Zahrah (Korban Pembalasan)

Zahrah (Korban Pembalasan)
Ayah mulai siuman


__ADS_3

"Apa sudah ada kabar dari Zahra?"


Risa menggeleng, Zahra masih belum membalas pesan darinya.


Fian mendesah pelan, entah kemana dia harus mencari Zahra.


"Sudahlah Fian, aku yakin. Nanti Zahra pasti akan menghubungi kita"


"Sampai kapan Risa, aku tu khawatir kalo dia sampai kenapa kenapa"


"Kamu tahu kan, ini kota besar. Dia hanya punya kakaknya di sini"


"Yah mungkin dia bersama kakak nya" celetuk Risa membuat sebuah pemikiran masuk ke benak Fian.


"Benar, kak Sirena. Aku harus menghubungi dia"


Baru saja Fian memegang ponselnya, dia kembali menghembuskan nafas berat.


"Kenapa?" tanya Risa heran.Fian tidak jadi menghubungi kakak Zahra.


"Aku tidak memiliki nomor ponselnya" jawab Fian lirih.


Risa menepuk kening nya,


"Kamu menyukai Zahra sejak SMA, tapi kamu malah tidak memiliki satu hal pun tentang Zahra!" omel Risa tidak habis pikir.


"Mau bagaimana lagi Risa, Zahra sangat cuek pada ku."


"Bahkan aku sempat memendam dendam kepadanya"


Bug.


Sebuah tangan langsung melayang ke jidat Fian. Membuat kepala pria itu terhuyung ke belakang.


"Kamu gila ya. Cinta tidak pernah berhubungan dengan dendam! "


"Jika kamu memiliki dendam, itu artinya kamu tidak mencintai Zahra!"


"Cinta tak harus memiliki, asalkan dia bahagia, pasti kita ikut bahagia" ucap Risa mengomeli Fian.


'Seperti aku kepada kamu, mencintai dalam diam. Asal kamu bahagia bersama Zahra, aku akan mendukung kalian' sambung Risa di dalam hatinya.


"Yah bagaimana lagi, hati ku begitu sakit ketika dia menolak ku" lirih Fian .


"Ah sudah lah, terserah kamu saja. Aku mau cabut dulu" dengus Risa berlalu pergi meninggalkan Fian sendiri di taman kampus.


"Huh, kamu gak tahu rasanya. Makanya kami bisa bilang begitu" cibir Fian menatap kepergian Risa.


Sementara itu, di rumah sakit. Zahra menunggui ayah nya yang masih tertidur di rumah sakit.


Semenjak masuk rumah sakit seminggu yang lalu, ayah nya masih belum siuman.


Lastri terus menangis, meratapi suaminya yang tak kunjung siuman.


Seperti saat ini, ketika Zahra kembali dari kantin rumah sakit, membeli makan siang untuk ibunya. Zahra mendapati sang ibu tengah menangis sambil menggenggam tangan ayah nya.


"Ibu" panggil Zahra mengelus pelan bahu ibu nya.


Lastri menoleh, dia menghapus cepat air matanya. Dia tidak mau memperlihatkan kesedihan di depan putri bungsunya.

__ADS_1


"Ayo kita makan, ibu jangan nangis terus."


"Ayah pasti sedih jika dia tahu ibu menangis" bujuk Zahra. Dia membawa ibu nya menjauh dari ranjang tempat ayah nya berbaring.


Mereka duduk di kursi yang di sediakan oleh pihak rumah sakit untuk para keluarga yang menjaga pasien.


"Ini Bu, makan dulu." ucap Zahra menyuguhkan nasi bungkus dengan lauk ayam goreng ke sukaan ibu nya.


Lastri hanya menatap makanan itu, dia terlihat tidak berselera makan.


"Ibu, di makan yah nasi nya. Biar ibu kuat, dan bisa menjaga ayah"


"Ayo bu, makan. Sedikit saja"


Zahra mengangkat sendok, berusaha untuk menyuapi ibunya.


Namun, Lastri kembali menggelengkan kepalanya. Di tidak ingin makan.


"Bu, "


"Maaf Zahra, ibu benar benar tidak ingin makan!" tolak Lastri dengan berlinangan air mata.


Zahra terenyuh, dia tidak tahan melihat ibu nya meneteskan air mata seperti ini.


"Ibu, jangan nangis dong. Zahra jadi sedih"


"Udah yah, jangan nangis lagi"


"Hiks.. Bagaimana ibu gak sedih nak. Ayah kamu koma, kakak kamu entah di mana" lirih Lastri masih dengan buliran air mata.


"Sudah Bu, jangan pikirkan wanita itu lagi. " Zahra menghapus air mata ibunya.


"Ibu, Jerico tidak salah. Kakak yang sudah keterlaluan. Jadi, ibu jangan memikirkan wanita tidak tahu diri itu!" tegas Zahra.


Deg.


Zahra dan Lastri terkejut, mereka langsung menoleh kearah ranjang rumah sakit saat mendengar suara Gunawan.


"Ayah!"


"Mas.."


"Kamu sudah sadar mas?"


Kedua wanita itu tersenyum haru.


"Aku akan memanggil dokter" gumam Zahra berlari keluar .


"Dokter!!"


"Dokter!!"


Zahra berteriak memanggil dokter, sehingga salah satu suster menghampiri dirinya.


"Ada apa nona, apa yang terjadi?"


"Suster, tolong panggilkan dokter. Ayah saya sudah sadar!"


"Baiklah nona"

__ADS_1


Zahra kembali berlari menuju ke ruang rawat inap ayahnya, bersamaan dengan itu Dokter dan suster ikut bersamanya.


Dokter langsung memeriksa kondisi kesehatan Gunawan yang mulai membaik.


"Bagaimana dok, keadaan suami saya?" tanya Lastri.


Sang dokter menghembuskan nafas lega.


"Kondisi tubuh pasien sudah kembali normal. Jantung nya juga sudah normal"


"Hanya butuh beberapa pemeriksaan lagi, pasien sudah di perbolehkan pulang" jawab sang dokter menjelaskan.


Zahra dan Lastri bernafas lega mendengarnya. Syukurlah Gunawan sudah mulai membaik.


"Kalau begitu, kami permisi dulu"


"Terimakasih dok" balas Zahra.


Zahra tersenyum menatap sang ayah, dia benar-benar merasa lega dengan kondisi sang ayah yang sudah membaik.


"Ayah jangan banyak pikiran dulu yah. Ayah harus istirahat yang banyak, biar bisa pulang" ucap Zahra.


"Iya mas, aku juga gak betah lama lama di rumah sakit. Bikin jantung ku kedap kedip" sahut Lastri sedikit membuat lucu, agar suasana mereka sedikit longgar.


Gunawan tidak bergeming, seperti apapun Lastri dan Zahra membuat lelucon, dia tetap tidak merasakan sedikit kegembiraan.


Di dalam benak Gunawan hanya ada satu. Mengapa putri pertama nya bisa berbuat hal yang keji itu.


Zahra menggenggam tangan ayah nya. Dia tahu, jika ayahnya sedang memikirkan sang kakak.


"Ayah, apa yang sedang ayah pikirkan?" tanya Zahra lembut.


"Kakak kamu, kenapa dia bisa melakukan semua ini!" jawab Gunawan, suaranya terdengar datar. Bahkan, bagi siapapun yang mendengarnya, pasti dia dapat merasakan adanya rasa kecewa dari nada suara Gunawan.


"Zahra ngerti kok, ayah pasti kepikiran sama kakak"


"Tapi, ayah harus jaga kesehatan ayah juga"


"Lihat tu ibu, dia sudah gak betah mencium aroma obat obatan di rumah sakit"


Zahra berkata lembut, sangat lembut. Jerico yang mendengar ucapan nya dari luar pun ikut merasakan kelembutan itu.


Niat nya ingin menjenguk sang mertua. Namun, ketika ingat betapa kecewanya dia pada Sirena, Jerico jadi mengurungkan niatnya.


Alhasil, Jerico hanya berdiri di depan pintu kamar rawat Gunawan.


Andai saja Sirena tidak melakukan semua ini, mungkin dia akan senang hati menjenguk mertuanya itu.


Ceklek.


Zahra terkejut, saat dia membuka pintu ingin keluar. Dia bertemu dengan Jerico yang hanya berdiri di depan pintu.


"Loh, kakak kok gak masuk?" tanya Zahra heran.


Gadis itu menutup pintu, dia takut ibu dan ayah nya mendengar kedatangan Jerico, dan akan jadi masalah jika tahu Jerico tidak masuk.


"Sedikit niat untuk menjenguk, namun setelah ingat kelakuan bejat kakak mu. Aku jadi enggan" jawab Jerico dingin, seakan menghantam sebuah belati ke ulu hati Zahra.


Gadis itu merasakan sakit ketika ucapan pedas dan tajam kakak iparnya terhadap dirinya

__ADS_1


Dia tahu, semua ini di sebabkan oleh kakaknya. Namun, ketika telinganya mendengar langsung, entah mengapa Zahra merasa sangat sakit di hatinya. Entah itu karena malu, atau juga kecewa atas perlakuan kakaknya.


"Maaf kak, aku juga tidak menyangka kak Sirena melakukan semua itu" balas Zahra lirih.


__ADS_2