
Fandi dan Bryan terus berjalan menuju ruang kelasnya, tetapi keduanya memilih jalan memutar yang berarti harus melewati depan ruang kelas Nana. Mereka sengaja memilih jalan itu agar mengetahui apa yang tadi gadis itu lakukan di depan kelas. Ketika berada di depan ruang kelas gadis itu, mereka melirik ke arah bangku itu. Mereka mendapati beberapa buku basah tengah berjejer di atas bangku.
“Ah gue tahu, kayaknya dia habis dikerjain sama genknya Gracia”, gumam Fandi yang masih dapat di dengar Bryan.
“Maksud lu genk yang kemarin lusa itu?”, tanyanya.
“Hmm”, deham Fandi sebagai jawaban.
...****************...
Pelajaran pertama telah selesai, sekarang murid-murid tengah menikmati waktu istirahatnya. Ada yang bergosip ria, ada yang dandan, ada yang nonton film bareng-bareng kayak di bioskop, dan ada yang sedang menikmati makanan di kantin sekolah. Beda lagi dengan Nana, ia menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan sekolah, ia selalu pergi ke sana setiap harinya. Menurutnya, tidak ada hari yang indah tanpa membaca novel.
Nana tengah memilih buku novel di rak buku bagian pojok dengan bersenandung lirih.
Saat tengah mengambil buku paket untuk teman sekelasnya, Bryan mendengar seseorang tengah bersenandung dengan lirih. Ia penasaran dan ingin melihat siapa orang yang menyenandungkan lagu kesukaannya dengan sangat indah itu.
“Sttt, udah apa belom lu?”, tanya Fandi yanng berada di sebelahnya.
“Udah, ayo”, sambil berjalan ke arah meja petugas perpustakaan.
“Eh bentar ya, gue ke sana dulu. Kayaknya tadi ada buku yang gue butuhin”, ucap Bryan.
“Eh eh, lah terus ini gimana?”, sambil menunjuk ke tumpukan buku paket tadi.
“Ah elah, bentar doang woi. Nanti gue ke sini”, ujarnya sambil pergi ke arah rak buku tadi.
Bryan berjalan perlahan-lahan, agar orang yang bersenandung tadi tidak mengetahu akan kehadiran Bryan di sana. Ketika tiba di rak buku tadi, suara senandung itu telah berhenti, tidak ada suara lagi. Bryan yang merasa orang itu telah pergi pun membalikkan tubuhnya untuk kembali ke meja petugas tadi. Tetapi baru satu langkah ia berjalan, suara senandung itu terdengar lagi. Bryan mengurungkan niatnya untuk kembali dan berbalik mencari dimana sumber suara itu. Ketika Bryan berjalan melewati rak itu, suara itu pun semakin terdengar jelas. Dan yap, ia mendapati seorang gadis tengah membaca buku sambil bersenandung. Terlihat tidak asing sosok gadis itu bagi Bryan, gadis itu adalah gadis yang tadi tengah menjemur bukunya di bangku tadi pagi.
“Ternyata tu orang suaranya bagus juga”, gumam Bryan sambil berjalan menjauhi Nana.
“udah selesai apa belom Fan?”, tanyanya sambil berdiri di sebelah Fandi.
“Udah, gimana buku yang lu cari?”, tanya Fandi.
“Buku? Oh buku itu, tadi udah ada yang ambil. Lain kali aja gue pinjemnya”.
...****************...
__ADS_1
Seorang guru tengah memasuki ruang kelas XI IPA1 dengan seorang murid perempuan di belakangnya.
“Selamat pagi anak-anak”, sapa guru itu.
“Pagi bu”, jawab seisi kelas.
Siapa tuh yang sama Bu Nami?
Lumayanlah , gak jelek biar bisa buat cuci mata di kelas
Anak pindahan ya?
Berbagai bisik-bisik terdengar dari ruang kelas itu.
Nana yang sedari tadi melihat ke arah depat terkejut, karena temannya Chelsea akan menjadi teman sekelasnya. Sedangkan Chelsea mengedarkan pandangannya melihat wajah-wajah baru yang akan menjadi teman sekelasnya.
“Anak-anak, kita kedatangan teman baru. Ayo Chelsea kamu perkenalkan diri kamu”, ujar sang guru.
“Ehem, perkenalkan nama gue Chelsea Yeva bisa kalian panggil Chelsea. Makasih”, ditutup dengan senyum simpul di bibirnya.
“Gue pindah sekolah karena ada sebuah alasan”, jelasnya.
“Baik, Chelsea kamu bisa duduk di samping Nana. Nana angkat tangan kamu”, perintah guru itu.
Gracia sedari tadi menatap ke arah Chelsea dengan malas dan tatapannya memancarkan sebuah kebencian.
“Kenapa sekarang lu juga ada di sini sih. Ah gapapa jadi makin asik sekarang”, batinnya sambil menunjukkan senyum smirknya.
“Ihh aku kira kamu masuk ke kelas lain, ternyata di kelas ini. Kok siang?”, tanya Nana saat Chelsea baru duduk di sebelahnya.
“Woi aku baru duduk elah, nanti aja aku ceritain”, jawab Chelsea sambil mengeluarkan buku (buku tulis dan buku pendamping) dari dalam tasnya.
...****************...
Bel pulang sekolah telah berbunyi, menandakan waktu murid-murid untuk pulang dan istirahat di rumah. Nana dan Chelsea tengah membersihkan buku-buku yang berada di atas meja mereka. Saat sedang memasukkan buku-buku mereka, Gracia dkk berjalan dan berhenti tepat di depan meja mereka berdua.
“Eh lu, kenapa pindah ke sini?. Oh gue tahu, pasti lu pengen ngrasain apa yang temen lu ini rasain selama sekolah di sinikan!”, sambil menunjuk ke arah Nana.
__ADS_1
“Oke, liat besok aja. Gue kasih lu berdua kejutan. Ayo guys kita pergi”, ujarnya sambil berjalan keluar dari ruang kelas itu.
“Udah nggak usah ditanggepin”, ucap Nana.
“Eh pulang dijemput atau gimana?”, tanyanya pada Chelsea.
“Nanti dijemput, kamu sendiri?”.
“Naik sepedah dong!!", jawabnya dengan nada sombong.
“Hilih sok sombong kamu, sombong tuh naik motor bukan sepedah”, ucap Chelsea sambil memutar malas kedua bola matanya.
Nana yang mendengar itu hanya menyengir kuda.
“Ayo aku temenin sampai kamu dijemput”, ucapnya sambil menarik tangan Chelsea menuju kursi dekat gerbang sekolah.
Setibanya di sana, mereka membicarakan banyak hal dari kenapa chelsea tiba di sekolah saat siang hari dan banyak hal lainnya.
‘Tin tin’
“Eh itu udah datang Na yang jemput aku, mau sekalian bareng aja? Biar sepedanya taruh sekolah aja, besok paginya berangkat bareng aku”, tawar Chelsea.
“Ah nggak usah Chel, lain kali aja. Kasihan Aja kalau ditinggal di sini sendirian, hehe”,sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Oh masih sama pacar kamu itu toh, ya udah aku duluan aja ya”, sambil berjalan menuju mobil.
“Eh pacar?”, tanya Nana.
“Iya pacar kamu, Aja, hahaha”, jawab Chelsea diakhiri dengan tawa.
“Sa ae”, sahut Nana.
“Dahh”
“Dahh”
Nana berjalan menuju parkiran sepedah untuk mengambil sepedah kesayangannya (Aja). Ia berjalan dengan pelan karena energinya kali ini tengah habis terkuras.
__ADS_1