Zahrah (Korban Pembalasan)

Zahrah (Korban Pembalasan)
Mendapat Pekerjaan


__ADS_3

Pukul empat sore, kegiatan ospek pun di bubarkan. Zahra bersiap untuk pulang. Dia bersama Risa berjalan menuju ke loker untuk mengambil tasnya.


"Badanku sakit banget, ini bukan OSPEK namanya tapi, pembunuhan secara perlaha!"dengus Risa sambil memegang bahunya yang terasa sakit akibat tadi dia di suruh oleh senior mengendong teman regunya yang lumayan gendut.


"Sama. Aku juga, rese banget nggak sih"timpal Zahra.


"kamu mah masih mending, tu cowok kurusan. La aku? badan sebesar itu malah nyuruh aku yang gendong" kesal Risa.


"Itu sih nasib kamu,"ledek Zahra tertawa lepas. Dia memang sangat bersyukur krena bisa satu regu dengan Fian Yang sangat perhatian.


"Ayo kita pulang!"ajak Zahra mengandeng lengan Risa menuju ke parkiran.


"Ayo Aku antar!"tawar Risa pada Zahra.


"Nggak usah rumahku deket, jalan kaki 10 menitan juga sampai" Tolak Zahra sambil menunjuk arah kosan nya yang memang sangat dekat.


"Kita makan dulu yuk baru pulang.." Ajak Risa. Zahra tampak berpikir dulu sebentar, lalu menerima ajakan sahabat barunya.


Tanpa sepengetahuan kedua cewe itu, seseorang mengerutkan kening melihat kepergian mereka berdua.


"Kemana mereka? Kenapa Zahra bisa langsung percaya gitu aja sama orang, kalau tu cewek bukan cewek yang bener gimana, bisa terjerumus tu anak"gumamnya. Dengan cepat dia pun berlari ke mobilnya.


Risa mengajak Zahra makan di cafe kakaknya.


"Ayo kita makan di sini aja" kata Risa pada Zahra sembari turun dari mobil. Di ikuti oleh Zahra.


Saat mereka melewati pintu masuk ke dalam cafe, tanpa sengaja Zahra melihat selembaran lowongan pekerjaan tertempel di pintu kaca cafe itu.


Zahra berhenti, dia membaca syarat dan bidang apa yang di butuhkan pada lowongan pekerjaan itu. Melihat Zahra berhenti, Risa ikut berhenti.


"Kamu lagi apa Ra?"tanya Risa ikut membaca lowongan pekerjaan itu.


"Sa, kamu liat nggak. Cafe ini lagi nyari karyawan" ucap Zahra senang.


"Terus?"Risa yang tidak mengerti.


"Tc, terus aku akan melamar kerja di sini Sa. Kebetulan aku juga lagi nyari kerja part time gitu" jelas Zahra.


"kamu mau kerja?"tanya Risa.


"Iya, aku mau belajar mandiri dan meringankan beban keluarga ku" ucap Zahra mantap. Risa pun tersenyum mendengar ucapan Zahra. Dia sedikit tersentuh mendengar ucapan tulus Zahra.


"Kalau gitu ayo."Risa menarik tanga Zahra masuk ke dalam cafe dan menemui seseorang.

__ADS_1


"Kamu mau membawa aku kemana?"tanya Zahra mengikuti langkah kaki Risa yang terbilang cepat.


Risa menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Zahra.


"katanya kamu mau nyari kerja? Yaudah ayo" Risa dengan lancangnya membuka pintu yang bertulisan Owner.


"Tc, kebiasaan kalau masuk nggak ketuk pintu?"Dengus orang yang sedang duduk di kursi kerjanya.


"Sorry aku lupa" kata Risa nyengir.


"Hmm... Ada apa kamu kesini?" Orang itu mengangkat wajahnya. Pandangan matanya menangkap sosok yang tidak pernah dia lihat.


"Rencana sih aku cuma mau makan sama temanku. Tapi karena teman ku lihat pengumuman di depan, dia tertarik makanya aku langsung ke sini"jelas Risa yang sekarang sudah berdiri di depan abangnya.


"Beneran kamu mau kerjaan itu?"tanya Ricky pada Zahra.


"Iya kak" jawab Zahra mantap.


"Terima ya bang, dia mau hidup mandiri dan aki juga mau kerja bareng dia" ucap Risa merengek pada Abang nya.


"Kerja apaan kamu? Kamu yakin bisa kerja? Bisa apa emangnya?"tanya Ricky pada Zahra.


"Hm... Abang butuhnya posisi apa? Aku bisa cuci piring, nyapu dan mesak" jawab Zahra menyebutkan keahlian nya.


"Kamu bisa masak Ra?"tanya Risa tak percaya. Zahra mengangguk mengangguk cepat.


"Apa aku boleh masuk saat pulang kampus, bang?"tanya Zahra memastikan, soalnya sejak tadi dia belum mengatakan pada Ricky dia seorang mahasiswi.


"Boleh karane di sini sistem kerjanya hitung jam, jadi semakin cepat kamu masuk maka semakin besar pula gajinya."jelas Ricky. Zahra pun mengangguk mengerti, dia merasa sangat senang. Akhir dia punya pekerjaan dan bisa meringankan beban keluarga, terutama untuk kakaknya.


"Baiklah, kalau gitu kita makan dulu ya abangku ganteng . Makasih Atas bantuannya" Risa menarik Zahra keluar dari ruangan Abang nya.


"Dasar bocah" Ricky mendengus kesal melihat sikap adik nya yang semena mena kepadanya.


~_~


Keesokan harinya, Zahra berangkat ke kampus masih sama seperti sebelumnya , dia menyapa panitia yang menatapnya ramah.


Saat Zahra menyimpan barangnya di loker, dia di kagetkan dengan datangnya Fian yang tiba - tiba sudah berdiri di hadapannya.


"Hai selamat pagi..."sapa pria itu, mulut Fian sangat gatal ingin memanggil Zahra dengan sebutan sayang. Tapi dia berusaha untuk tidak melakukan nya. Dia tidak ingin membuat Zahra kembali ilfil. dengannya seperti masa SMA dulu.


"Iya pagi" balas Zahra dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Kamu udah selesai?"tanya Fian dan Zahra menjawab dengan anggukan.


"Kalau gitu Ayo kita bareng ke lapangannya." Fian dan Zahra berjalan beriringan ke lapangan, di sana sudah banyak mahasiswa dan mahasiswi yang sedang berdiri dan asik ngobrol dengan teman - temannya.


Zahra tidak seperti kemaren yang hanya diam., sekarang dia sudah bersama Fian, mulutnya pun tak berhenti mengoceh pada pria itu.


'Jadi seperti ini rasanya dekat dengan lo Ra' batin Fian sambil tersenyum menatap Zahra yang sedang berbicara.


...----------------...


Sepanjang OSPEK Fian tidak pernah melepaskan Zahra, bahkan saat ada seorang senior yang ingin mendekati gadis itu dengan cepat Fian menjauhkan Zahra dari pria itu.


"Fian kita ke kantin dulu ya, atau kamu mau ikut bareng kita?"kaya Zahra saat dia dan Risa ingin pergi ke kantin.


"Aki ikut, laper juga ni perut" jawab Fian.


"Ok, yok" mereka pun berlalu ke kantin. Setibanya di kantin Fian menawarkan diri memesan makanan untuk Zahra dan Risa.


"Zahra, dia itu sahabat kamu dari SMA atau gimana?"tanya Risa penasaran. Sejak Awal Risa melihat Fian sangat perhatian dan seakan ingin selalu bersama dengan Zahra.


"Nanti aku ceritain, ceritanya panjang." jawab Zahra yang kembali memperhatikan Fian yang sedang mengantri.


"kamu suka ya sama dia?"tebak Risa.


Deg!


Zahra langsung menoleh kearah Risa, " jangan sembarangan kalau ngomong" tungkas Zahra.


"Jangan bohong sama aku" Goda Risa semakin menjadi saat melihat semburat merah muncul di kedua pipi Zahra.


"apaan sih Ris, Entar kalau Fian nya denger, bisa salah paham tahuuu" ujar Zahra,


Zahra tahu Fian cinta kepadanya, namun itu dulu. Sekarang, dia tidak tahu apakah pria itu masih menyukainya atau tidak. Mengingat bagaimana dulu dirinya melukai hati Fian.


...----------------...


Di kantornya Jerico tampak gusar, dia penasaran dengan hasil penyelidikan anak buahnya.


"Kenapa dia lama sekali memberi kabar" gerutunya tidak sabaran.


"Semoga saja, semua ini hanya ketakutanku saja" gumamnya berusaha untuk positif thinking.


Jerico mengusap wajahnya kasar, " aku nggak tahu harus bertindak seperti apa jika Sirena sampai melakukan seperti apa yang aku duga."

__ADS_1


Jerico tidak menyangka, di saat kisah cinta nya baru saja di mulai. Kekuatan rumah tangga nya mulai di uji.


"Semoga kamu tidak melakukan kesalahan yang membuat cinta menjadi benci Sirena" gumam penuh harap.


__ADS_2