
3 Bulan setelah ospek selesai, Zahra dan Davin semakin dekat. Bahkan mereka berada di jurusan yang sama.
Seperti biasanya Zahra datang lebih awal.
"Selamat pagi pak" sapa Zahra pada pak Asep, security kampus.
"Pagi non Zahra, ini istri saya nitip makanan buat non Zahra" balas pak Asep seraya memberikan kotak makanan titipan istri nya.
"Wah, makasih lo pak. Tapi, ini gak merepotkan yah? setiap hari ibu mengirimkan makanan untuk saya?"
"Enggak kok non, malahan istri saya seneng non Zahra suka masakannya"
Zahra merasa tidak enak, pa Asep dan istri nya terlalu baik kepadanya. Hal ini bermula pada saat pak Asep dan istri nya berbicara di telfon, dan tanpa sengaja di dengar oleh Zahra.
Wanita itu merasa kasian, apalagi melihat pak Asep yang terlihat panik ketika mengetahui anaknya sakit dan tidak memiliki uang di sakunya.
Dengan suka rela tanpa mengharapkan apapun, Zahra memberikan setengah uang jajan yang kakak nya baru kirimkan pada pak Asep, agar anak nya segera di obati.
pak Asep merasa berhutang Budi, dia sangat berterimakasih pada zahra yang sangat baik, cantik pula.
"Saya bawa yah pak"
"Iya non" Zahra menunduk hormat, kemudian berlalu menuju ke kelas nya.
Setiba nya di kelas, senyum Zahra langsung mengembang ketika melihat Fian sudah duduk di kursinya.
"Ehh Tumben kamu cepat datang" Zahra duduk di depan Fian.
Fian pun menoleh, membalas senyum manis zahra yang selalu membekas di hatinya.
"Untuk kedepannya, aku akan selalu datang lebih awal!"
"Lah kenapa? kesambet apa kamu?" ledek Zahra sambil merapikan tas nya di atas meja.
"Kesambet lu"
"Anjir... Kamu pikir aku setan huh, " dengus Zahra pura pura ngambek.
Fian terkekeh pelan, dia senang bisa dekat seperti ini dengan wanita pujaan hatinya.
"Zahra, apa tidak ada kesempatan bagiku mendekati kamu lagi?"
"Huh?" Zahra tergagap, dia belum siap untuk membahas pertanyaan ini dengan Fian. Jantung nya berdegup cepat.
"Fian, ak-"
"Hy guys, pagi pagi udah pacaran aja ni!" goda Risa menghampiri mereka berdua.
"Apaan sih Ris,siapa yang pacaran!" sangkal Zahra tersenyum malu pada Fian.
"Belom pacaran kok Ris, tapi sebentar lagi!" sahut Fian membuat Zahra semakin malu.
"Cieee ... Aduh, bakalan jadi nyamuk ni aku!"
"Ih apaan sih, udah ayo sini makan. Tadi istri pak Asep ngasi aku bekal lagi" alih Zahra membuka kotak makan dari istri pak Asep. Mereka melahap habis makanan yang super enak.
__ADS_1
"Uuu kangen rumah deh, istri pak Asep ini pinter banget masak" puji Risa, dia mengambil potongan terakhir rendang ayam yang akan di ambil Fian.
"Ih Fian, kok kamu mau rebut sih!" sungut Risa langsung memasukkan potongan terakhir ke dalam mulutnya.
Zahra tertawa pelan, dia mengulurkan kada Fian potongan ayam di tangan nya. Fian pun langsung melahapnya melalui tangan Zahra.
"Makasih sayang, UPS" Fian menutup mulutnya, kemudian tercengir. Tanpa sengaja dia keceplosan memanggil Zahra sayang seperti waktu SMA dulu.
"Cieee....."
Zahra menunduk malu, dia mengalihkan perhatian nya pada ponsel yang sejak tadi bergetar.
"Siapa yang mengirim pesan?" pikirnya.
...----------------...
Jerico baru saja selesai meeting, di mendapat pesan dari istri nya.
'Mas, besok ayah sama ibu datang. Jadi Zahra akan tidur di rumah kita yah'
'Oh iya, kamu tolong jemput Zahra ke kos nya'
Jerico mengernyitkan dahi membaca pesan kedua dari istri nya.
'Kamu kapan pulang, kita jemput bareng aja' Jerico
'Aku pulang besok mas, gak sempat jemput Zahra' Sirena.
'Okelah'
"Masuk!"
Ceklek.
Seorang pria berjas hitam melangkah masuk dan berdiri di hadapan Jerico.
"Bos" sapa pria itu setelah menunduk hormat.
"Bagaimana,apa sudah siap?"
"Sudah boss, ada beberapa data rahasia yang harus di ambil oleh boss sendiri!"
"Baiklah, kirimkan alamatnya. Aku akan datang ke sana sendiri "
"Baik bos" pria itu langsung mengambil ponselnya dan mengirimkan alamat pada Jerico.
"Sudah boss"
Jerico memeriksa ponselnya, lalu memberikan kode pria itu di perbolehkan pergi.
Jerico pergi ke sebuah alamat yang anak buah nya kirimkan, di melihat alamat itu sangat dengan dengan kos Zahra. Jadi, dia memutuskan untuk menjemput Zahra lebih dulu.
Sesampainya di depan kos Zahra, Jerico langsung menghubungi gadis itu agar segera keluar.
Cling.
__ADS_1
Setelah menghubungi Zahra, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk.
Mata Jerico memanas,emosinya seketika naik ke ubun ubun. Namun, harus tetap dia tahan.
Tak berapa lama, seseorang mengetuk kaca mobilnya.
Tuk tuk!
Jerico menurunkan kaca mobilnya, seraya membuka kunci mobil agar Zahra bisa masuk.
"Loh,kok kakak Jerico yang jemput? kak Sirena mana?"
"Masuk!", titah Jerico dengan nada dingin, tatapan matanya juga sinis.
Zahra terkejut, namun dia tetap masuk dan memilih untuk tidak bersuara.
Jerico melajukan mobilnya, Zahra mengerut kaget melihat jalan yang mereka tempuh bukan menuju ke rumah kakaknya.
"Loh, kok lewat sini kak?"
"Aku ada urusan!" jawab Jerico singkat, membungkam mulut Zahra untuk tidak bertanya lagi.
Setelah beberapa saat, akhirnya mobil Jerico berhenti di sebuah rumah. Rumah siap itu, Zahra tidak tahu.
"Tunggu di sini, aku tidak akan lama m"
"ok"
Zahra menunggu di dalam mobil, Jerico masuk ke dalam rumah itu. Seperti yang dia katakan, Jerico hanya 5 menit berada di dalam rumah itu. Dia kembali dengan membawa map biru di tangan nya.
"Apa aku terlalu lama?"
"Tidak" jawab Zahra pelan.
"Bagus lah, kita akan makan dulu baru setelah itu pulang" tutur Jerico tanpa meminta persetujuan dari Zahra.
"Oke" Sebenarnya Zahra tidak ingin makan, dia sedang tidak berselera makan. Apalagi melihat sikap kakak iparnya yang mendadak aneh. Namun, dia tidak mau membantah nya, karena di bantah pun percuma.
Mobil Jerico berhenti di sebuah restoran. Saat Zahra akan turun, tiba-tiba Jerico menahan pergelangan tangannya.
"Ada apa?" tanya Zahra heran.
Jerico tidak menjawab, tatapan matanya lurus ke depan.
"Kak Sirena?" gumam Zahra kaget saat ia mengikuti arah pandangan mata sang kakak ipar.
"Jangan turun!" cegah Jerico. Wajahnya memerah menahan amarah.
Jerico melajukan mobil nya mengikuti kemana arah istri nya dan seorang pria pergi.
Sedangkan Zahra, dia terlihat sangat syok. Kakak nya tega berselingkuh dengan mantan kekasihnya.
"Kenapa kakak melakukan semua ini, kakak tidak seperti ini sebelumnya" pikir Zahra mulai panik. Dia sesekali melirik kakak iparnya yang sedang mengemudi. Mata nya fokus menatap mobil hitam yang membawa istri nya.
"Apa yang akan terjadi, ya tuhan. Semoga ini hanya mimpi" harap Zahra memegang dadanya.
__ADS_1
"Turun!"