
Sesuai arahan pak satpam, Zahra masuk ke sebuah ruangan. Di sana sudah terlihat banyak nya peserta seminar.
"Ramai sekali" gumam Zahra mencari tempat duduk yang kosong.
Beruntung di bagian deretan tengah ada bangku yang kosong. Sehingga Zahra tidak terlalu jauh dari panggung.
"Eh itu kan kak Jerico?" Zahra tersenyum, saat Jerico melihat kearahnya.
"Itu adiknya Sirena" batin Jerico membalas senyum dari sang adik ipar.
Zahra mengikuti seminar dan test dari kampus idaman nya dengan sangat lancar. Dia tidak menyangka, bahwa kakak iparnya merupakan salah satu pembicara terhebat di antara semua pembicara di acara tadi.
"Wah, kak Jerico sangat hebat tadi!" puji Zahra ketika mereka sudah berada di mobil.
"Kamu juga sangat hebat, aku rasa hasil test kamu akan memuaskan"
"Benarkah?" Zahra merasa sangat bahagia. Senyum manis tak luput dari bibirnya.
Selama di perjalanan, Zahra dan Jerico membicarakan soal seminar tadi. Hingga tidak terasa mereka tiba di rumah.
"Ayo Zahra turun lah, koper kamu biar aku yang bawakan"
"Terimakasih kak, maaf sudah merepotkan"
"Tidak masalah, ini sudah kewajiban ku" balas Jerico setelah mengeluarkan koper Zahra dari bagasi, kemudian menariknya masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum"
Zahra membuka pintu rumah kakak dan kakak iparnya sambil mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam" jawab Sirena sambil menuruni anak tangga dengan tidak sabaran.
"Kakak!!" Zahra melompat girang, lalu berlari kecil kearah Sirena dan langsung memeluk sang kakak.
"Kangen banget!!" ungkap nya.
"Kakak juga, kamu sudah makan?"
"Sudah kak, ibu tadi memberiku bekal"
"Benarkah?"
"Tentu!"
Sirena menuntun adik nya ke sofa, memanggil Mita agar membawakan air untuk adiknya.
"Aku mau mandi dulu" ucap Jerico.
"Oh iya mas, makasih sudah menjemput adik ku"
"makasih kak"
Jerico hanya mengangguk pelan, kemudian berlalu begitu saja.
Selepas kepergian Jerico, barulah Zahra bicara bebas dengan kakaknya.
"Wah, rumah kakak gede banget. Ada pembantunya lagi. Sekaya ini kah kak Jerico?" tanya Zahra sambil mengamati kemewahan rumah kakaknya dan suaminya.
"Ini rumah mas Jerico dek, bukan kakak"
"Tapi kan kakak istri nya"
"Yah emang, tetap saja kan. Kakak sebagaimana istri menumpang pada suaminya"
__ADS_1
"Ih perkataan apa itu. Udah ah, selama kak Jerico baik, dan kakak bahagia. Mau harta sebanyak apapun gak akan menjadi Maslaah"
"Oh iya, kakak sekarang kerja lagi?"
Zahra tersenyum pada Mita ketika wanita itu mengantarkan minuman.
"Makasih mba" ucap Zahra.Mita pun tersenyum, kemudian berlalu pergi.
"Iya dek, kakak kerja lagi sama perusahaan kakak lama. Tapi,di kantor pusat nya"
"Benarkah? tidak kah ada kak Raditya di sana?"
"Sttt..."
Zahra terkejut, kakak nya tiba-tiba membekap mulutnya.
"Jangan bicarakan hal itu di sini, kakak tidak mau mas Jerico salah paham. Nanti, kakak di larang bekerja" bisik Sirena.
Zahra menelan ludah, ada apa ini. Kenapa kakak nya begitu khawatir jika kak Jerico tahu soal Raditya.
Sedangkan Sirena, dia jadi teringat dengan kejadian siang tadi. Raditya memaksa dirinya untuk melayaninya.
Rasa cinta yang sempat tumbuh, kini kembali hidup.
Ya Allah, lindungi hamba. Jangan sampai hamba tergoda oleh rayuan Raditya lagi.
"Kak.." Panggil Zahra membuat Sirena tersentak dari lamunannya.
"Eh iya?"
"Kakak melamun? "
"Tidak dek, sebaiknya kamu istirahat gih. Kamar kamu di sana "
"Sirena, kamu harus hati hati. Jika tidak, semuanya akan hancur. mas Jerico akan sangat marah jika tahu soal ini!" gumam Sirena mengingatkan dirinya.
Sirena masuk ke dalam kamar, dia mendapati suaminya baru saja selesai mandi dan masih mengenakan handuk.
"Sayang"
Jerico mendekat, dia memeluk Sirena dari belakang m Menghirup aroma khas tubuh Sirena dai ceruk leher wanita itu.
"Mas.." lenguhnya berusaha untuk tidak tergoda.
"Kenapa? apa kamu tidak mau?"
"Bukan begitu, aku sudah lapar mas. Sebaiknya kita makan dulu"
"Tapi aku lagi pengen"
"Tapi aku lapar mas"
Sirena tetap mencari alasan, dia tidak mau ngalah dengan suaminya.
Bukan karena tidak mau, Sirena tahu ini dosa. Menolak permintaan suami adalah dosa besar bagi istri.
Namun, Sirena masih ingat tanda yang Raditya tinggalkan di bagian bagian sensitif tubuhnya. Dia tidak mau Jerico melihat itu.
"Yasudah lah, aku akan memakai baju dulu. Setelah itu kita makan"
Senyum Sirena mengembang.
"Kalau begitu aku tunggu di bawah!"
__ADS_1
"Hmm"
Di dalam kamar nya, Zahra mulai menyusun semu pakaian ke dalam lemari yang ada di kamar itu.
Setelah semua nya selesai, gadis itupun memutuskan untuk membersihkan diri sebelum di tidur.
"Seger banget, air nya juga anget" gumam Zahra sambil mengeringkan rambut.
Gadis itu bersiap ingin tidur, saat tiba-tiba Zahra mendengar dering ponsel yang menarik perhatiannya.
"Siapa yang menghubungi aku sih" dengusnya malas mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas.
"Hallo!"
"Hey sayang, kamu kemana aja. Aku dan yang lainnya sejak tadi menunggu kabar kamu. Tapi kamu tidak memberi kami kabar!"
Zahra melihat layar ponselnya. memastikan jika nomor yang menghubunginya adalah nomor yang tidak di kenal.
Namun, suaranya milik Meli.
"Hey, kenapa kamu diam saja?"
"aku hanya heran, kenapa nomor kamu tidak tersimpan di ponsel ku?"
"Oh itu, ini bukan ponsel ku. Tapi, ponsel kakek ku." jawab Meli.
"What? kamu gila yah. masa menelfon aku pake nomor kakek kamu. Nanti kalo kakek kamu ganjen sama aku gimana?" ujar Zahra bercanda.
"Yaudah, kamu jadi nenek muda aku" sambung Meli di ikuti oleh tawa jeni dan hana.
"Apaan sih, ogah banget aku!"
"Kamu sudah sampai kan?" terdengar suara Jeni di sebrang sana..
"Sudah, bahkan aku sudah selesai test nya!"
"Lalu, apa kamu lulus test nya?" kini giliran Hana yang bersuara.
"Belum Hana, hasil nya belum keluar"
"Semoga kamu lulus yah"
"Amin!!!"
Cukup lama Zahra mengobrol dengan teman teman nya. Hingga akhirnya dia menutup telfon, lalu memutuskan untuk tidur.
Di meja makan, Sirena dan suaminya tengah makan malam. Terlihat suasana mereka terasa canggung.
Jerico tampak diam seja sejak Sirena menolak permintaan nya tadi.
"Dia marah karena hal tadi?" pikir Sirena.
"Mas udah selesai?" tanya Sirena terheran. Jerico tidak nambah atau pun menghabiskan makanannya.
"Aku sudah kenyang!" jawab Jerico berlalu pergi.
Fyu..
"Dia seperti nya marah" pasrah Sirena menatap kepergian sang suami.
maafin aku mas, jika aku menerima ajakan kamu. Mungkin kita akan perang.Aku tahu, aku salah sudah mengkhianati kamu, tapi aku terpaksa, aku tidak bisa menolak pesona Raditya.
Sirena membereskan meja makan, setelah itu baru lah dia menyusul suaminya ke kamar.
__ADS_1