Zahrah (Korban Pembalasan)

Zahrah (Korban Pembalasan)
Sirena Selingkuh??


__ADS_3

Zahra terkejut melihat mobil hitam itu berhenti di sebuah hotel.


Sirena keluar dari mobil hitam itu di bantu oleh Raditya. Kemudian, mereka saling bergandengan mesra masuk ke dalam hotel.


"Turun!" titah Jerico mengagetkan Zahra.


"Tidak kak, aku tunggu di sini saja!" tolak Zahra dengan suara bergetar.


"Turun!" Jerico menarik paksa tangan Zahra.


"Iya iya kak, aku turun!" jawab Zahra yang hampir terjatuh karena tarikan kasar Jerico.


Zahra terseok Seok mengikuti langkah cepat Jerico menuju ke meja resepsionis.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" sapa wanita yang bertugas menjaga meja resepsionis ramah.


Jerico menanyakan pada wanita itu kamar atas nama istri nya. Namun, setelah di cek oleh petugas itu. Dia tidak menemukan penyewa kamar hotel atas nama Sirena.


Jerico terlihat bingung, dia sudah jelas melihat Sirena dan pria bajingan itu masuk ke dalam hotel ini.


"Mungkin atas nama orang lain?" ujar wanita resepsionis itu.


"Raditya... Raditya Biantore" ucap Zahra menyebutkan nama mantan kakak nya.


Wanita resepsionis langsung mengecek nama yang Zahra sebutkan.


"Kamar atas nama Raditya Biantore ada di lantai 15 nomor 203" ucap wanita itu memberitahu.


"Terimakasih " ucap Jerico langsung menarik Zahra menuju ke lift.


Ketika mereka masuk ke dalam lift, Zahra langsung menepis tangan Jerico yang mencengkram kuat pergelangan tangannya.


"Kamu tahu siapa pria itu, kenapa kamu tidak memberitahu ku!" gumam Jerico mencengkram rahang Zahra kuat.


"Lepas kak, sakit!" Zahra meringis kesakitan.


Ting.


Jerico melepaskan cengkraman tangannya di rahan Zahra, kemudian menarik paksa tangan Zahra mencari kamar no 203.


Zahra tertatih tatih, langkah Jerico terlalu panjang, dia kesulitan mengikutinya. Hingga mereka tiba di sebuah kamar dengan nomor 203.


Jantung Zahra berdegup kencang, dia berharap kakak nya tidak ada di dalam kamar itu.


Brak! Brak!!


Jerico menggebrak kasar pintu kamar hotel itu. Hingga terdengar suara pintu terbuka.


"Siapa?" Raditya muncul, Jerico langsung mendorong nya masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Siapa kalian! Zahra?" Raditya terkejut melihat keberadaan Zahra bersama pria asing itu.


"Dimana istri ku!" teriak Jerico mencari keberadaan Sirena yang ternyata duduk di atas ranjang di baluti selimut tebal.


"Jerico?" gumam Sirena terkejut, matanya melebar kuat melihat kehadiran suami dan juga adiknya di kamar hotel ini.


"Bedebah!"


Bug!


Bug!


Jerico menghajar Raditya, meluapkan emosi yang beberapa hari ini dia tahan. Dugaan dan bukti bukti yang anak buah nya ternyata benar.


"Kakak, apa yang kakak lakukan!"


"Zahra, kakak bisa jelaskan. Kamu..."


Zahra tidak mendengarkan kakak nya, dia melirik Jerico yang terus menghantam Raditya. Jika dibiarkan saja, bisa bisa Jerico membunuh Raditya.


"Kak Jerico sudah cukup!!" teriak Zahra. Namun, Jerico sudah di makan oleh emosi, dia tidak akan mendengarkan apapun.


"Sirena, aku menunggu penjelasan mu!" ucap Zahra melirik pada kakaknya yang masih bingung sambil memeluk selimut tebal nya.


Dengan sekuat tenaga yah entah datang dari mana.Zahra mendorong Jerico keluar dari kamar hotel, lalu menarik nya masuk ke dalam lift.


"Mana kunci nya?"


Jerico memberikan pada Zahra, dia yang masih di kuasai emosi menghempaskan tubuh pada jok mobil.


Huh!


Zahra merasa bersyukur, ternyata tidak sia sia dia belajar mengemudi dengan Risa.


"Apa yang terjadi, kenapa semuanya kacau!" sesekali Zahra melirik Jerico yang memejamkan mata. Seperti nya dia sedang mengendalikan emosi nya.


Sesampainya di rumah, Jerico langsung masuk ke dalam kamar.Sesangkan Zahra, dia langsung ambruk di lantai.


Kejadian hari ini benar benar membuat dirinya syok. Apa yang Zahra takutkan terjadi, terakhir kalo dia melihat sebuah pesan mesra masuk pada ponsel kakaknya.


Sekarang, semuanya terjadi. Besok ibu dan ayah akan datang. Apa yang harus dia jelaskan pada mereka berdua tentang Sirena dan Jerico.


Drrttt...


Ponsel Zahra terus berdering, namun gadis itu terlihat enggan untuk menerima nya. Dia tahu itu adalah panggilan dari Sirena. Sejak tadi wanita itu terus menghubungi nya.


"Arrgg... kakak, kenapa kakak melakukan semua ini. Kurang apalagi sih kak Jerico, dia baik, romantis, tidak pernah mengekang kakak. Tapi, kenapa kakak melakukan semua ini!" Zahra benar benar tidak menyangka Sirena bisa melakukan semua ini.


Semenjak kejadian sore itu, Jerico tidak pernah keluar dari kamar nya. Zahra berusaha untuk tidak peduli, dia meyakinkan dirinya bahwa ini adalah urusan rumah tangga mereka.

__ADS_1


Namun, di sisi lain. Hati nya malah khawatir dengan keadaan kakak iparnya itu. Zahra tahu betul, Jerico sangat mencintai kakaknya. Tapi, kakaknya malah seperti ini.


Oh astaga, siapapun yang berada di posisi Jerico pasti akan hancur.


"Non Zahra, tuan sejak kemarin belum keluar, tuan juga belum makan apapun" ucap kepala pelayan melapor pada Zahra.


"Coba bibi antar ke kamarnya saja" balas Zahra.


"Baik non"


Kepala pelayan itu pun membawa makanan ke kamar Jerico. Detik berikutnya terdengar suara yang memekakkan.


Prank!


Buru buru Zahra berlari menghampiri kepala pelayan itu, memeriksa apakah dirinya baik baik saja, atau mendapat luka dari Jerico.


"Bibi baik baik saja?"


"Iya non, saya baik baik saja" jawab wanita itu dengan senyum palsu, dia sebenarnya sudah biasa dengan situasi ini. Namun, hatinya yang memang lemah membuat tangannya gemetar.


Pelayan itu takut takut kembali masuk ke kamar Jerico membawa sapu dan skop untuk membersihkan pecahan piring dan gelas.


Zahra termangu, dia bingung harus melakukan apa. Sejak kejadian itu kakak nya juga tidak memperlihatkan batang hidungnya. Meninggalkan semua tanggung jawab di pundaknya.


"Apa yang harus aku lakukan??"


...----------------...


Siang hari nya, Zahra tengah duduk di ruang tv. Tiba-tiba kepala pelayan menghampiri dirinya.


"Non Zahra, mohon maaf saya ingin cuti. Anak saya tiba-tiba demam"


"Loh kenapa sama saya bi?" tanya Zahra terkejut, dia bukan siapa siapa di sini, jadi Zahra merasa tidak berhak memutuskan untuk memberi ijin atau tidak.


"Terus, saya harus lapor sama siapa non? nyonya tidak ada, tuan juga sedang seperti itu. Anak saya sedang di rumah sakit non"


Zahra jadi bingung, dia kasihan dengan kondisi kepala pelayan itu, tapi jika pelayan ini cuti, lalu siapa yang akan mengurus Jerico? hanya pelayan ini satu satunya yang dekat dengan Jerico.


"Terus, jika bibi pergi. Siapa yang ngurus kakak?"


"Ada Mita non, dia akan membantu nona" ujar pelayan itu lagi.


"Baiklah, aku akan mengatakan pada kakak jika dia sudah mau di ajak bicara nanti" ucap Zahra pasrah.


"Terimakasih non, kalau begitu saya pamit dulu" Zahra mengangguk pelan, lalu menghembuskan nafas gusar setelah pelayan itu pergi.


Sudah nasib nya menghadapi situasi ini. Kakaknya kabur bersama Raditya, sedangkan dirinya harus mengurus masalah ini.


"Awas saja nanti, jika aku bertemu dengan mu, aku akan menjewer telinga mu sampai putus!" geramnya membayangkan kakaknya berteriak kesakitan ketika dia menghukum nya.

__ADS_1


__ADS_2