi bu", pamit Nana pada guru itu
...****************...
Halo, terima kasih telah membaca cerita saya
Jangan lupa beri saran atau kritikan ya
...Terima kasih...
__ADS_1
...🍎🍎...