
Zahra merasa sedikit gugup. Hari ini adalah hari terakhir dirinya menjalani ujian nasional, dan kali ini adalah mata pelajaran yang kurang di sukai nya.
"Semangat sayang, meskipun kamu tidak suka. Setidaknya kamu harus semangat dan berusaha!"
"Benar apa kata ibu kamu, tetap semangat dan berusaha melakukan yang terbaik!" sambung Ayah nya.
Zahra mengangguk pelan, membalas ucapan kedua orang tuanya dengan senyuman.
"Yah, aku harus semangat!"
Setelah selesai sarapan, Zahra pun langsung berpamitan pada kedua orang tuanya untuk pergi ke sekolah.
"Ibu, ayah. Zahra pergi dulu yah. Doain bisa menjawab semua pertanyaan" ucap Zahra mencium punggung tangan ayah dan ibu nya.
"Pasti sayang, ibu sama ayah selalu mendoakan yang terbaik untuk anak anak kami"
"Makasih Bu, ayah. Dahh..."
Zahra bergegas keluar dari rumah, dia mengambil sepeda yang terparkir di depan teras, kemudian mengayuhnya menuju ke sekolah.
Zahra terlihat santai dalam mengayuh, karena memang dia tidak terburu buru. Masih ada waktu sekitar 20 menit lagi menjelang ujian pertama di mulai.
"Selamat pagi Zahra sayang"
"Zahra!"
"Uuu si manis ku"
Meli, Hana dan jeni menyambut kedatangan Zahra yang sejak tadi mereka tunggu.
"Eh kalian sudah datang lebih awal ya" kaget Zahra, lalu memarkirkan sepedanya di samping sepeda Jeni.
"Yuk masuk!"
Mereka pun berjalan menuju ke kelas IPA. Kelas yang sebentar lagi akan menjadi ruangan penuh kenangan.
"Zahra, kamu sudah belajar dengan baik kan? ini pelajaran yang paling kamu benci." Tanya Jeni.
"Bener tu" sahut Meli.
"Aduh guys, aku tuh udah belajar. Malahan lebih ekstra dari pelajaran yang lain." jawab Zahra duduk di bangku nya. Jeni dan kedua sahabatnya menarik kursi yang lain, kemudian mereka berkumpul di meja Zahra.
"Jika kamu sudah belajar, kenapa kamu masih khawatir?" Hana.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak mengerti, tapi aku harus bisa dan mendapatkan nilai yang bagus. Agar aku bisa mendapatkan beasiswa itu sepenuhnya." Gumam Zahra meyakinkan dirinya sendiri.
Ketiga teman Zahra mengangguk, mencoba menyemangati Zahra agar tetap semangat.
Kring!!!!
Bel pun berbunyi, detak jantung Zahra pun semakin cepat berdetak seiring dengan jarum jam.
"Jangan ada yang bersuara, semua barang kecuali pulpen, di antar ke depan!"
Seluruh siswa langsung mendekati petugas pemeriksa untuk memeriksa apakah mereka sudah siap ujian atau malah melanggar aturan.
"Huff.... Aku pasti bisa!" semangat Zahra.
...----------------...
Hari semakin hari hubungan Sirena dan suaminya semakin dekat. Jerico terus meminta hak nya sebagai suami agar lebih bisa memanjakan istri nya.
"Aku tidak akan menyisakan sedikit ruang untuk pria lain!" tekad Jerico di dalam hati.
Saat ini, kedua insan itu sedang terbaring lemas setelah bertempur sejak abis isya hingga pukul 12 malam.
"Mas, " Jerico menarik tubuh Sirena, memeluknya erat agar dinginnya AC tidak membuat istri nya kedinginan.
"Telat!!!"
Wanita yang sepenuh nya sudah menjadi seorang istri langsung turun dari ranjang. Mengabaikan tubuh polosnya terekspos begitu saja.
"Sayang, kamu kenapa sih. Baru pukul 7" Jerico menarik selimut.
"Aduh, kamu yah mas. Terlambat tidak ada yang memarahi.Lah aku, kerja sama orang!" dengus Sirena berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Yasudah, kerja di kantor ku saja. Kamu akan menjadi ratu di sana!" celetuk Jerico kembali terjun ke dunia mimpi.
Selesai mandi, Sirena kembali membangunkan suaminya. Kemudian, dia pun berlalu ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Mas, ayo cepat!" teriak Sirena dari bawah.
"Iya iya, bawel banget ih"
Jerico duduk di kursi meja makan, menatap sarapan simple yang istrinya buat.
"Kenapa di lihatin aja? makan lah" seru Sirena.
__ADS_1
"Kamu yakin, sarapan dengan ini aja?"
"Aduh mas, aku udah telat, gak sempat masak sesuatu ya g ribet. Lagi pula, ini semua salah kamu. Kamu yang membuat aku terlambat bangun?" gerutu nya.
Jerico hanya terkekeh pelan, mengakui jika ini adalah kesalahan nya.
Mereka pun makan bersama dengan sangat terburu buru.
Bukan mereka, melainkan hanya Sirena. Karena bekerja dengan orang lain, jdi dia harus memikirkan kemarahan boss nya.
Bukan hanya itu, Sirena sedang menghindari seseorang. Jika dia terlambat maka, dia akan bertemu dengan orang itu.
...----------------...
Pengumuman kelulusan telah di sampaikan. Zahra mendapatkan nilai tertinggi di sekolahnya. Dia juga mendapatkan kesempatan berkuliah di kota dan biaya di tanggung pemerintah.
Zahra mengemasi barang barang yang akan dia Anwar dan pelukan.
Lastri dan Gunawan menghampiri putri bungsu mereka.
"Eh ibu" Zahra menghentikan kegiatannya, dia menghampiri ibu dan ayah nya dan mereka duduk di atas ranjang.
"Nak, kamu sudah selesai berkemas?" tanya Lastri.
"Sudah Bu, ini tinggal beberapa barang lagi!" Zahra menatap kedua orang tuanya, di dapat merasakan jika kedua orang tuanya merasa enggan melepaskannya kuliah di kota.
Namun, Mereka harus merelakan putri putri mereka terbang jauh ke angkasa, agar hidup mereka juga lebih baik.
"Ayah, ibu, kalian jangan cemas yah. Di kota ada kak Sirena kok, dia pasti akan menjaga aku"
"Iya, ibu ngerti kok ndu. Ibu sing gak khawatir Karo itu" ujar Lastri dengan logat jawanya.
"Lalu apa Bu, ayah."
"Kamu kan tahu Ndu, kami sudah tua. Kakak mu sudah menikah. Kami hanya punya kamu"
"Tapi, kamu jangan khawatir. Ibu sama ayah tidak akan melarang kamu nduk. Ibu sama ayah akan mendoakan yang terbaik untuk kalian semua" Sela Lastri, agar putri nya tidak salah paham.
Zahra mengerti maksud kedua orang tuanya. Namun, dia juga tidak bisa menolak beasiswa ini.
Kesempatan bagus sangat jarang datang, dan tidak akan ada untuk yang kedua kalinya.
"Doakan Zahra yah Bu, ayah"
__ADS_1
"Iya nak, kami selalu mendoakan kamu" balas Lastri.
Zahra tersenyum bahagia, meskipun di sudut matanya mengeluarkan air mata. Dia tetap berusaha untuk tersenyum di hadapan kedua orang tuanya. Bertekad di dalam hati untuk cepat sukses dan membahagiakan mereka.